Cerita si Pipi Bolong

,

Sebuah Cerita Dibalik Kata Pindah


Dunia tak boleh tau kamu sedang babak belur. Dunia hanya boleh tau kamu masih tegak dan tak hancur selepas badai menerjang. — Taufik Aulia

Saya masih tidak bisa percaya, saya masih berdiri kuat hingga saat ini. Setelah sekian lama diruntuhkan oleh cerita-cerita yang tidak pernah bisa untuk dilepas maupun digenggam. 

Setelah sekian lama berhenti menulis, hari ini saya mencoba untuk kembali menulis. Meluapkan rasa dalam kata, melukiskan perasaan dalam kalimat, meskipun tak bisa sepuitis Kahlil Gibran atau Sapadi Djoko Purnomo. Saya hanya kembali menulis.

Setahun sudah blog ini saya anggurkan. Banyak cerita dan perjalanan yang terlewatkan. Mulai dari ujung pulau Jawa, hingga titik nol Ibukota baru. Saya tidak mau bercerita panjang lebar, saya hanya ingin bercerita tentang pindah.

Iya, pindah. Kata yang selalu menghantui saya selama setahun belakangan. Yang selalu saya ucapkan namun tidak pernah saya terapkan. Hingga akhirnya Tuhan turun tangan dalam kepindahan ini.

Dari pindah itulah cerita ini dimulai.

Awal Maret 2020, saya menerima sebuah chat yang menghancurkan kejiwaan saya. Hanya sebaris kalimat namun mampu membuat saya merasa menjadi serpihan abu. Cukup mengguncang kehidupan saya, cukup membuat dunia saya menjadi gelap dalam seketika. Itulah titik awal di mana saya memutuskan untuk benar-benar pindah. 

Makan tidak lagi selera, bekerja tidak lagi fokus. Banyak perselisihan yang terjadi dengan rekan kerja, emosi dengan keluarga, pun merasa tidak ingin ada dalam sebuah kerumunan.  Hampir selama seminggu saya seperti orang mati. Sempat memutuskan juga untuk pergi ke tempat yang jauh. Setiap malam berdoa agar jauh, agar pindah.

Minggu kedua setelah hancur, ada sebuah tawaran untuk penugasan pindah keluar kota. Saya langsung mengiyakan tanpa berfikir panjang. Secercah harapan muncul dalam kehidupan saya. Merasa Tuhan mendengar semua pinta saya.

Akhir Maret, surat keputusan tugas perpindahan saya turun. Semarang, tujuan saya untuk berpindah. Saya tersenyum-senyum saat menerima SK tersebut. Teringat, tahun lalu saat liburan ke Semarang saya sempat berfikiran untuk bekerja di sana. Dan terealisasikan setahun kemudian.

Tapi ternyata pindah tidak semudah itu. Seminggu pertama saya baik-baik saja. Saya memutuskan untuk kost ketimbang menempati rumah dinas. Saya butuh sendiri, selama saya masih belum bisa mengendalikan perasaan saya ini. 

Minggu kedua, saya mulai tidak merasa nyaman. Saya cari permasalahannya. Saya merasa kost yang saya tempati tidak membuat saya nyaman. Tidak membuat saya betah. Maka saat itu juga saya mencari kost baru. Alhamdulillah, langsung mendapatkannya. Tidak buang waktu, keesokan harinya saya langsung pindah. Meski saya sudah membayar full di kost lama. 

Masuk minggu ketiga, saya mulai merasa baik-baik saja. Hanya isi kantong yang sedikit tidak baik karena berpindah-pindah tempat. Tapi tidak apa, masih bisa saya atasi.

Minggu keempat, minggu saat saya menulis ini. Saya mulai memasuki masa kosong lagi. Minggu yang lumayan berat setelah perpindahan saya. Surat edaran tidak boleh pulang ke kampung halaman turun, padahal saya sedang homesick. Saat ini memang ada pandemi yang mewajibkan seluruh masyarakat di rumah saja. Kelak akan saya catat, saya pernah merana berminggu-minggu karena pandemi ini.

Berhari-hari setelag surat edaran itu turun saya mulai merasa kosong lagi. Kerinduan akan keluarga dan dia membuat saya merasa sendu kelabu. Video call tidak mampu memulihkan rindu yang memuncak itu. Lalu tiba-tiba terpikirkan sesuatu;

Untuk apa pindah jika masih berkomunikasi? Untuk apa pindah jika masih memendam rasa tanpa berusaha melupakan? Untuk apa pindah? Jangan sia-siakan kepindahan ini, banyak yang sudah dikorbankan. 

Saya berusaha mencari tahu jawabnya kini.

Minggu, 26 April 2020. Semoga pandemi ini lekas berakhir.
Share:
Read More