Sunday, December 18, 2016

Oprek Blog Dasar Bareng Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta



"Membaca, Menulis, dan Menginspirasi. Itulah yang menjadi quotes kopdar Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta kali ini. Bertempat di Perpustakaan Umum Daerah Jakarta Selatan, Jl. Gandaria Tengah V No.3, RT.2/RW.1, Kramat Pela, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12240. 


Sesuai judul, kopdar kali ada adalah oprek blog dasar, dengan pembicara adalah si blogger cilet-cilet Citra Rahman atau biasa dipanggil dengan Ocit, pemilik dari https://hananan.com/
Ocit ngebahas dasar-dasar blog dengan telaten dan sabar. Ngebahas benar-benar dari awal banget. Tentang nulis, tentang blog walking, tentang ngebuat blog, tentang pengalaman dia nulis, juga tentang kamu. Loh mulai keluar dari bahasan lagi saya!




Kembali ke topik, banyak pendatang baru dari luar klub, di ikuti kurang lebih 30 peserta yang mana banyak peserta baru dari luar klub. Para peserta tersebut  juga yang berkesempatan membuat blog saat kopdar, Dibantu step by step oleh sang pembicara dan panitia.
Sungguh, jujur dari hati. Kopdar kali ini saya enggak bisa nyimak dengan telaten, karena apa? Karena sebelah saya yaitu kak Ndari (http://ndarikhaa.blogspot.co.id/)

Bawel banget! Asli dia rusuh banget. Awalnya dia cuma nanya tentang header gambar pada blogspot, terus udah saya ajarin sana-sini. Sampai di Adobe Photoshopnya untuk mengatur sizenya tuh eh lama-lama ujungnya malah mempercantik blog dia. Sampai ngoprek-ngoprek customize tempelate blognya juga oprak-aprek HTMLnya. Mau enggak mau ujungnya ngoding lagi.


Nah, pas dia oprak-aprek sendiri, kebetulan banget si Ocit lagi cerita tentang dia jalan-jalan di endorse sama Dinas pariwisata Jawa Tengah. Jadi, dia jalan-jalan terus dia nulis tentang pengalaman tripnya ke Jawa Tengah. Banyak macemnya, ada Menapak Tilas Cinta & Rangga di Gereja AyamParade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 KEREN!, dan masih ada lainnya yang enggak bisa disebutkan disini karena ini blog saya bukan blog si Ocit.


Pas lagi seru-serunya dengerin Ocit lagi, Kak Ndari buat masalah lagi. Dia buat halaman blognya jadi judul aja. Nah kan, akibat ke-sotoynya dia yang merajalela. Terpaksa saya berpaling lagi dari Ocit dan ngurusin Kak Ndari. Maafkan aku Cit, tapi hatiku tetap padamu! Alah!
Selain Ocit ada juga sharing dari teman-teman yang pernah jalan-jalan gratis lalu buat review tulisan. Contohnya, Kak Rizki (http://bangbdoel.blogspot.co.id/) beliau bareng teman-temannya dari Id Corners berkesempatan berjalan-jalan ke pulau seribu dan itu gratis! 



Kopdar ditutup dengan sesi kuis, tadinya saya mau ikutan jawab apalagi saat pertanyaan domain dan hosting tapi apalah daya saya masih sibuk ngurusin Kak Ndari dan blogspotnya. Saya tunjuk tangan tapi saya sendiri malah enggak fokus ke depan, malah fokus kesamping. Tadinya mau saya cuekin tuh Kak Ndari, tapi dia malah muji-muji saya. Yaudah saya sebagai teman yang lemah pujian, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, rajin kangenin si dia jadinya bantuin Kak Ndari ajalah. Hitung-hitung nabung pahala biar cepat nikah sama si dia.



Begitulah cerita kopdarku kali ini, maafkan aku yang tidak terlalu fokus. Dan tak lupa saya berterima kasih kepada Ocit selaku pembicara, Mas Achi (https://achihartoyo.wordpress.com/) Bang MT (https://petouring.net/) dan juga Mbak Endang (https://c1ppy85.wordpress.com/) selaku para panitia yang sudah bersusah-susah mengurus kopdar dan makanan untuk hari ini. Terima kasih juga untuk teman-teman Kubbu BPJ yang sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke kopdar kali ini. Sampai jumpa lagi dilain waktu, tempat, dan juga kesempatan! 


Salam, Pipi Bolong.

Ereveld Ancol, Pemakaman Belanda di Tepi Kota Jakarta #EREVELDSERIES




Ada dua Ereveld di Jakarta, yaitu Menteng Pulo dan Ancol. Ereveld Ancol terletak didalam kompleks Ancol, dekat dengan Mall ABC dan pantai Lagoon. Persis disamping pantai Lagoon. Diresmikan pada 14 September 1946, menampung kurang lebih 2000-an prajurit.

Ereveld Ancol cukup unik, berada 50 meter dibawah permukaan laut. Begitu memasuki Ereveld Ancol pada sisi kiri terdapat tembok yang membatasi lahan kuburan dengan air laut. Sementara sisi kanan terdapat pendopo untuk beristirahat dan makam-makam prajurit.

Pada nisan prajurit terdapan Onbekend, yang artinya tidak memiliki nama, juga ada nisan yang bertuliskan Banjarmasin, Kendari, dan kota lainnya. Itu artinya mereka awalnya dimakamkan dikota tersebut.

Bersama pak Dicky, pengawas Ereveld Ancol, kami dari backpacker Jakarta berkeliling Ereveld. Pak Dicky sendiri ternyata tumbuh besar dilingkungan Ereveld, masa kecilnya berada di Ereveld Pandu, Bandung. Segera akan saya tulis tentang Ereveld Pandu!


Bersama Pak Dicky

Tidak hanya makam prajurit Belanda yang dimakamkan disini, tapi ada juga makam orang Indonesia. Yaitu makam profesor Mochtar.

Profesor Mochtar merupakan direktur lembaga Eijkman, lembaga penelitian Biologi di Jakarta pada masa kependudukan Belanda. Profesor Mochtar sendiri dituduh oleh Jepang karena tuduhan pencemaran vaksin. Walaupun tidak terbukti bersalah, Prof Mochtar tetap menyerahkan diri kepada Jepang demi melindungi lembaga penelitian dan teman-temannya.

Selain makam Profesor Mochtar, ada juga pohon eksekusi. Sebenarnya itu adalah yang disebut pohon surga (Hemelboom) yang dijadikan tempat eksekusi oleh Jepang, jadilah disebutnya pohon eksekusi. Pada pohon tersebut terdapat puisi karya Laurence Benyon (Binyon) berjudul “For the Fallen"


Hemelboom

They shall not grow old

as we that are left grow old

Age shall not weary them

nor the years condemn

at the going down of the sun

and the morning

We shall remember them

We shall remember them

Antjol 1942 – 1945 










Sama seperti Ereveld lainnya, di Ereveld Ancol juga terdapat Monumen. Monumen tersebut bertuliskan "Hungeest Heeft Overwonnen" yang artinya semangat mereka telah menang.




Pada Ereveld Ancol terdapat monuman atau pusara lebih tepatnya, yaitu pusara  Luuth Ubels, Luuth Ubels sendiri merupakan korban salah tangkap. Jadi awalnya yang akan dieksekusi adalah saudara laki-lakinya tapi karena kawanan Jepang tidak menghetahui wajah dan jenis kelamin yang akan dieksekusi jadilah Luuth Ubels yang di eksekusi karena dikira Luuth Ubels adalah target mereka padahal yang menjadi target adalah saudara laki-lakinya yang sama-sama bernama Ubels juga.

Berkeliling Ereveld Ancol lumayan buat capek juga, padahal luas pemakaman ini kurang lebih 1 hektar saja. Berbeda dengan Menteng Pulo yang lumayan besar. Berkeliling sambil mendengarkan cerita Pak Dicky ternyata cukup memakan waktu. Tak terasa hari sudah mulai siang dan tandanya sudah waktunya masuk destinasi selanjutnya. Berikut beberapa foto di Ereveld Ancol, dan nantikan postingan selanjutnya yaitu Ereveld Pandu, Bandung!









Baca juga #EREVELDSERIES:

Saturday, December 10, 2016

Sunday, November 27, 2016

Travelling kabur? Jangan coba-coba!




Biasanya cerita saya tentang jalan, nyasar, ngebolang kesana kemari itu seru, indah, dan bahagia. Tapi kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman yang bisa dibilang cukup menyedihkan.


 Pasang mata, fikiran, dan juga hati kalian.


Akhir September lalu, saya jalan-jalan ke Bandung. Tapi bukan jalan-jalan biasa, melainkan ‘kabur’. Iya, kabur. Beneran tanpa izin orang tua. Pasti buat kalian sepele kan, orang cuma Jakarta-Bandung, enggak ada izin ya enggak masalah.


Tapi semua berubah ketika negara api menyerang, kapal gonjang-ganjing dilautan, dan dedaunan bertebaran tak seperti biasanya. Dari berangkat saya pulang itu kualat! Iya, kualat banget deh.


Saya memang sudah meniatkan untuk akhir September ke Bandung, awalnya saya minta izin sama orang tua. Sehari sebelum saya berangkat ke Bandung, saya minta izin nyokap. Tapi, nyokap tidak mengizinkan, saya cuek aja. Tetap berkemas, dan berfikir paling besok juga udah dapat izin. Sambil berkemas, saya nelfon travel, sana-sini tidak dapet travel. 


Kualat pertama saya.


Tapi saya orangnya cuek, saya niat banget besok tetap jalan dan yakin bakal dapat izin dari nyokap. Saya memutuskan untuk naik bus.


Pagi harinya, saya pamit ke bokap depan nyokap, berharap bakal dapat izin. Saya yakin sebelumnya bokap bakal ngizinin dan kalo bokap ngizinin kan udah pasti nyokap ngizinin juga, 


TAPI.......


BOKAP ENGGAK KASIH IZIN!


Emosi jiwa, batin, raga saya saat itu. Saya memutuskan tetap jalan apapun yang terjadi. Setelah bilang gitu, saya kabur gitu aja naik gojek yang saat itu emang udah saya pesan. Bokap saya Cuma geleng-geleng kepala dibelakang (sekilas saya liat kebelakang).


Banyak cara untuk ke Bandung, saya memutuskan untuk naik primajasa dari lebak bulus. Harganya itu Rp 70.000 tetapi, saya tidak naik langsung dari lebak bulus, males saya masuk terminal. Saya memutuskan untuk naik dari pondok pinang.


Sejam, dua jam, dari jam 07.00 saya nunggu, enggak dapat juga busnya.


Kualat kedua saya.


Setelah dua jam lebih nunggu, akhirnya saya dapat juga busnya. Udah dong, perkiraan saya itu paling zuhur sampai Bandung, atau menjelang Ashar lah. Sampai sana saya akan muterin Bandung dulu atau minimal Braga lah, baru numpang tidur di tempat kostan sepupu saya. Niatnya seperti itu.


TAPI.......


Menjelang masuk tol cikarang, bus yang tadinya jalan normal menjadi pelan, macet. saya fikir waktu itu wajar dong, mau masuk tol kan yah jadi wajar. Eh, setelah ngelewatin pintu tol tetap aja macet.


Saya fikir, ah planet lain, wajar macet.


Tapi, ternyata macetnya enggak Cuma sejam dua jam, dan enggak cuma diplanet lain juga. Sampai masuk ke tol karawang pun juga tetap macet.


Tahukah berapa jam yang saya habiskan untuk perjalanan ke Bandung?


9 JAM PERJALANAN KURANG LEBIH. BANDUNG RASA JOGJA!


Tau gitu saya kaburnya ke Jogja aja!


Kebayang enggak tuh? Badan pada pegel 9 jam. Dijalan saya kelaparan, mana saya punya maag, berasa nahan perih, enggak sedia minuman apalagi camilan. Belum lagi pas mau sholat, mau enggak mau saya sholat dibus padahal cuma ke Bandung aja. Usut di usut ternyata ada 2 kecelakaan yang mengakibatkan macet berjam-jam itu.


Itu kualat ketiga saya.


Apakah sudah berakhir? Belum.


 Sesampainya di leuwi panjang, saya makan disebuah rumah makan sambil menunggu maghrib tiba. Nah, saya fikir paling kayak makan diwarteg, eh gataunya abis hampir Rp 50.000


Kualat keempat saya.


Saat itu saya belum ngabarin sepupu saya bahwa saya di Bandung, saya fikir toh dia kan jomblo yah paling juga dirumah. Enggak akan malam mingguan, anak kecil mau kemana sih palingan juga dia ngurusin skripsinya dikostan. Fikir saya waktu itu.


Maka saya memutuskan untuk jalan-jalan di Braga malam, seperti niat saya waktu itu. Baru ke tempat kost sepupu saya. sekitar pukul 20.00 saya telfon sepupu saya dan bilang saya di Bandung, mau numpang nginep.


Eh ternyata dia lagi jalan sama teman-temannya.


Yaudahlah saya nungguin dia dengan nongkrong sana-sini di Braga, saya fikir sampai jam 21.00 atau lebih dikitlah. Eh gataunya hampir jam 00.00 saya nungguin. Kebayang enggak? Saya udah capek ngantuk, lapar, totalitas banget deh.


Kualat ke lima saya.


Setelah sampai kost sepupu saya, saya berfikir untuk telfon nyokap minta maaf, sebelom kualatnya lanjut sampai besok. Eh saya gengsi kan. Yaudah deh saya tidur aja.


Esok harinya cerah, saya fikir akan cerah sampai sore dong, saya berniat akan melanjutkan jalan-jalan hari ini mengunjungi Ereveld Pandu (nantinya akan diceritakan di #EREVELDSERIES), tapi apa yang terjadi pemirsa?


HUJAN DERAS TURUN. LENGKAP SUDAH KUALAT SAYA.


Selanjutnya? Udahlah nanti aja ceritanya. Sedih kalo diceritain mah. Intinya jangan kayak saya ya kalian! Jangan pergi kalo tidak ada izin dari orang tua atau kalian akan merasakan sedih sepanjang saat perjalanan kalian. Masih untung pas berangkat saya cuma kena imbas macet kecelakaan, lah kalo bus saya yang kena celaka? Enggak bisa dibayangkan banget deh. Udah berantem sama orang tua, kabur, kena celaka, belum sempat minta maaf. Ah jangan sampai deh!


Pada intinya, izin orang tua itu perlu banget. Sesepele apapun itu, sedekat apapun itu, restu orang tua itu perlu. Karena tanpa restu nantinya pasti ‘kualat’. Sekian dan terima kasih sudah mau mendengarkan curhat panjang lebar saya, semoga kalian enggak kayak saya.
By the way, cerita ini akan bersambung di lain hari dan kisah dalam 2 bagian, yaitu tempat wisata di Bandung yang instagramable dan #EREVELDSERIES. See you there!


                                                                                                                                                                
---Bersambung---  





Saturday, November 19, 2016

Ereveld Menteng Pulo, Pemakaman Belanda di Tengah Kota Jakarta #EREVELDSERIES

Ereveld Menteng Pulo. Ada 7 Ereveld di Indonesia, Menteng Pulo, Ancol, Leuwi Gajah, Pandu, Kalibanteng, Candi, dan Kembang Kuning. 3 di antaranya sudah saya kunjungi dan akan saya ceritakan, dimulai dari sini, Ereveld Menteng Pulo.

Ereveld Menteng Pulo merupakan pemakaman Belanda, lebih tepatnya pemakaman korban perang jaman dahulu, jaman sebelum saya lahir pastinya. Ereveld ini berlokasi di Jl Casablanka no 1.

Nah kebetulan pas trip ini saya adalah PIC trip tersebut, seperti biasa bawa anak-anak backpacker Jakarta juga. Ereveld Menteng Pulo ini enggak bisa sembarangan masuk, harus ada perizinan dulu, apalagi kan ini punya Belanda. Perizinannya lumayan buat saya pusing karena harus menggunakan bahas Inggris, apalagi saya bukan orang yang mahir berbahasa Inggris tapi mahirnya berbahasa perasaan. Yasudah, untungnya saya enggak sendiri mengurusnya, ada teman saya yang jadi PIC trip tersebut dan ujung-ujungnya dia juga yang ngurus perizinan ke Ereveld Menteng Pulo tersebut secara total, hahahaha.

Perizinannya langsung ke yayasan yang mengurus pemakaman tersebut, yaitu OGS atau Oorloch Gravenstichting (Yayasan Makam Kehormatan Belanda). OGS terletak di Panglima Polim, tapi kami tidak usah kesana, cukup dengan mengirimkan perizinan via email, dan dengan bahasa Inggris tentunya.

Setelah perizinan dan hari eksekusi tiba, yasudah kami capcus saja kesana. 40 orang pas kesana. Tidak boleh lebih dan kurang, sesuai dengan isi email kita. Bahkan ya, sebelum berangkat kesana, kami diwanti-wanti kalo telat harus mengabari dari 1-2 jam sebelumnya. Sumpah disiplin abis!

Sesampainya disana kami disambut dengan guide yang asli Belanda, namanya adalah Evelyn. Kami memanggilnya dengan Ms Evelyn. Disinilah saya mulai merasa bodoh banget dengan Bahasa Inggris saya yang pas - pasan karena Ms Evelyn ini menjelaskan dengan bahasa Inggris. Pasrah sudah dengan nasib.


Bagian depan Ereveld Menteng Pulo

Ereveld Menteng Pulo. Untuk memasuki area pemakaman ini banyak sekali tata tertibnya, tapi yang paling penting adalah dengan tidak berfoto dengan nisan yang kelihatan namanya. Jadi kalo mau foto ya bagian belakang nisan aja yang polos.

Awalnya kirain pemakaman ini isinya hanya nasrani saja karena dari luar kelihatannya seperti itu. Ternyata pas masuk itu ada muslim juga, ada budha juga, bahkan yahudi juga ada. Malah juga ada tempat penyimpanan abu kremasi untuk mereka yang mempercayai kremasi sebagai jalan menuju Tuhan.

Area pemakaman muslim

Tempat penyimpanan abu kremasi

Ada gereja ditengah pemakaman ini, tapi gerejanya tidak hanya ada salib saja dipuncaknya, ada bulan dan bintang, ada simbol angin, ada juga bintang daud dan simbol yinyang.


Halaman gereja

Gereja tersebut tidak digunakan sebagai acara keagamaan, malah digunakan sebagai acara kenegaraan bagi bangsa Belanda khususnya. Didalam gereja tersebut ada sebuah salib yang didatangkan dari Burma, terbuat dari kayu bantal kereta api.


Isi dalam gereja

Pemakamannya rapi bersih, dan tertata rapi, tidak ada pesona angker disini. Boro-boro angker, malah terasa seperti di taman kalo saya bilang mah. Abis asri banget hehehe. 



Di dalam pemakaman tersebut ada lonceng, juga ada rosarium, yaitu tempat para pengunjung makam yang ingin beristirahat. Tak kalah juga ada monumen-monumen yang dibangun untuk mengenang para korban perang tersebut.


Lonceng



Rosarium untuk istirahat




Opdat Zij Met Eere Mogen Rusten
(Semoga mereka beristirahat dalam kehormatan)


Tidak banyak yang saya bisa dokumentasikan dan saya jelaskan disini, selain karena saya yang tidak begitu mengerti dengan penjelasan sang guide yang menggunakan beda bahasa, saya juga sibuk ngurusin peserta hilir mudik kesana kemari. Semoga ada kunjungan kedua kalinya ke Menteng Pulo ini supaya otak saya yang pas - pasan bisa mengerti. Tunggu edisi Ereveld selanjutnya, Ancol yang tak kalah serunya!