Cerita si Pipi Bolong

, ,

Ada Rindu Dari Kopi Blirik

 

Sumber: Dokumen Pribadi

Terletak di hamparan sawah sejauh mata memandang, itulah Kopi Blirik. Sebuah restoran keluarga yang berlokasi di Jl. Padaan, Ngadirgo, Kec. Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah 50213. Pertama kali kesini cukup kaget, perjalanannya melewati kebun singkong serta hamparan sawah. Ragu, karena akses jalan hanya lumayan kecil dan masuk ke perkampungan rumah warga sekitar.

Tampak Depan Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Dengan interior rumah joglo, begitu masuk kita akan disajikan dengan pendopo-pendopo dan suasana seperti di rumah eyang calon mertua. Ada sepeda onthel, motor jaman dahulu kala waktu orang tua saya masih dalam tahap pacaran, lampu-lampu petromak, sampai kursi kayu rotan. Restoran ini tidak menggunakan AC, karena konsepnya menyatu dengan alam. Kalau aku sama kamu menyatu di buku nikah nantinya.

Salah Satu Interior Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Salah Satu Interior Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Salah Satu Interior Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Salah Satu Interior Restoran, Sumber: Dokumen Pribadi

Makanan yang disajikan merupakan makanan rumahan, sistemnya prasmanan. Seperti di dapur keluarga (kita) di rumah. Citarasa  masakan Jawa tersebut sangat terasa rempahnya, ada sayur lodeh, mangut kepala manyung, ayam goreng, belut goreng, sayur bayam, dan masih banyak lainnya. Udah kayak masakan di rumah mertua pokoknya, entah mertua yang mana. 

Menu kesukaan saya di sini (kalau ditraktir) biasanya bebek goreng. Pun karena saya anak kost yang jarang makan bebek yang lumayan mahal, jadi kalau ke sini gratisan saya pasti pilih bebek sih. Untuk harga standard anak kost sebenarnya, bebeknya pun tidak mahal-mahal banget. Saya makan tujuh orang dengan bermacam-macam menu cuma habis sekitar 300ribuan. Hemat banget kan Kak kalau mau bawa pacar ke sini? Seenggaknya kalau putus nggak nyesel karena traktir tidak terlalu mahal.

Selain menu makanan, ada juga macam-macam menu kopi yang disajikan. Ada barista yang siap melayani kopi pesanan kamu. Mau pahit atau manis, siap dilayani dengan amunisi biji kopi yang dipamerkan di meja. Kalau aku sukanya pesan kopi jahe susu, yang rasanya manis karena hidupku sudah terlalu pahit tanpa kamu di sini.

Sekilas laporan pipi bolong tentang Kopi Blirik, pokoknya kalau kamu mau ngopi dengan suasana masih pedesaan di Semarang kota dengan sajian makanan rumahan, cocok banget dateng ke sini. Tapi kalau ke rumah aku jangan lupa bawa hantaran. 

Tampak samping restoran dengan hamparan sawah, sumber: dokumen pribadi

Tampak samping restoran dengan hamparan sawah dan pendopo, sumber: dokumen pribadi

Sekian, salam pipi bolong. 
Share:
Read More
, , ,

Gelato Itu ada di Ungaran! #PipiBolongdiSemarang

Gelato identiknya dengan cuaca panas, sebagai penetralisir dari hawa panas. Tapi gimana kalo makan gelato di atas ketinggian? Udah dingin, malah makan gelato, mirip orang pacaran yang udah enggak bisa diperjuangkan, tapi  tetap dipaksakan ya kan?

Berawal dari perjalanan dinas ke Boyolali, yang awalnya diprediksi sampai sore hari ternyata selesai sebelum tengah hari. Sebagai anak bawang yang suka banget keluyuran, saya minta pulangnya via arteri saja, tidak via jalan bebas hambatan tersebut. 

"Males lewat tol, lurus aja nggak ada lampu merahnya. Hubungan aja suka ada pasang surut macetnya."

Maka, pulanglah kami ke Semarang via arteri mengikuti kemauan anak bawang yang lagi galau ini, sebelumnya makan siang dulu di Iga Bakar Pak Wid. Tapi bukan Iga Bakar Pak Wid yang mau saya ceritakan, saya mau cerita hubungan kita yang pasang surut, eh nggak-nggak!

Pas mau pulang, atasan saya rewel minta gelato. Sepengalaman saya, gelato terdekat adanya di Solo Manahan. Tapi kalo ke Solo dulu kan mesti balik lagi. Bolak-balik putus nyambung kayak orang pacaran aja. 

"Maunya ke arah Semarang (Sampai Sekarang Masih Sayang)!" titah beliau.

Karena sudah disposisi, mau enggak mau saya buka aplikasi google maps. Dan benar saja, rata-rata gelato tersebut adanya di Solo Manahan. Tidak putus asa, kayak saya memperjuangkan dia, terus-terusan. Saya terus scrolling, terus, terus, dan DANG! Ada mantan saya di Ungaran! Eh bukan, ada Gelato Matteo di Ungaran. 

Saya sudah beberapa kali mencoba Gelato Matteo di Semarang sini, dari awal mencoba saya sudah jatuh cinta. Sama seperti saya jatuh cinta pada pandangan pertama ke mantan. Kebetulan atasan saya juga suka dengan citarasa Matteo tersebut. Maka kami memutuskan untuk beranjak ke Matteo. Dikarenakan gelato tersebut dengan Gerbang Tol Ungaran, kami memutuskan untuk kembali masuk tol.

Keluar Gerbang Tol Ungaran, kita ambil ke arah kanan. Awalnya kita kira dekat dengan alun-alun Ungaran. Tapi, lho kok! Melewati alun-alun, lanjut naik ke atas entah ke arah mana. 

"La, ini kamu serius? Ini Indomaret aja enggak ada di sini loh!" -Atasan saya mulai resah.

"Mbak Lala, ini masuk jalan desa loh, serius?" -Rekan saya mulai resah.

"IH BENER KOK INI KATA GOOGLE!" -Saya mulai emosi.

"Wah awas nih Lala, terakhir kali kita ke Banaran sama Londo, dapetnya zonk mulu." Rekan saya yang menyetir mulai resah.

Memang pernah ada pengalaman, saya ajak mereka ke salah satu kafe daerah Ungaran tersebut, ada saja halangannya. Tutup, ramai, dan lain-lain. Malah pernah sampai nyasar jauh. Tapi kali ini entah kenapa saya yakin saja dengan google maps.

Dengan selow saya bilang "Pokoknya kalo ada Matteo di sana, kalian semua traktir gue tiga scoop."

Dan benar saja, ada Matteo setelah melewati bukit kedua. HAHAHAHAHA! Asli puas banget perasaan ini, kayak berhasil move on dari mantan setelah sekian lamanya. 

Saya juga heran sih, ada Matteo di atas ketinggian ini. Dan bukan itu saja, Matteo tersebut menyediakan 16 citarasa es krim. Mulai dari Manis, sampai asam kayak hubungan. Oh iya, toppingnya gratis gaes!

Lokasi tersebut disebut dengan Sunset Area, berhadapan langsung dengan Janji Jiwa Ungaran. Viewnya? Hamparan sawah ada di sepanjang mata, makan gelato sambil melihat petani membajak sawah. Tempat terbaik untuk galau Kak!

And this is it, Gelato Matteo Released on Ungaran!


Salam, Pipi Bolong!







Share:
Read More
, ,

Declutering of Friends, yay or nay?

 



"Kita berada dalam sebuah lingkaran, dan lingkaran tersebut memilik banyak lingkaran di dalamnya sampai kita ada dalam lingkaran terkecil."

Begitulah kurang lebih seorang teman berkata pada saya saat kami berada dalam google meet Jumat lalu. Sebuah pembicaraan yang cukup ringan namun menyentuh. Topik kami minggu ini adalah "Decluttering of friends".

Patut kita ketahui bahwa hidup kita itu akan sama seperti lima orang terdekat kita. Lima orang yang kita habiskan setiap harinya. Hidup kita kurang lebih akan sama seperti mereka. Maka dari itu kita wajib untuk menentukan circle, siapa saja lima orang terdekat yang boleh masuk ke dalam hidup kita. Siapa saja orang yang menarik kita untuk menjadi lebih baik, atau dengan siapa saja kita harus membatasi diri karena orang tersebut membuat hidup kita tidak bahagia.

Kita sering sekali mendengar tentang toxic friend, dan itu tidak memungkiri bahwa mereka sering berada disekitar kita. Sudah sewajarnya kita menyaring circle kita, harus seperti apa. Bukan malah menarik orang-orang yang toxic.

Satu hal yang saya garis bawahi dalam pembicaraan forum ini adalah, "Carilah teman dalam circle yang outputnya mencari solusi bareng, bukan salah-salahan, bukan ngomporin, bukan cari keributan." Semua tergantung kita, apakah kita mau menyeleksi atau mau terus-terusan terbebani.

Kenyataan yang terjadi dalam hidup saya, bahwa saya sering sekali terbebani dengan ucapan orang lain. Sedikit saja orang lain berbicara tidak enak tentang saya, saya akan terus-terusan memikirkan hal tersebut. Padahal, saya punya hak untuk menutup mata dan telinga saya. Tapi saya memilih untuk meladeni hal-hal yang membuat saya resah. 

Kesimpulan yang diambil adalah sepenuhnya saya menyadari masih mengizinkan orang-orang yang toxic masuk ke dalam hidup saya. Saya masih takut kehilangan, padahal disekitar saya sudah banyak tangan yang mengenggam saya menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, keputusan selanjutnya dalam hidup adalah apakah saya harus tetap mengizinkan orang-orang yang membuat saya terbebani tetap masuk ke dalam hidup saya atau menjaga jarak?

Kalau kamu, setuju dengan declutering friends atau tetap berteman dengan semua orang?




Share:
Read More
,

Sebuah Cerita Dibalik Kata Pindah


Dunia tak boleh tau kamu sedang babak belur. Dunia hanya boleh tau kamu masih tegak dan tak hancur selepas badai menerjang. — Taufik Aulia

Saya masih tidak bisa percaya, saya masih berdiri kuat hingga saat ini. Setelah sekian lama diruntuhkan oleh cerita-cerita yang tidak pernah bisa untuk dilepas maupun digenggam. 

Setelah sekian lama berhenti menulis, hari ini saya mencoba untuk kembali menulis. Meluapkan rasa dalam kata, melukiskan perasaan dalam kalimat, meskipun tak bisa sepuitis Kahlil Gibran atau Sapadi Djoko Purnomo. Saya hanya kembali menulis.

Setahun sudah blog ini saya anggurkan. Banyak cerita dan perjalanan yang terlewatkan. Mulai dari ujung pulau Jawa, hingga titik nol Ibukota baru. Saya tidak mau bercerita panjang lebar, saya hanya ingin bercerita tentang pindah.

Iya, pindah. Kata yang selalu menghantui saya selama setahun belakangan. Yang selalu saya ucapkan namun tidak pernah saya terapkan. Hingga akhirnya Tuhan turun tangan dalam kepindahan ini.

Dari pindah itulah cerita ini dimulai.

Awal Maret 2020, saya menerima sebuah chat yang menghancurkan kejiwaan saya. Hanya sebaris kalimat namun mampu membuat saya merasa menjadi serpihan abu. Cukup mengguncang kehidupan saya, cukup membuat dunia saya menjadi gelap dalam seketika. Itulah titik awal di mana saya memutuskan untuk benar-benar pindah. 

Makan tidak lagi selera, bekerja tidak lagi fokus. Banyak perselisihan yang terjadi dengan rekan kerja, emosi dengan keluarga, pun merasa tidak ingin ada dalam sebuah kerumunan.  Hampir selama seminggu saya seperti orang mati. Sempat memutuskan juga untuk pergi ke tempat yang jauh. Setiap malam berdoa agar jauh, agar pindah.

Minggu kedua setelah hancur, ada sebuah tawaran untuk penugasan pindah keluar kota. Saya langsung mengiyakan tanpa berfikir panjang. Secercah harapan muncul dalam kehidupan saya. Merasa Tuhan mendengar semua pinta saya.

Akhir Maret, surat keputusan tugas perpindahan saya turun. Semarang, tujuan saya untuk berpindah. Saya tersenyum-senyum saat menerima SK tersebut. Teringat, tahun lalu saat liburan ke Semarang saya sempat berfikiran untuk bekerja di sana. Dan terealisasikan setahun kemudian.

Tapi ternyata pindah tidak semudah itu. Seminggu pertama saya baik-baik saja. Saya memutuskan untuk kost ketimbang menempati rumah dinas. Saya butuh sendiri, selama saya masih belum bisa mengendalikan perasaan saya ini. 

Minggu kedua, saya mulai tidak merasa nyaman. Saya cari permasalahannya. Saya merasa kost yang saya tempati tidak membuat saya nyaman. Tidak membuat saya betah. Maka saat itu juga saya mencari kost baru. Alhamdulillah, langsung mendapatkannya. Tidak buang waktu, keesokan harinya saya langsung pindah. Meski saya sudah membayar full di kost lama. 

Masuk minggu ketiga, saya mulai merasa baik-baik saja. Hanya isi kantong yang sedikit tidak baik karena berpindah-pindah tempat. Tapi tidak apa, masih bisa saya atasi.

Minggu keempat, minggu saat saya menulis ini. Saya mulai memasuki masa kosong lagi. Minggu yang lumayan berat setelah perpindahan saya. Surat edaran tidak boleh pulang ke kampung halaman turun, padahal saya sedang homesick. Saat ini memang ada pandemi yang mewajibkan seluruh masyarakat di rumah saja. Kelak akan saya catat, saya pernah merana berminggu-minggu karena pandemi ini.

Berhari-hari setelah surat edaran itu turun saya mulai merasa kosong lagi. Kerinduan akan keluarga dan dia membuat saya merasa sendu kelabu. Video call tidak mampu memulihkan rindu yang memuncak itu. Lalu tiba-tiba terpikirkan sesuatu;

Untuk apa pindah jika masih berkomunikasi? Untuk apa pindah jika masih memendam rasa tanpa berusaha melupakan? Untuk apa pindah? Jangan sia-siakan kepindahan ini, banyak yang sudah dikorbankan. 

Saya berusaha mencari tahu jawabnya kini.

Minggu, 26 April 2020. Semoga pandemi ini lekas berakhir.
Share:
Read More
,

Keresahan Social Media



Setelah berbulan-bulan saya menghilang dari dunia tulis menulis akhirnya kembali lagi! Yes! Kembalinya saya ke dunia maya setelah mulai resah dengan apa yang ada di dunia nyata. Sebagai seorang social media officer yang rajin banget buka social media corporate tapi social media sendiri jarang diurus, sejujurnya rindu juga. Tapi begitu buka social media, males juga. Tahu kenapa?

Kali ini saya ingin menceritakan tentang keresahan saya tentang social media yang sudah tak menyenangkan lagi seperti dahulu. Social media yang penuh dengan ujaran kebencian juga kebohongan. Saling serang satu sama lain, saling sindir satu sama lain. Terutama soal politik. Merasa paling tahu daripada yang lain, merasa paling benar daripada yang lain. Serasa sudah menjadi pakar, bicara tak lagi di perhatikan. Sudah perang satu sama lain. Enggak capek?

Begitu buka facebook, semua bahasan kubu kanan-kiri mendominasi beranda. Si ini begini, Si itu begitu, lelah adek tuh bang lihat yang seperti itu. Instagram masih santai, masih banyak yang posting tentang style, fashion, food, travelling, dan kisah menyenangkan hidupnya. Begitu buka twitter, sadar dunia api sudah menyerang. 

Bahkan perdebatan tentang politik bukan hanya di media social seperti facebook, twitter, ataupun instagram. Grup Whatsapp pun juga mendominasi. Contohnya, saya ikut salah satu grup pengajian di perumahan saya. Hampir setiap hari isinya politik yang penuh dengan kebencian. Asli, capek melihatnya.  Yang tadinya, saya biasa-biasa aja jadi malas karena setiap hari kebencian ditebarkan.

Social media seharusnya digunakan untuk bersosialisasi, silaturahmi satu sama lain dalam dunia maya. Bukannya menjadi tempat perdebatan, pertengkaran, penyebaran hoax, apalagi sampai harus bermusuhan.

Saya hanya berharap semua ini segera berlalu, udah yang ribut di social media cukup ribut di social media aja ya, cukup!


Salam, Pipi Bolong.
Share:
Read More
,

Merawat Wajah Berjerawat dengan Himalaya Purifying Neem Mask



Merawat kulit yang mudah berjerawat memang tidak mudah. Sebelum memulai perawatan, kita harus tahu benar komposisi skin care yang akan kita gunakan, cocok untuk kulit berjerawat atau tidak. Karena jika salah, bukannya jerawat semakin berkurang, malah jadinya menumpuk dan singgah lama di wajah. Sebagai salah satu orang yang dianugerahi memiliki kulit yang mudah berjerawat, saya agak sulit untuk memilih skin care. Terutama untuk maskeran, memilih masker yang pas agar jerawat tidak tumbuh di wajah saya cukup membuat saya berdiri berjam-jam di depan drugstore.

Pernah asal membeli masker karena melihat teman jadi lebih berkilau memakai masker tersebut. Sesampainya di rumah, bukannya wajah semakin berkilau malah tumbuh jerawat satu dua di bagian dahi. Karena wajah yang sensitif itulah membuat saya berpaling ke herbal, meracik sendiri setiap ingin perawatan. Namun, terkadang itu malah membuat repot sendiri. Terutama saat keadaan ingin bermanja-manja dan tak mau ribet.

Seorang teman menyarankan untuk saya membeli Himalaya Purifying Neem Mask, katanya sejenis masker dengan bahan produk herbal. Karena saya orang yang mudah terpedaya dengan kata-kata manis, maka berangkatlah saya ke Watson. Himalaya tersebut tidak mudah ditemukan, tetapi kita bisa menemukan di toko sejenis Watson, Guardian,  Lotte Mart dan lainnya. Sewaktu itu saya membeli Himalaya Purifying Neem Mask 50 ml dengan harga sekitar Rp 25.000 +-. 

Ternyata, si Himalaya ini merupakan produk import. Berasal dari India sana. Diproduksi oleh The Himalaya Drug Company, Mangali, Bangalore, India. Dan diimport oleh Himalaya Drug Company cabang Indonesia, berlokasi di Gedung Menara Satu, Sentra Kelapa Gading.

Sekarang mari kita review produknya!

Packaging

Kemasannya berbentuk tube dengan warna hijau dan putih yang mendominasi. Menurut saya, packagingnya bagus. Tidak ribet untuk dibawa kemana-mana, terutama untuk travelling. Tidak mudah tumpah ataupun berceceran sana-sini. Sebagai orang yang suka merawat wajah sekalipun saat travelling, masker ini merupakan salah satu kabar bahagia untuk saya. Mini dan mudah dimasukan ke travel pack.




Pada bagian belakangnya terdapat keterangan tentang Himalaya Purifying Neem Mask, cara pemakaian, serta komposisi. 

"Himalaya Herbal merupakan rangkaian produk alami yang menggunakan herbal khusus yang diseleksi secara cermat dari alam. Memadukan khasiat terbaik Ayurveda melalui penelitian ilmiah selama bertahun-tahun, menjadikan produk ini baik untuk menjaga vitalitas kulit wajah kita."

"Himalaya Herbalis Purifying Neem Mask membantu mengatur seksresi minyak berlebih, membersihkan pori-pori yang tersumbat dan merawat kulit berjerawat. Dengan kandungan Nimba yang terkenal dengan sifat pembersih dan antibakteri dikombinasikan dengan Kunyit dan Fuller's Earth ( Mulyani Motti ) yang menyejukkan kulit, memperbaiki tekstur kulit dan menjadikan kulit anda cerah dan menjaga kulit sehat."




Komposisi

Untuk komposisi sendiri ternyata Himalaya menggunakan daun Nimba dan Kunyit. Saya tahu sih Kunyit itu merupakan salah satu penyembuh jerawat secara alami, tapi belum pernah coba karena lebih sering menggunakan aloe vera.

Komposisi: Aqua, Kaolin, Melia Azadirachta leaf extract, Propylene Glycol, Bentonite, Fuller's Earth, Curcuma Konga Root Extract, Perfume, Sodium Methylparaben, Imidazolidinyl Urea, DMDM Hydantoin, Xanthan Gum, Disodium EDTA, Sodium Propylparaben, Citric Acid, Sodium Lauryl Sulfate. 

Teksture dan Cara Pemakaian

Untuk texturenya sendiri menurutku ini padat. Ada sedikit butiran-butiran semacam scrub gitu. Warnanya hijau, dan jika di aplikasikan ke wajah nampak seperti hulk hehehe.

Sewaktu pertama aplikasi ke muka, rasanya tuh seperti ada cekat-cekit gitu, dan di bawah mata terasa perih banget. Lalu bau jamu yang rasanya menyengat menusuk hidung. Yah, namanya juga herbal ya pasti bau dong. Kalau wangi namanya parfum. Tapi itu cuma sebentar saja sih. Setelah beberapa menit hilang rasa perihnya itu, tapi baunya sih tetap menyengat. Tidak masalah buat saya, karena saya lebih suka bau jamu seperti ini memang hehehe.

Selama memakai masker ini baiknya tidak tertawa atau bicara, karena dia itu kan menempel di wajah dan rasanya membuat wajah kencang. Jadi, kalau tertawa itu buat butiran maskernya kemana-mana dan tidak kencang lagi. Saat cuci muka, ada semcam scrubnya seperti yang sudah saya katakan di atas. Lumayanlah lah scrubbing sekalian. Saya biasanya menghapusnya dengan air dingin setelah 15 - 20 menit pemakaian. Dicuci biasa saja. 





Hasil

Setelah pemakaian pertama, saat itu di dagu ada sedikit bruntusan, dan ajaibnya pada kempes. Baru satu kali pemakaian saja sudah merasakan khasiatnya. Bagaimana dua atau tiga kali ya? Niatnya saya mau maskeran 1 -2 x seminggu, semoga bukan wacana ya!

Repurchasing? OF COURSE YET!


Salam, Pipi Bolong!


Share:
Read More

Nabung Kekinian dengan Digibank By DBS



Di era digital masa kini, seharusnya semua serasa mudah. Terutama dalam hal tabung menabung. DBS pun mewujudkan segala kemudahan itu dalam Digibank By DBS. Bank yang berbasis mobile sehingga kita semua bisa menikmati layanan perbankan dengan mudah, aman, dan tentram.

Mulai dari pembukaan rekening sampai transaksi segala macamnya cukup dengan memakai jempol dan semua beres. Saya termasuk orang yang malas mengantre di bank untuk pembukaan rekening baru. Tapi tenang, dengan Digibank saya hanya tinggal menunggu di tempat yang sudah dijanjikan untuk bertemu agen.  Satu menit kemudian jadilah saya nasabah Digibank by DBS tanpa harus antre-antre.

Install Digibank by DBS di playstore, lalu register, setelahnya tertera atur jadwal bertemu agen.. Tekhnologi Biometric membantu proses pembukaan rekening dengan menggunakan alat biometric di tempat secara langsung. Proses ini tidak membutuhkan kertas sama sekali. Paperless banget kan? Hemat kertas!

Untuk pelayanan nasabah lainnya juga tidak tanggung-tanggung. Menggunakan kecerdasan buatan atau yang biasa kita sebut dengan Artificial Intelligence. Tahu kan apa itu Artificial Intelligence? Semacam kecerdasan buatan, layaknya komputer tersebut diprogram seperti manusia. 

Misal, kita mengetik "Tolong sebutkan transaksi terakhir saya!" Maka virtual assistant dengan sigap akan membantu layaknya call centre. 

Udah tekhnologinya kekinian banget, segala layanan lainnya juga dipermudah. Mau nabung pun tidak ada saldo minimum, jadi tidak ada tuh yang namanya setoran awal harus sekian, atau blablabla. Ibarat kata sedikit-demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Receh per receh lama-lama menjadi triliyun.

Banyak kelebihan lainnya, kalian tinggal buka website mereka di https://www.dbs.com/id/personal-id/digibank/default.page Untuk penjelasan lebih lanjutnya. 

Digibank by DBS serasa memiliki bank dalam genggaman. Dalam satu jempol,  semua selesai kelarrr dan end. Buruan download dan register Digital by DBS dan nikmati segala kemudahan perbankan hanya dengan satu jempol.

Share:
Read More