Saturday, May 14, 2022

Patah #Cerpen

Sumber; pexels.com


Jakarta, Juni 2020
 

"Aku bertengkar lagi dengan pacarku, diblock lagi." sebuah pesan kukirim padanya yang selalu menjadi tujuan terakhir setiap kesedihan datang menimpaku.


"Ya bagus, block balik saja." Jawaban singkat yang menurutku bukan solusi. Kuhela nafas sesaat, dan kubiarkan ponselku terbaring di atas kasurku.


------


Surabaya, Oktober 2020


"Aku putus lagi." Lagi-lagi kukirimi dia seutas pesan singkat. 

"Ya bagus. Kamu tidak lagi terjebak dalam hubungan tidak sehat itu." Lagi-lagi kuterima jawaban pesannya yang tidak memberiku solusi, kupejamkan mataku untuk sesaat. 

"Dika, ayo ketemu, temani aku nangis. Aku sedang di sini." Kutengok jam dinding, masih pukul 19.00 WIB, belum terlalu malam untuk keluar rumah.

"Aku sedang di luar kota, Minggu depan saja." 

"Lain kali saja kalau gitu." Aku matikan ponsel dan mulai terbenam dalam tangis.


Dika, orang yang aku datangi hanya setiap aku susah dan sedih. Setiap aku dalam kondisi yang baik-baik saja, baru jarang ingat dia. 

Setelah bertahun-tahun hidup bersama orang tua, pekerjaan mengharuskanku untuk menetap di kota ini selama dua tahun terakhir. Dan Dika menjadi orang pertama yang menemaniku ketika aku mendaratkan kakiku di kota ini.

------

Malang, Awal Desember 2020

"Sudahlah, tidak usah diingat-ingat lagi. Masih banyak ikan di laut." komentar Dika setelah aku bercerita panjang lebar tentang bagaimana berakhirnya hubunganku. Akhirnya aku bertemu dengan dia, setelah berbulan-bulan mengurung diri.

Aku hanya tersenyum dan tidak membalas kata-katanya. Kususuri langkah demi langkah alun-alun Malang, tempat kami bertemu malam itu.

"Jam segini Malang udah sepi ya. Beda sama Jakarta yang hidup setiap waktu. Rasanya aku kesepian terus di sini. Tapi kalo untuk hari tua nanti, lebih baik tinggal di Malang memang. Tenang dan sepi." 

Alih-alih membalas perkataannya, aku lebih memilih mengomentari kota tempat dia membawaku pergi malam ini, menghilang sejenak dari hiruk-pikuknya Surabaya.

"Fisikmu di sini tapi hatimu di Jakarta. Jadi ya setiap saat pasti terasa sepi, walaupun banyak orang lalu-lalang menemanimu."

Kuhentikan langkahku dan kutengok dia di sampingku yang juga menghentikan langkahnya. Ada rasa yang tidak karuan saat bertatapan mata dengannya. Walaupun sering bertemu dan beradu pandang, aku tidak pernah merasa seperti ini.

“Dika, aku mulai jatuh hati. Tapi entah dengan perasaanmu.

------

Surabaya, Januari 2021


Semakin hari aku dan Dika semakin dekat. Setiap aku ingin melakukan sesuatu, pasti aku meminta dia menemaninya. Dia selalu bersedia setiap aku meminta ditemani kemanapun atau melakukan apapun.

Tidak pernah aku tidak menghubunginya, dalam sehari saja pasti aku menghubungi dia, entah itu hanya pesan singkat atau panggilan seluler. Dia yang tidak pernah marah, dan terganggu setiap aku menghubunginya. Meski kadang aku tahu dia jenuh setiap saat aku hubungi. Maka, aku mulai mengurangi intensitasku, namun tetap menjaga komunikasi.

Hari-hariku bersama Dika, membuat aku lupa akan rasa sakit yang diciptakan oleh masa laluku. Tidak pernah terlintas sedikitpun rasa rindu setelah ditinggalkan begitu saja oleh masa lalu. Dika sudah membuat pikiranku teralihkan sepenuhnya.

Dika tahu tentang perasaanku, namun aku tidak tahu sama sekali apa yang ada dalam hatinya. Bagiku saat itu tidak masalah, yang penting dia selalu bersamaku.

------

Surabaya, April 2021


Dika mulai menjauh. Setiap pesan yang aku kirimkan hanya dijawab singkat olehnya. Setiap aku minta ditemani entah itu kemana, dia selalu saja sibuk. Meski pada akhirnya aku memiliki kesempatan bertemu lagi dengan dia. Rasa rinduku memuncak saat melihatnya. Namun, aku tau ada sesuatu yang berbeda. Terasa sekali ada jarak di antara kita.


Dia seperti orang asing, kembali menjadi seseorang saat pertama kali aku mengenal dia. Saat kami masih hanya menjadi seseorang yang berkomunikasi secara formal dan terasa tidak pernah terjadi apa-apa antara kami. 

 ------

Mei 2022


Setelah pertemuan terakhirku itu, aku sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Dika. Untuk apa mengejar sesuatu yang memang sudah tidak ingin dikejar lagi. Tapi hatiku masih tetap memikirkannya, meskipun tidak lagi bersamanya.


Entah apa salahku padanya. Berkali-kali aku mencoba mencari tahu, namun tetap tak berhasil kutemukan. Namun, kali ini aku tahu jawabannya.


Dia datang kembali, dengan undangan di tangannya. Ternyata selama berbulan-bulan ini dia sibuk dengan dirinya sendiri dan persiapan akan hari bahagianya. Kata maaf keluar dari mulutnya. Aku memaafkan, tapi tidak melupakan.


“Terima kasih Dika, kamu yang menyembuhkan namun kamu juga yang kembali mematahkan.” 

Friday, February 4, 2022

Bersepeda ke Pantai Jodo Batang



"Mbak Lala, minggu depan ada kegiatan sepeda ke Pantai Jodo dari belakang rest area 379A, ikut?" Sekilas ajakan dari rekan kerja sore itu. Segera saja saya mencari tahu jalur yang akan dilewati serta seberapa jauh jarak yang akan ditempuh.

"Sekitar 7KM-an doang kayaknya sekali jalan Pulang pergi 14KM. Ah aman, tracknya juga datar.  Cuma dua tanjakan di akhir pas balik." seru saya dalam hati.

"Oke Bu, Aku ikut!"  

H-1 panitia mendata siapa saja yang memerlukan pinjaman sepeda serta peserta yang memerlukan subtitusi. Subtitusi di sini maksudnya adalah jika kita tidak kuat, akan digantikan oleh orang lain dan kita meneruskan perjalanan dengan motor atau mobil yang tersedia.

Saya sendiri bukan tipe orang yang rajin olahraga. Memang saya pernah beberapa kali bersepeda, namun tidak jauh, hanya sekitar 8KM itu pun sudah pergi-pulang. Belum tentu memang saya kuat karena tidak terbiasa berolahraga. Tapi saya merasa gengsi jika digantikan.

"Aku nggak usah disubtitusi, pinjem sepeda aja. Sepedaku udah kukirim ke Jakarta." dengan pedenya saya berkata seperti itu, dan panitia pun mengiyakan.

Memulai Perjalanan

Hari H, kami pun berkumpul di belakang Rest Area KM 379A. Rest Area ini terdapat di daerah Batang. Panitia menjelaskan tentang rute, peraturan,serta kesehatan dan keselamatan kerja. Ada 3 pos selama perjalanan dari rest area ke Pantai Jodo tersebut. Masing-masing pos berjarak kurang lebih 1-2KM. Di setiap pos akan ada panitia dan tim subtitusi yang bersiaga apabila tidak sanggup meneruskan perjalanan.

22 orang peserta mengikuti kegiatan bersepeda ini. Dari yang boomer sampai milenial pun ikut. Kegiatan tersebut tidak dibagi per-kelompok. Melainkan berjalan saja beriring-iringan depan belakang. Saya menempati urutan ketiga saat berangkat, tepat berada di belakang kepala wilayah saya.

 

Kegiatan terdiri dari 22 peserta


Rute pertama yang dilewati adalah perkebunan pohon karet. Masih aman dikarenakan medannya adalah turunan, jadi tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk awal-awal. Setelah melewati perkebunan karet, tambak ikan dan udang menghiasi pemandangan kanan dan kiri. Rupanya tambak merupakan salah satu mata pencaharian warga desa sini. Setelah melewati kira-kira 4-5 tambak, sampailah kami di pos satu.

Saat itu saya masih di urutan ketiga, seharusnya bisa berhenti di pos untuk beristirahat sebentar apabila lelah. Tetapi, urutan pertama dan kedua tidak berhenti. Maka saya pun gengsi untuk berhenti. Padahal sudah mulai terasa sedikit lelah. Maklum, jarang sekali olahraga.

Setelah melewati pos pertama, hamparan sawah mulai terlihat di mata dan kiri. Setelah tambak, kini mata disejukan oleh sawah yang mulai menguning. Saat itu sepertinya saya tertinggal jauh dari kepala wilayah saya, karena beliau sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.

Maka saya memutuskan untuk beristirahat sebentar dan menikmati pemandangan sambil menunggu teman yang masih di belakang saya. Rombongan pertama lewat dan terdiri dari tiga orang, saya tidak terlalu mengenal mereka. Jadi saya putuskan untuk menunggu teman saya saja. Rombongan kedua lewat, dan saya masih memutuskan untuk tidak ikut. Akhirnya teman-teman saya lewat di rombongan keempat.

Posisinya saat itu para laki-laki di depan dan perempuan di belakang. Saya menempati posisi paling belakang dikarenakan teman perempuan saya tidak terlalu cepat mengayuh sepedanya, daripada dia tertinggal maka saya memilih untuk di belakang dia sambil sesekali mengawasi.

Ketika melewati pos kedua, nampaknya para lelaki sudah tidak sabar menunggu kami. Maka saya persilakan saja mereka untuk jalan terlebih dulu daripada menunggu kami yang lamban ini. Kecepatan mengayuh sepeda saya dan teman saya pun mulai sangat berkurang. Saya sempat menawarkan teman saya untuk disubtitusi di pos ketiga, namun dia enggan. Saya juga tidak mau, gengsi! Lagipula pantai tersebut sepertinya tinggal 2 - 3 KM lagi. Saya masih di posisi belakang untuk mengawasi dia. Sempat terfikir untuk mengayuh lebih cepat dan menyalip, namun saya urungkan karena takut nanti dia ngambek.

Tapi ternyata, mengayuh sepeda pelan-pelan menyenangkan juga. Saya yang awalnya berambisi finish pertama, malah tertinggal jauh di belakang. Tapi saya tidak menyesal, karena bisa menikmati perjalanan dan pemandangan yang tentunya jarang saya temukan selama berada di Jakarta. Sampailah akhirnya kami di pos ketiga lalu Pantai Jodo. Tentunya di barisan paling belakang. Hehehehe.

Pantai Jodo &  Bukit Cinta

Sesampainya di Pantai Jodo, saya memutuskan untuk bersantai di kursi-kursi malas yang disediakan di tepi pantai sambil menikmati segelas kopi sachet yang dijual oleh pedagang sekitar. Sambil bersantai, saya mengamati keadaan sekitar. Saat memasukin pantai jodo, terdapat tugu yang bertuliskan Pantai Jodo berwarna-warni yang sangat iconic, tugu tersebut menjadi salah satu spot favorite oleh para pengunjung.

Setelah kira-kira bersantai kurang lebih dua puluh menit, atasan saya mengajak untuk naik ke Bukit Cinta. Bukit Cinta berada di lokasi yang sama dengan Pantai Jodo, tetapi harus berjalan sedikit lebih jauh ke dalam. 

Namun ternyata, Pantai Jodo dan Bukit Cinta dipisahkan oleh rel kereta api aktif yang menghubungkan Jakarta - Semarang. Selain itu, sepeda tidak bisa dibawa naik ke atas Bukit Cinta karena medannya terlalu curam dan berbahaya. Maka sepeda ditinggal di pinggir rel dan ada panitia yang berjaga di sana. 

Pinggir rel kereta api ini juga merupakan salah satu spot foto terbaik, ketika hendak menyebrang untuk naik ke atas Bukit, banyak juga teman-teman lain yang berhenti sebentar untuk berfoto. 

Saat hendak menaiki Bukit Cinta, awalnya saya ragu-ragu, Saya bukan anak nanjak banget. Saya suka berjalan kaki, namun tidak dengan tanjakan. Terlebih saya habis bersepeda dan kaki masih terasa gemeteran.

 

Tanjakan menuju Bukit Cinta

Namun, rasa penasaran lebih mengalahkan rasa ragu-ragu saya. Memang sedikit berat dan lambat dibandingkan yang lain. Tapi ternyata, pemandangan mengalahkan segala rasa letih saya.

Hamparan laut biru Pantai Utara Jawa terlihat jelas. Bagi kalian yang sudah sering melewati atau datang ke Pantai Utara pasti paham bagaimana warna pantai tersebut. Namun, dari Bukit ini kita bisa melihat warna biru laut tersebut yang hanya bisa kita lihat setelah sekitar 5KM berlayar dari tepi pantai.

Sambil menikmati pemandangan yang maha dahsyat ini, teman saya nyeletuk; “Mbak Lala, tau nggak katanya kalo selfie di sini bisa cepet ketemu jodohnya, katanya sih.” Saat itu saya hanya tertawa-tawa mendengarkannya. Bagi saya, jodoh itu takdir yang datangnya sudah diatur, bukan karena selfie atau mengunjungi sesuatu.

Setelah kira-kira tiga puluh menit di atas sana, kami memutuskan turun dan pulang dikarenakan cuaca sudah mulai terasa sangat panas.

 

Puncak Bukit Cinta

Perjalanan Pulang

Ketika perjalanan pulang, saya dan teman perempuan saya serta istri dari salah satu rekan kerja berada di posisi belakang. Saya tidak lagi berambisi menjadi nomor satu, saya hanya ingin menikmati pemandangan selama mengayuh sepeda.

Dikarenakan mengayuh sepeda dengan santai dan tidak terburu-buru, saya berhasil melewai pos ketiga dan kedua tanpa lelah sedikitpun. Namun, saat mau menuju pos pertama, saya mulai terasa berat dalam kayuhan. Posisi saya saat itu masih paling belakang. 

Ketika sudah melewati pos satu yang artinya tinggal sedikit lagi sampai ke rest area, mendadak kaki saya lemas sekali. Padahal di sana masih ada tanjakan sebelum kebun karet, serta tanjakan di kebun karet sebelum memasuki area belakang rest area.

Semi Subtitusi

Terlihat di depan istri rekan saya sudah dibantu oleh suaminya yang juga rekan saya untuk terus mengayuh di tanjakan, sementara teman saya yang berada tidak jauh di depan saya sudah turun dari sepeda dan menggiring sepeda sembari berjalan. Tertinggal saya di belakang yang masih mengayuh sepeda pelan-pelan karena sudah tidak kuat.

“La, kamu masuk mobil aja, biar digantiin aja naiknya!” Tiba-tiba ada suara dari sebelah kanan saya. Terdengar suara manager saya dari dalam mobil.

“Moh, gengsi aku!” Sambil tertawa saya menolak ajakannya. Dia hanya menertawakan saya sembari membuka pintu mobil, ternyata teman saya tidak kuat dan memilih untuk subtitusi.  

Sambil terus mengayuh akhirnya sampailah saya di pintu perkebunan karet. Sudah tidak kuat lagi, tapi juga enggan untuk disubtitusi. Beruntung ternyata masih ada satu rombongan panitia di belakang. 

Mereka sepertinya paham saya sudah tidak kuat namun tidak ingin diganti. Mereka pun menawarkan bantuan untuk mendorong saya dari sepeda. Jadilah saya tidak digantikan, namun pundak saya didorong oleh salah satu panitia dari sepeda mereka. Saya menyebutnya semi subtitusi, tidak diganti tapi tetap ditolong hahaha.

Akhirnya sampai juga di rest area, manager saya melihat saya dibantu oleh panitia dan menertawai saya. 

“Makan tuh gengsi!” Ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Saya hanya tersenyum-senyum, malu!

 

Salam, Pipi Bolong.

Friday, August 6, 2021

Ada Rindu Dari Kopi Blirik

 

Sumber: Dokumen Pribadi

Terletak di hamparan sawah sejauh mata memandang, itulah Kopi Blirik. Sebuah restoran keluarga yang berlokasi di Jl. Padaan, Ngadirgo, Kec. Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah 50213. Pertama kali kesini cukup kaget, perjalanannya melewati kebun singkong serta hamparan sawah. Ragu, karena akses jalan hanya lumayan kecil dan masuk ke perkampungan rumah warga sekitar.

Tampak Depan Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Dengan interior rumah joglo, begitu masuk kita akan disajikan dengan pendopo-pendopo dan suasana seperti di rumah eyang calon mertua. Ada sepeda onthel, motor jaman dahulu kala waktu orang tua saya masih dalam tahap pacaran, lampu-lampu petromak, sampai kursi kayu rotan. Restoran ini tidak menggunakan AC, karena konsepnya menyatu dengan alam. Kalau aku sama kamu menyatu di buku nikah nantinya.

Salah Satu Interior Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Salah Satu Interior Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Salah Satu Interior Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Salah Satu Interior Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Makanan yang disajikan merupakan makanan rumahan, sistemnya prasmanan. Seperti di dapur keluarga (kita) di rumah. Citarasa  masakan Jawa tersebut sangat terasa rempahnya, ada sayur lodeh, mangut kepala manyung, ayam goreng, belut goreng, sayur bayam, dan masih banyak lainnya. Udah kayak masakan di rumah mertua pokoknya, entah mertua yang mana. 

Menu kesukaan saya di sini (kalau ditraktir) biasanya bebek goreng. Pun karena saya anak kost yang jarang makan bebek yang lumayan mahal, jadi kalau ke sini gratisan saya pasti pilih bebek sih. Untuk harga standard anak kost sebenarnya, bebeknya pun tidak mahal-mahal banget. Saya makan tujuh orang dengan bermacam-macam menu cuma habis sekitar 300ribuan. Hemat banget kan Kak kalau mau bawa pacar ke sini? Seenggaknya kalau putus nggak nyesel karena traktir tidak terlalu mahal.

Selain menu makanan, ada juga macam-macam menu kopi yang disajikan. Ada barista yang siap melayani kopi pesanan kamu. Mau pahit atau manis, siap dilayani dengan amunisi biji kopi yang dipamerkan di meja. Kalau aku sukanya pesan kopi jahe susu, yang rasanya manis karena hidupku sudah terlalu pahit tanpa kamu di sini.

Sekilas laporan pipi bolong tentang Kopi Blirik, pokoknya kalau kamu mau ngopi dengan suasana masih pedesaan di Semarang kota dengan sajian makanan rumahan, cocok banget dateng ke sini. Tapi kalau ke rumah aku jangan lupa bawa hantaran. 

Tampak samping restoran dengan hamparan sawah, sumber: dokumen pribadi

Tampak samping restoran dengan hamparan sawah dan pendopo, sumber: dokumen pribadi

Sekian, salam pipi bolong. 

Thursday, July 1, 2021

Gelato Itu ada di Ungaran! #PipiBolongdiSemarang

Gelato identiknya dengan cuaca panas, sebagai penetralisir dari hawa panas. Tapi gimana kalo makan gelato di atas ketinggian? Udah dingin, malah makan gelato, mirip orang pacaran yang udah enggak bisa diperjuangkan, tapi  tetap dipaksakan ya kan?

Berawal dari perjalanan dinas ke Boyolali, yang awalnya diprediksi sampai sore hari ternyata selesai sebelum tengah hari. Sebagai anak bawang yang suka banget keluyuran, saya minta pulangnya via arteri saja, tidak via jalan bebas hambatan tersebut. 

"Males lewat tol, lurus aja nggak ada lampu merahnya. Hubungan aja suka ada pasang surut macetnya."

Maka, pulanglah kami ke Semarang via arteri mengikuti kemauan anak bawang yang lagi galau ini, sebelumnya makan siang dulu di Iga Bakar Pak Wid. Tapi bukan Iga Bakar Pak Wid yang mau saya ceritakan, saya mau cerita hubungan kita yang pasang surut, eh nggak-nggak!

Pas mau pulang, atasan saya rewel minta gelato. Sepengalaman saya, gelato terdekat adanya di Solo Manahan. Tapi kalo ke Solo dulu kan mesti balik lagi. Bolak-balik putus nyambung kayak orang pacaran aja. 

"Maunya ke arah Semarang (Sampai Sekarang Masih Sayang)!" titah beliau.

Karena sudah disposisi, mau enggak mau saya buka aplikasi google maps. Dan benar saja, rata-rata gelato tersebut adanya di Solo Manahan. Tidak putus asa, kayak saya memperjuangkan dia, terus-terusan. Saya terus scrolling, terus, terus, dan DANG! Ada mantan saya di Ungaran! Eh bukan, ada Gelato Matteo di Ungaran. 

Saya sudah beberapa kali mencoba Gelato Matteo di Semarang sini, dari awal mencoba saya sudah jatuh cinta. Sama seperti saya jatuh cinta pada pandangan pertama ke mantan. Kebetulan atasan saya juga suka dengan citarasa Matteo tersebut. Maka kami memutuskan untuk beranjak ke Matteo. Dikarenakan gelato tersebut dengan Gerbang Tol Ungaran, kami memutuskan untuk kembali masuk tol.

Keluar Gerbang Tol Ungaran, kita ambil ke arah kanan. Awalnya kita kira dekat dengan alun-alun Ungaran. Tapi, lho kok! Melewati alun-alun, lanjut naik ke atas entah ke arah mana. 

"La, ini kamu serius? Ini Indomaret aja enggak ada di sini loh!" -Atasan saya mulai resah.

"Mbak Lala, ini masuk jalan desa loh, serius?" -Rekan saya mulai resah.

"IH BENER KOK INI KATA GOOGLE!" -Saya mulai emosi.

"Wah awas nih Lala, terakhir kali kita ke Banaran sama Londo, dapetnya zonk mulu." Rekan saya yang menyetir mulai resah.

Memang pernah ada pengalaman, saya ajak mereka ke salah satu kafe daerah Ungaran tersebut, ada saja halangannya. Tutup, ramai, dan lain-lain. Malah pernah sampai nyasar jauh. Tapi kali ini entah kenapa saya yakin saja dengan google maps.

Dengan selow saya bilang "Pokoknya kalo ada Matteo di sana, kalian semua traktir gue tiga scoop."

Dan benar saja, ada Matteo setelah melewati bukit kedua. HAHAHAHAHA! Asli puas banget perasaan ini, kayak berhasil move on dari mantan setelah sekian lamanya. 

Saya juga heran sih, ada Matteo di atas ketinggian ini. Dan bukan itu saja, Matteo tersebut menyediakan 16 citarasa es krim. Mulai dari Manis, sampai asam kayak hubungan. Oh iya, toppingnya gratis gaes!

Lokasi tersebut disebut dengan Sunset Area, berhadapan langsung dengan Janji Jiwa Ungaran. Viewnya? Hamparan sawah ada di sepanjang mata, makan gelato sambil melihat petani membajak sawah. Tempat terbaik untuk galau Kak!

And this is it, Gelato Matteo Released on Ungaran!


Salam, Pipi Bolong!







Saturday, April 17, 2021

Declutering of Friends, yay or nay?

 



"Kita berada dalam sebuah lingkaran, dan lingkaran tersebut memilik banyak lingkaran di dalamnya sampai kita ada dalam lingkaran terkecil."

Begitulah kurang lebih seorang teman berkata pada saya saat kami berada dalam google meet Jumat lalu. Sebuah pembicaraan yang cukup ringan namun menyentuh. Topik kami minggu ini adalah "Decluttering of friends".

Patut kita ketahui bahwa hidup kita itu akan sama seperti lima orang terdekat kita. Lima orang yang kita habiskan setiap harinya. Hidup kita kurang lebih akan sama seperti mereka. Maka dari itu kita wajib untuk menentukan circle, siapa saja lima orang terdekat yang boleh masuk ke dalam hidup kita. Siapa saja orang yang menarik kita untuk menjadi lebih baik, atau dengan siapa saja kita harus membatasi diri karena orang tersebut membuat hidup kita tidak bahagia.

Kita sering sekali mendengar tentang toxic friend, dan itu tidak memungkiri bahwa mereka sering berada disekitar kita. Sudah sewajarnya kita menyaring circle kita, harus seperti apa. Bukan malah menarik orang-orang yang toxic.

Satu hal yang saya garis bawahi dalam pembicaraan forum ini adalah, "Carilah teman dalam circle yang outputnya mencari solusi bareng, bukan salah-salahan, bukan ngomporin, bukan cari keributan." Semua tergantung kita, apakah kita mau menyeleksi atau mau terus-terusan terbebani.

Kenyataan yang terjadi dalam hidup saya, bahwa saya sering sekali terbebani dengan ucapan orang lain. Sedikit saja orang lain berbicara tidak enak tentang saya, saya akan terus-terusan memikirkan hal tersebut. Padahal, saya punya hak untuk menutup mata dan telinga saya. Tapi saya memilih untuk meladeni hal-hal yang membuat saya resah. 

Kesimpulan yang diambil adalah sepenuhnya saya menyadari masih mengizinkan orang-orang yang toxic masuk ke dalam hidup saya. Saya masih takut kehilangan, padahal disekitar saya sudah banyak tangan yang mengenggam saya menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, keputusan selanjutnya dalam hidup adalah apakah saya harus tetap mengizinkan orang-orang yang membuat saya terbebani tetap masuk ke dalam hidup saya atau menjaga jarak?

Kalau kamu, setuju dengan declutering friends atau tetap berteman dengan semua orang?