Cerita si Pipi Bolong

,

Pertanyaan Hati


Baru beberapa waktu lalu saya bertanya kepada seorang teman, "Bagaimana cara kamu mengikhlaskan masa lalu padahal kamu selalu bersama masa lalu itu dan bagaimana kamu menjalani hidup dengan seseorang yang baru kini?"

Dia menjawab, "Tidak pernah lupa dan tidak pernah ikhlas La. Yang sekarang pun dijalani dengan setengah hati masih bersama yang lama."

Saya hanya bisa diam dan tak lagi membalas. Pun saya hingga kini masih termangu, "Bagaimana bisa seseorang menjalani kehidupannya dengan orang lain namun setengah hatinya masih berada di masa lalu?"

Apakah menjalani dengan orang lain belum tentu sepenuhnya kita sudah move on? Belum tentu sepenuhnya kita sudah ikhlas? 

Saya masih bertanya hingga kini, apakah ada orang yang bisa berjalan dengan sebelah hatinya masih tertinggal di masa lalu? Adakah orang yang benar-benar ikhlas menerima masa lalu yang hanya jadi puing kenangan?

Saya sepenuhnya tidak ingin seperti itu.

Saya ingin menjalani kehidupan saya tanpa ada beban masa lalu. Namun memang, hingga kini saya masih belum bisa melepaskan masa lalu saya. Masih ada rasa yang kian hari kian membesar. Masih ada rindu yang selalu bertambah setiap waktu.
 
Beberapa orang menyuruh saya untuk menjalani hidup dengan seseorang yang baru. Tapi saya tidak ingin. Bagi saya, itu hanya lari dari masalah. Hanya mencari kebahagiaan sesaat. Dan hanya menambah masalah saja. Saya tidak ingin itu.

Saya tahu, sulit bagi saya untuk melepaskan masa lalu saya, tapi bukan berarti tidak bisa, bukan berarti tidak mampu. 

Saya ingin bahagia.

Itu sayang selalu saya ucapkan kepada diri saya. Namun sayangnya, itu hanya sugesti. Bahagia tidak, perih pun kerap kali menghantui.
Dari semua itulah saya memulai untuk kembali menulis, untuk kembali mencurahkan segala rasa yang menderu. Dan untuk menjadikannya cerita di hari nanti, bahwa ada seseorang yang pernah saya cintai begitu besarnya hingga menjadikan saya seseorang yang tidak waras untuk melupakan dia di hari ini. 

Minggu, 15:45. 
Saya masih merindukanmu, tanpa syarat dan tanpa jeda sedikitpun.

Salam, Pipi Bolong.

Share:
Read More
,

Mungkin Kamu Lupa



Pernah berkali-kali merasa kecewa yang berkepanjangan tiada henti? Pernah berfikir bahwa hidup ini sudah tidak ada artinya lagi? Ketika sesuatu yang diperjuangkan tanpa henti dengan penuh pengorbanan menjadi sia-sia.

Saya pernah.

Dan kini merasakannya lagi.

Selama hampir dua tahun saya memperjuangkan perasaan seseorang, namun segalanya hilang dalam sekejap mata. Masih teringat sebelum kejadian itu, saya masih video call, masih bertemu setiap minggu, bahkan beberapa hari sebelumnya masih dalam suasana yang sangat baik-baik saja.

Kemudian, tiba-tiba dia hilang. Pagi hari sebelumnya dia masih menjalin kontak dengan saya, siang sampai dengan malam hari tidak ada kabarnya. Sampai saya harus menghubungi keluarganya, takut terjadi  sesuatu dengan dia. 

Tapi ternyata, ketika dia datang kembali, dia mengatakan sudah memiliki seseorang yang baru di hidupnya. Segala permintaan maaf dia lontarkan, saya hanya mampu diam tanpa menjawab apapun segala ucapan dia.

Hampir dua tahun saya menjalin cerita bersama dia, hampir dua tahun segala suka duka saya percayakan kepada dia. Dan kini, dia patahkan begitu saja.

Ingin marah? Bahkan untuk menangis pun sudah tak mampu lagi, ketika komitmen dipatahkan oleh orang baru yang bahkan baru kenal dua minggu. Selemah itukah pertahanan hatinya dalam menerima cobaan hati? 

"Aku dan kamu kan selama ini udah selesai, kamu saja yang terus tidak bisa pisah dari aku." Begitu jawabnya setiap kali saya bilang hati saya hancur. 

Mungkin hati kecilnya sudah mati rasa terhadap saya. Membuang segala kenangan indah yang tidak pernah lagi akan terulang. Mungkin hatinya sudah lupa, beberapa hari sebelumnya saya menemaninya di bawah derasnya hujan sambil bersenandung tentang cinta. Mungkin dia lupa, seberapa besar cintanya kepada saya dahulu, dan seberapa besar pengorbanan saya untuk dia dahulu.

Mungkin dia lupa, ada hati yang selalu dia janjikan untuk tetap bersama.

Teruntuk kamu; sudahlah, tak usah lagi meminta maaf dan menjanjikan kembali jika memang tak mampu. 

Salam, Pipi Bolong
Share:
Read More
,

Keresahan Social Media



Setelah berbulan-bulan saya menghilang dari dunia tulis menulis akhirnya kembali lagi! Yes! Kembalinya saya ke dunia maya setelah mulai resah dengan apa yang ada di dunia nyata. Sebagai seorang social media officer yang rajin banget buka social media corporate tapi social media sendiri jarang diurus, sejujurnya rindu juga. Tapi begitu buka social media, males juga. Tahu kenapa?

Kali ini saya ingin menceritakan tentang keresahan saya tentang social media yang sudah tak menyenangkan lagi seperti dahulu. Social media yang penuh dengan ujaran kebencian juga kebohongan. Saling serang satu sama lain, saling sindir satu sama lain. Terutama soal politik. Merasa paling tahu daripada yang lain, merasa paling benar daripada yang lain. Serasa sudah menjadi pakar, bicara tak lagi di perhatikan. Sudah perang satu sama lain. Enggak capek?

Begitu buka facebook, semua bahasan kubu kanan-kiri mendominasi beranda. Si ini begini, Si itu begitu, lelah adek tuh bang lihat yang seperti itu. Instagram masih santai, masih banyak yang posting tentang style, fashion, food, travelling, dan kisah menyenangkan hidupnya. Begitu buka twitter, sadar dunia api sudah menyerang. 

Bahkan perdebatan tentang politik bukan hanya di media social seperti facebook, twitter, ataupun instagram. Grup Whatsapp pun juga mendominasi. Contohnya, saya ikut salah satu grup pengajian di perumahan saya. Hampir setiap hari isinya politik yang penuh dengan kebencian. Asli, capek melihatnya.  Yang tadinya, saya biasa-biasa aja jadi malas karena setiap hari kebencian ditebarkan.

Social media seharusnya digunakan untuk bersosialisasi, silaturahmi satu sama lain dalam dunia maya. Bukannya menjadi tempat perdebatan, pertengkaran, penyebaran hoax, apalagi sampai harus bermusuhan.

Saya hanya berharap semua ini segera berlalu, udah yang ribut di social media cukup ribut di social media aja ya, cukup!


Salam, Pipi Bolong.
Share:
Read More