Thursday, December 28, 2017

5 Resolusi Hidup Sehat 2018


Mens sana in corpore sano.
Kutipan tersebut mengingatkan kembali gaya hidup selama setahun kemarin. Di mana saya berharap hidup sehat, nyatanya selama setahun saya sama sekali jauh dari gaya hidup sehat. Hidup sehat saya selama 2017 lalu mungkin hanya rajin minum air putih. Selebihnya? Makan tidak terkontrol, olahraga seadanya, tidur pun kurang, lengkap sudah pokoknya! Tidak heran selama tahun 2017 kemarin saya sering sekali sakit-sakitan. 

Sakit, sembuh, lalu beraktivitas berat sedikit, lalu sakit lagi. Begitu terus selama setahun. Hilang sudah predikat pecicilan nan kuat yang selalu melekat pada diri saya. Oleh karena itu saya menetapkan resolusi hidup sehat, yang sangat dan wajib dilaksanakan.

1. Rajin Olahraga. 
Sudah bukan gosip lagi bahwa saya sangat malas berolahraga. Untuk sekedar lari pagi selama 10 menit saja saya terkadang sangat malas. Alasannya sangat sepele, yaitu karena tidak memiliki sepatu olahraga. Dan, sungguh rejeki anak sholehah. Teman saya membelikan sepasang sepatu jogging, yang artinya saya wajib untuk jogging setiap harinya. Oleh karena itu, saya mewajibkan diri untuk jogging lebih dari 30 menit setiap harinya.

sumber gambar : pixabay
2. Menjaga Makanan.
Memakan apa saja yang ada, merupakan salah satu khas saya. Tidak peduli bahwa makanan tersebut mengandung gula terlalu banyak, mengakibatkan kolesterol, diabetes, atau lainnya. Mengakibatkan badan yang tidak sehat, juga badan yang semakin melebar. Maka dari itu, saya berniat untuk menjaga makanan saya dengan food combining.

sumber gambar : pixabay
3. Mengurangi Kopi.
Ini yang lumayan berat, karena saya penggemar berat kopi. Tapi, ternyata terlalu banyak kafein tidak baik untuk tubuh. Oleh karena itu, saya menargetkan diri saya untuk minum kopi hanya sekali dalam sehari. Tidak lebih dari itu.

sumber gambar : pixabay

4. Mengendalikan Stres.
Penyebab stres itu beragam, namun sepertinya saya mudah sekali untuk stres. Ada masalah sedikit, berakibat stres berkepanjangan. Stres sendiri tidak baik untuk badan. Gangguan stres dapat mengakibatkan penyakit-penyakit yang tidak diinginkan datang. Setelah googling sana sini, saya mendapat pencerahan untuk mengendalikan stres sesuai dengan ajaran agama. Yaitu, perbanyak zikir!

sumber gambar : pixabay

5. Rutin Minum Vitamin Bersama Theragran-M.
Saya adalah orang yang sering sekali berganti-ganti vitamin. Kadang, saya merasa tidak cocok ataupun malas lagi untuk minum vitamin. Namun, akhirnya saya menemukan vitamin yang cocok dengan saya. Yaitu Theragran-M, vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Theragran-M sendiri merupakan multivitamin dan mineral yang saya rasa sangat cocok untuk kegiatan saya sehari-hari. Fungsinya? Banyak banget! Diantaranya adalah; Vitamin yang bagus untuk masa penyembuhan, vitamin yang bagus untuk masa pemulihan, vitamin untuk memulihkan kondisi tubuh setelah sakit, vitamin untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit, dan vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit. Cukup sehari satu kaplet setelah makan, sudah bisa menjaga daya tahan tubuh. So, tunggu apalagi? Jadikan 2018 hidup sehat bersama Theragran-M setiap harinya!

sumber gambar : theragran.co.id

Sekian resolusi 2018 dari saya, salam hidup sehat bersama Theragran-M! 
Ingat ya, Kalau sakit jangan lama-lama!

Salam, Pipi Bolong.


*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Wednesday, December 27, 2017

Menikmati Senja di Pelabuhan Sunda Kelapa

Terkadang, saya merasakan rindu yang begitu hebatnya kepada seseorang, tapi orang itu tidak merasakan rindu yang sama. Miris. Namun, terkadang saya juga merasakan sedih yang begitu hebatnya dalam satu waktu karena seseorang. Namun, orang tersebut malah merasakan bahagia yang tiada taranya saat saya merasa sedih. Lebih miris lagi. 

Ketika merasakan hal-hal seperti itu, saya hanya ingin menyendiri dan pergi ketempat di mana saya dapat melihat senja dan lautan dengan indahnya. Karena saya percaya, air laut dapat membawa ketenangan tersendiri untuk saya, sementara senja memberikan keindahan bahwa masih ada yang lebih indah daripada sosok si dia.

Dan, Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi tujuan saya. Di mana letak Pelabuhan tersebut tidak terlalu jauh, masih dalam satu provinsi hanya berbeda kotamadya. Lumayan dekat dengan rumah saya, karena kalau yang jauh itu hati kita.

Untuk menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, bisa menggunakan dua cara. Yaitu, dengan menggunakan bus Transjakarta dengan rute Blok M - Kota (koridor 1), atau dengan Pluit - Tanjung Priok (koridor 12). Jika menaiki Transjakarta, berhenti di halte Jakarta - Kota. Selanjutnya bisa dengan berjalan kaki ke arah utara kurang lebih 15 menit, ataupun dengan menaiki bajaj atau ojek online. Sesuka hati kalian saja nyamannya dengan yang mana. Asal jangan nyaman lalu ditinggalkan. Sakit.

Atau bisa juga dengan menaiki kereta dengan tujuan Stasiun Jakarta - Kota, turun di stasiun tersebut lalu sama-sama jalan kaki ke arah utara. Atau terserah kalian memilih apa. Sama pilihannya dengan menaiki Transjakarta. 

Untuk memasuki Pelabuhan tersebut untuk motor sewaktu itu dikenakan taris sebesar Rp 3000 sedangkan untuk per orang dikenakan tarif Rp 2500. Tidak terlalu mahal, sisanya bisa ditabung untuk menghalalkan si dia meski dia belum tentu mau, apalagi siap.

Bau air asin datang menyambut ketika sampai di pelabuhan tersebut. Anak-anak kecil berlarian dan bahkan ada yang menyeburkan diri ke dalam laut tersebut, kuli angkut yang sibuk dengan berbagai macam bawaan, serta kapal yang mempersiapkan diri berlabuh ke laut lepas. Jangan terburu-buru untuk mencapai tepi pelabuhan. Nikmati sekeliling dengan mata dan hati. 

Rasakan bagaimana menaiki perahu untuk berkeliling pelabuhan tersebut. Dengan tarif Rp 25000 per orang, saya sudah bisa menikmati duduk manis di atas perahu dan menikmati rindu yang ada. Eh, pemandangan yang ada maksudnya.

Tak terasa hari semakin sore, dan senja yang menjadi tujuan sudah mulai terlihat di depan mata. Maka berjalanlah pelan saya menuju tepi pelabuhan tersebut. Di mana laut terhampar luas dan bayang-bayang matahari senja seolah mengikuti arus ombak menuju tepian tidak berbatas. Dan, di sinilah perasaan tenang dan rindu itu kembali hadir. Namun tak bersama rasa sakit, karena sakit itu telah terbawa angin menuju laut yang penuh buih pasir. 

Sekian kata manis dari saya, semoga menginspirasi kalian menanti senja di Pelabuhan Sunda Kelapa. Karena kalau hanya menanti dia, seribu tahun pun belum tentu terjaga.

Salam, Pipi Bolong. 

Tuesday, December 26, 2017

Tiga Tempat Wisata Gratis, Berdekatan, dan Instagramable di Bandung

Berdasarkan postingan sebelumnya yaitu  saya masih berhutang dua tulisan. Nah, untuk akhir tahun ini, saya mau membayar salah satu hutang saya. Yaitu beberapa tempat wisata gratis di Bandung dalam satu hari. Enggak cuma gratis, bahkan instagramable! Jadi bisa menambah koleksi-koleksi cantik dalam instagram kalian.
Dekat dengan Jakarta, memiliki banyak tempat wisata yang tiada kalah menariknya dengan Ibukota tercinta. Menjadi salah satu alasan saya untuk memilih Bandung menjadi tempat liburan ketika tidak memiliki waktu libur yang cukup panjang. Alasan lainnya biar Tuhan dan dompet saya yang menjawab. Langsung saja kita lihat beberapa tempat wisata yang sudah saya janjikan lamanya, melebihi lama janji Rangga ke Cinta.

1. Masjid Raya Bandung dan Alun-Alun Bandung

sumber gambar : dokumen pribadi

Masjid Raya Bandung dan Alun-Alun Bandung merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan seperti aku dan kamu. Letaknya sangat strategis, berada di pusat kota. Dan tentunya saja lokasi ini tidak berbayar alias gratis. Jadi, untuk kamu yang mau beribadah sambil liburan juga sambil mendapatkan koleksi foto yang instagramable, wajib mengunjungi masjid raya ini.

2.  Jembatan penyebrangan orang (JPO) Jalan Asia Afrika

sumber gambar : dokumen pribadi

"Dan Bandung bagiku bukan Cuma masalah geografis. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." -Pidi Baiq

Siapa yang tak kenal kalimat itu? Salah satu spot yang sangat menarik, terletak di bawah JPO Jl. Asia Afrika. Untuk berfoto di tempat ini saya membutuhkan waktu 15 menit kiranya untuk mendapatkan hasil yang lumayan bagus. Dikarenakan banyaknya orang yang ingin berfoto dengan latar tulisan tersebut. Juga banyaknya lajur kendaraan yang melewati lokasi tersebut. Dan, tidak menyesal menunggu selama 15 menit, karena memang tempat tersebut wajib untuk memenuhi koleksi instagram saya. Hehehe.

3. Jl. Braga Bandung

sumber gambar : dokumen pribadi

Duh, ini mah jangan ditanya deh! Sepanjang jalan kenangan, eh Braga maksudnya, instagramable banget. Banyak bangunan tua yang berdiri dengan gagahnya di kanan dan kiri jalan. Spot-spot cantik dan indah bertebaran di setiap sisinya. Tidak hanya tempat foto, toko makanan pun ramai di jalan tersebut. Berjalan kaki sore hari menyusuri keindahan Braga. Sempurna sudah wisata sore hari ini di Bandung.

Sekian referensi dari saya. Semoga bisa membantu menambah koleksi instagram kalian. Tunggu cerita selanjutnya dalam Ereveld Pandu, Bandung!


---Bersambung---


Salam, Pipi Bolong. 


Wednesday, December 20, 2017

Kutipan Sederhana #2

Setelah sebelumnya mengabadikan kutipan sederhana #1 yang berasal dari twitter beberapa tahun silam, maka akhir tahun 2017 ini saya kembali ingin berbagi kutipan yang menyentuh ke lubuk hati saya yang terdalam, kutipan-kutipan tersebut berasal dari twitter juga. Bisa dibaca dalam keadaan galau, sedih, senang, haru, ataupun bahagia. Singkatnya dalam segala keadaan.

"Hati yang pernah kugunakan untuk mencintaimu ini, akan kupakai sekali lagi, untuk memberikan maaf, yang tak pernah kau minta." -@muthiastp

"Pasrah dan ikhlas itu hal yang berbeda, kamu tidak akan mengerti sampai kamu benar-benar kehilangan." -@Raesaka

"Kalau hal kecil dan konyol saja sudah tidak bisa dibagi dan ditertawakan bersama, bagaimana harus menggenggam tangan lebih erat ketika badai singgah?" -@elwa

"Kita dipertemukan oleh keadaan. Kalau nantinya dipisahkan, ya mestinya juga karena keadaan." -@monstreza

"Tak ada yang harus lebih diwaspadai selain mereka yang pernah hancur. Karena mereka sudah terbukti bisa bangkit." -@adimasnuel

"Benci adalah cinta yang tertunda, atau justru cinta yang sudah kadaluarsa." -@aMrazing

"Ada yang berhasil meninggalkan, bahkan tanpa perlu sebuah pergi." -@Karizunique

"Yang menurut kita hanya sedikit perih, bisa saja luar biasa sakit bagi orang lain." -@sittakarina

"Kita semua pernah meninggalkan dan ditinggalkan. Semestinya tahu rasanya jadi keduanya." -@NitaSellya

"Suatu hari nanti akan ada seseorang yang memandangimu seakan-akan kamu adalah hal terbaik di dunia." -@jayakabajay

"Aku suka saat rindu saling melepas nyawa dan menciptakan pelukan." -@chachathaib

"Jika saling menggenggam membuatmu terbelenggu, cobalah saling melepas. Jika membuatmu terhempas, yang kamu lepas itu cinta." -@DedoDpassdpe

"Seseorang akan sangat berarti untuk kamu, di saat orang tersebut sudah tidak ada." -@okymavlana

"Dan, bertanya mengapa? Adalah sebuah pertanyaanku padamu." -@Lalaysf

"Untuk kamu yang selalu ada dalam doaku; bertahanlah." -@elwa

"Diawali dengan keikhlasan, diakhiri dengan ketentraman." -@YogaPrakoso01

"Seterpisah apapun, suatu hari kita akan saling mencari. Bukan karena masih ada cinta, tapi kita butuh seseorang yang begitu mengenal." -@falla_adinda

Sekian kutipan sederhana #2 yang saya anggap mampu menelusuk hingga kerelung jiwa. Sayang jika tidak diabadikan.

Salam, Pipi Bolong.


*)Image via Pixabay

Catatan Sederhana, Kilas Balik 2017



Alhamdulillah, masih bisa berjumpa dengan akhir tahun 2017. Semakin menjelang pergantian tahun baru, semakin sering saya mengingat kembali segala amal dan perbuatan, kisah bahagia dan sedih, serta keberhasilan dan kegagalan di 2017 ini.

Mengingat kembali resolusi 2017 yang ternyata tidak bisa tercapai kecuali penggemukan badan. Teringat bahwa di tahun ini saya terlalu banyak main dan kurang fokus untuk mencapai segala mimpi-mimpi saya. 

Melakukan kedua hal dalam waktu bersamaan. 
Belajar memperdalam kemampuan desain dan menulis secara bersamaan. Di lain waktu saya fokus dengan belajar desain ketika deadline menulis datang. Dan di lain waktu pula saya malah asyik menulis ketika deadline desain sudah meratapi waktunya. Dan disitulah saya merasa jatuh ke jurang yang terdalam lagi. Namun, dari situ saya mendapat pelajaran. yaitu;

Membagi Waktu.  
Melakukan kedua hal ataupun lebih secara bersamaan sebenarnya bisa dilakukan. Asal tetap komitmen dan bisa membagi waktu. Selama ini saya hanya mengandalkan mood saya keluar. Tanpa saya sadari bahwa sebenarnya mood saya yang harus terpancing untuk mengeluarkan kreativitas. 

Saya sadar, tidak selamanya saya hanya mementingkan mood saya saja. Saya tidak boleh menganggap bahwa diri saya ini yang paling pusing dan stres atas segalanya. Oleh karena itu pula juga alasan Allah mengirimkan seseorang kepada saya untuk menunjukan kekeliruan saya. Salah satunya adalah;

Egois.
Dalam pekerjaan apapun baik profit non-profit, seharusnya memang tidak boleh mengedepankan ego. Kerja timlah yang paling utama. Dan di situ saya sadar, bahwa tidak seharusnya saya mementingkan ego saya dalam sebuah tim. Tidak hanya dalam tim juga, namun dalam kehidupan. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Maka dari itu tidak pantaslah seorang manusia jika terus mementingkan dirinya sendiri. Maka dari itu saya terus belajar untuk tidak lagi mementingkan ego dan diri saya sendiri meskipun seringkali masih mengedepankan ego. 

Tak hanya ego, namun attitude itu penting. Selama ini saya sadar, bahwa sikap saya masih jauh dari sempurna. Bisa dibilang tidak mencerminkan kelakuan yang baik. Kurangnya sopan santun yang melekat kepada diri saya, membuat orang lain sakit hati atas sikap saya. Oleh karena itu, saya bertekad dalam hati saya untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Menjadi diri sendiri boleh, namun tetaplah bersikap sopan dan santun kepada semua orang. 

Terakhir, pelajaran yang paling saya catat dalam tahun ini adalah bersyukur. Karena kesalahan saya dari tidak bisa membagi waktu juga keegoisan saya, saya kehilangan salah satu mata pencaharian saya. Namun, saya yakin bahwa Allah akan memberi ganti atas kehilangan. Saya memang kehilangan salah satu mata pencaharian tetap saya, namun Allah mengirimkan seseorang yang selalu senantiasa ada untuk saya dalam keadaan susah maupun senang. Selalu mendukung dalam setiap keadaan. Menunjukan kesalahan jika memang salah, dan selalu melindungi saat sedih maupun takut. Semoga selalu bisa bersama dalam setiap keadaan hingga waktunya tiba. 

"Terima kasih untuk selalu menjadi yang terbaik, panda. :)"


Salam, Pipi Bolong.

Monday, December 18, 2017

Kehilangan yang Menjadi Kado Terindah

Pernahkah kamu merasa kehilangan? Pernah merasakan sedih berkepanjangan karena sesuatu yang telah pergi darimu, atau tidak bisa mendapatkan apa yang kamu impikan dan perjuangkan? Jawabannya adalah pernah. Namun, sadarkah dirimu bahwa itu adalah kado terindah yang tuhan berikan untukmu?

Saya akan berbagi sedikit kisah tentang kehilangan. Bukan semata untuk menggurui, hanya untuk menguatkan hati kamu yang sedang merasa kehilangan ataupun kehampaan yang tiada habisnya.

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke tempat salah seorang rekan yang akan pindah ke kota lain. Karena kepindahannya sudah berbeda pulau dan sedikit repot jika membawa semua barangnya, maka dia memutuskan untuk memberikan barang-barang yang sekiranya sulit dibawa dan tidak terlalu dibutuhkan.

Bersama tiga orang teman saya, kami pun menuju ke rumah teman yang akan pindah ke luar kota itu. Pindah ke luar kota, bukan pindah ke lain hati.

Dari siang sampai sore, kami pun memilah-milah barang yang akan kami ambil. Sempat berebut beberapa kali, sempat kalah rebutan, namun tidak jarang juga menang rebutan. 

Pada saat mau pulang, teman yang akan pindah rumah itu membagi helm, ada dua helm. Saya dan seorang teman saya berhasil mendapatkan helm tersebut. Sementara teman saya yang satu lagi, tidak berhasil mendapatkannya. Alhasil dia merengut saja. Dia merasa lebih membutuhkan helm itu daripada saya. Namun, saya menyukai helm tersebut, karena warnanya merah. 

Tak lama kemudian, sang istri yang akan pindah rumah, membagi sebuah dompet yang berasal dari Turki. Saya dan teman saya yang tidak mendapatkan helm, bersaing untuk mendapatkan dompet tersebut. Namun, kali ini teman saya yang menang. 

Saat itu saya merasa lebih membutuhkan dompet itu. Selain karena saya suka corak dan warnanya, keadaan dompet saya juga sudah membutuhkan yang baru. Akhirnya saya merayu teman saya untuk menukar helm dengan dompet. Fikir saya waktu itu, saya lebih membutuhkan dompet daripada helm. Akhirnya tertukarlah sudah, saya mendapatkan dompet dan dia mendapatkan helm.

Selang beberapa hari kemudian, salah seorang teman mengajak saya jalan-jalan. Dia mengajak saya untuk jalan ke daerah Otista. Katanya mau membelikan saya helm. 

"Untuk apa belikan aku helm? Kan sudah ada helm kamu yang sering aku gunakan." Kata saya waktu itu. Tapi dia tetap bersikeras mau membelikan saya helm.

Dan tahukah kamu, helm yang dia belikan adalah helm bogo. Helm yang menurut saya sangat lucu warna dan bentuknya. Baru di tunjukan saja saya sudah jatuh cinta dengan helm tersebut. Dan akhirnya saya pun dibelikan helm oleh dia.

Ternyata, keputusan yang tepat sebelumnya untuk memilih dompet. Sesuatu yang sangat saya butuhkan. Ketika saya meikhlaskan sesuatu, Allah memberikan kado lain dalam keikhlasan tersebut. Sesuatu yang sangat saya suka melebihi sebelumnya.

Begitu juga cerita lainnya, dari teman yang membelikan saya helm ini. Dia berniat untuk membeli motor dan custom motor tersebut. Tetapi, ketika dia sudah akan membeli motor tersebut, malah sudah ada yang membelinya duluan.

Awalnya dia galau bukan main sih, tapi makin kesini dia ikhlas bahwa motor tersebut memang belum berjodoh dengannya. Tetapi, Allah memberi gantinya yang lain. Motor yang CC-nya lebih besar dan lebih cocok dengan hatinya.

Begitulah cara Allah memberi kepada makhluknya. Dia tidak memberi apa yang kita mau, melainkan apa yang kita butuhkan. Dan Dia tidak akan memberikan kehilangan tanpa memberi ganti yang lebih baik.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” 
(QS. Al Baqarah: 216).

Salam, Pipi Bolong.



*) Image via Pixabay

Flashback Tahun Baru 2007, Pertama Kali Menginap di Hotel Berbintang



Semakin hari, semakin dekat saja menuju pergantian tahun. Untuk sebagian orang, ada yang sibuk menyiapkan rencana tahun barunya. Dan untuk sebagian orang juga, ada yang introspeksi diri selama setahun ini. Dan, sebagian lainnya ada yang mengingat-ingat kisah seru saat tahun baru, berharap bisa mengulanginya kembali.

Saya termasuk orang yang senang mengingat hal-hal yang telah berlalu. Namun, tidak termasuk dalam mengingat mantan. Kali ini saya mau berbagi cerita pengalaman pertama saya menginap di hotel. Bukan sembarang hotel juga, melainkan hotel berbintang empat. Lumayanlah untuk seorang yang sehari-harinya main di lapangan pinggir kampung seperti saya.

Saat itu saya masih kelas tiga SMP. Sahabat-sahabat saya termasuk dalam golongan orang yang berada. Sementara saya, hanya orang biasa yang beruntung bisa berteman baik dengan mereka. 

Alkisah, kami merencanakan untuk merayakan libur tahun baru bersama. Saat itu masih dalam perencanaan dan perembukan. Tidak tahunya, tiba-tiba salah satu sahabat saya mengajak untuk tahun baruan di Ancol. Saat itu saya kira hanya merayakan di pinggir pantai, jadi saya setuju saja.

Selang beberapa hari, teman saya mengabari bahwa sudah booking kamar di salah satu hotel yang terletak di Ancol. Perasaan saya waktu itu bukannya senang tapi malah bingung. Gimana patungan bayarnya, fikir saya waktu itu. Uang jajan sebulan saja belum tentu bisa menutupi.

Tidak tahunya, ternyata semua di support oleh teman saya ini. Kebetulan keluarganya habis mendapat rejeki, jadi mau membagi-bagi bahagia dengan orang lain. Hamdalah saat saya tahu beberapa hari kemudian.

31 Desember, kami berenam dengan diantar oleh keluarganya teman saya itu, berangkat menuju salah satu hotel berbintang di kawasan Ancol. Senang tidak terkira hati saya waktu itu. Karena ini benar-benar pengalaman menginap di hotel. Saya tidak pernah diajak menginap di hotel oleh keluarga saya. Jika berjalan jauh saja, paling hanya menginap di salah satu rumah keluarga di kawasan tersebut, atau menginap di mobil. 

Waktu mau masuk kamar, saya kaget. Ternyata untuk memasuki kamar tersebut menggunakan kartu, bukan kunci biasa. Selang beberapa tahun kemudian saya baru tahu namanya itu adalah cardlock. 

Duh, selain norak soal kunci saat itu juga saya norak soal pendingin ruangan. Saya sama sekali tidak mengerti cara menyalakan pendingin ruangan di hotel tersebut. Begitu dinyalakan oleh teman saya, ternyata malah kedinginan bukan main rasanya.

Yang lucu adalah kejadian di kamar mandi. Untuk yang sehari-harinya memakai gayung dan ember seperti saya, pasti bingung dengan bahtub dan kran air panas dingin. Saya main-mainin kran, yang ada malah air keluar dari shower. Padahal waktu itu saya mau menyalakan air untuk bahtub. Kemudian saya baru tahu bahwa untuk kran shower dan bahtub masih satu aliran. Hanya beda putar kanan kiri untuk memilih shower atau mengaliri bahtub.

Sudah kelar masalah mengaliri bahtub, sekarang saya bingung bagaimana cara membuang air tersebut. Saya putar sana-sani, sumbatan air tidak terbuka dan terputar. Yasudah saya biarkan saja air tetap di bahtub.

Selang beberapa menit kemudian teman saya yang kekamar mandi menggerutu karena air bekas mandi di bahtub tidak dibersihkan. Saya hanya cengar-cengir dan memperhatikan teman saya menggerutu. Dan, di situ saya baru tahu bahwa untuk mengalirkan airnya adalah dengan memutar kran yang berada ditembok bahtub. Saya kira itu hanya pajangan, jadi saya biarkan saja dan tidak otak-atik. Ternyata itu biang keladinya. Hahaha.

Sedikit cerita kisah-kisah absurd saya saat pertama kali menginap di hotel berbintang. Kalau di ingat lagi, itu malah menjadi kenangan lucu dan tak terlupakan sepanjang hidup. Untuk kamu, apa kisah absurd yang tak terlupakan sepanjang hidupmu?

Salam, Pipi Bolong.

Wednesday, December 6, 2017

Pulau Semak Daun, Solusi Liburan Tahun Baru Murah & Dekat.

Tak terasa sudah memasuki awal Desember, yang berarti akhir tahun 2017 sudah semakin dekat. Menjelang pergantian tahun biasanya sudah membuat rencana kemana akan berlibur tahun baru nanti. Ada yang berencana ke luar kota nun jauh dari hiruk pikuk ibukota, ada yang berencana mau di rumah saja. Semua tergantung selera masing-masing. Dan Kamu yang sedang melihat tulisan ini, sudah punya rencana kemana  liburan tahun baru nanti? 

Ngomong-ngomong soal rencana tahun baru, saya jadi teringat liburan tahun lalu. Saat itu kurang lebih tiga minggu saya dan beberapa teman dari Klub Buku & Blogger Backpaker Jakarta galau mau merencanakan tahun baru di mana. Dengan hari libur yang tidak banyak, serta budget terbatas. Maka terciptalah keputusan untuk berlibur ke Pulau Seribu.

Setelah drama liburan ke Pulau Seribu, muncul drama lainnya. Pulau mana yang mau dituju. Saya meminta Semak Daun, yang lain ada yang meminta Sepa, ada juga yang maunya di Bira, dan yang lainnya ada yang minta di Harapan. Pulau Harapan di gugusan kepulauan Seribu ya. Bukan harapan palsu. Dan akhirnya drama jatuh di pulau Semak Daun.

Setelah drama pemilihan pulau, muncul drama budget. Setelah hitung-hitung dengan penuh pengiritan, maka kami memutuskan untuk sharecost sekitar Rp 250.000. Dengan catatan tidur di tenda dan membawa beberapa logistik sendiri. Rincian keuangan akan saya perjelas sepanjang kisah ini. Jangan kemana-mana!

Setelah semua rampung, maka di list siapa saja yang mau ikut. Buat pengumuman kesana kemari mencari alamat, mencari pasukan sebanyak-banyaknya. Dengan total kuota 10 orang. Menjelang hari-H personil berubah-ubah. Ada yang mau ketempat dingin, ada yang mau tempat yang jauh, ada juga yang maunya di rumah saja sama si dia (padahal si dia belum tentu mau). 

Heran, belum jalan aja udah banyak drama. Kalah drama kisah kita yang putus nyambung bagaikan sinetron yang tidak selesai. 

Dermaga Kaliadem

Tanggal 31 Desember 2016, pukul 03.00 pagi, kami bersepuluh janjian di dermaga Kaliadem. Dengan harga Rp 45.000 per orang, kami menyebrang dari Kaliadem menuju Pulau Pramuka. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3-4 jam. 

Sepanjang perjalanan awalnya dihiasi dengan berbagai macam tingkah oleh kesepuluh orang ini (termasuk saya). Sejam pertama tidur, setelah bosan tidur dihiasi dengan main uno. Teriak-teriak sampai jadi perhatian sekapal. Bosan main uno, ada yg ngegosip, ada yang tidur, ada juga yang godain cewek. Terserah mau main apa aja, asal jangan mainin hati si dia.

Pulau Pramuka

Tengah hari, kami sampai di pulau Pramuka. Pulau ini hanya tempat transit saja sebelum menuju Semak Daun. Dari sini, nanti kami akan menaiki kapal yang lebih kecil lagi untuk snorkling juga untuk menuju Semak Daun.

   
Pulau Pramuka merupakan pusat administratif dan Kepulauan Seribu. Kami menyempatkan diri untuk shalat dan membeli beberapa logistik bersama yang termasuk dalam sharecost. Saat itu kami membeli beberapa bungkus nasi dan aqua dengan harga Rp 80.000. Juga ditambah dengan setiap orang membeli nasi bungkus masing-masing untuk makan siang. Karena makan siang ini tidak termasuk sharecost. Harga berbeda-beda. Saat itu sepertinya saya kurang lebih menghabiskan Rp 15.000.

Dan, perjalanan diteruskan kembali. Kami menaiki perahu kecil. Dengan harga Rp 300.000 untuk satu perahu, harga tersebut untuk membawa kami snorkling terlebih dahulu juga membawa kami ke Semak Daun.

Tak jauh dari Pulau Pramuka, perahu berhenti. Dan langsung saja teman-teman saya terjun ke dalam air. Untuk alat snorkling sendiri, kami sewa dengan pemilik perahu kecil ini. Harganya Rp 30.000 per orang. Sudah masuk kedalam rincian sharecost, jadi tinggal santai saja.

Ngomong-ngomong, ini adalah pengalaman pertama saya snorkling. Jadi, saya lumayan takut pada awalnya. Namun, lama-lama jadi biasa dan tidak takut lagi.


Pulau Air

Setelah kurang lebih satu jam di daerah tak jauh dari Pulau Pramuka. Perahu kecil tersebut membawa kami ke gugusan pulau lainnya. yaitu perairan Pulau Air. Saya senang berenang di sini. Selain karena tidak terlalu dalam, airnya sangat jernih. Jadi dengan mata biasa bisa melihat ke dasar laut. Meski ada beberapa tempat yang dalam juga. Saya menghindari ke tempat tersebut.

Pulau Air ini jug menurut saya sangat bagus. Dua pulau dalam satu nama yang terpisahkan air. Pokoknya instagramable bangetlah pulau ini.



Pulau Semak Daun 

Setelah lebih dari sejam bermain-main Di Pulau Air, saatnya menuju Semak Daun. Namun, kami tidak langsung menuju pulau tersebut. Tapi bermain-main dulu di perairan sekitar pulau tersebut. Untuk di pulau ini, saya agak ngeri karena lumayan dalam. Saya yang tidak bisa berenang memilih untuk di perahu saja.

Hari pun sudah sore, karena sudah lelah dan sudah puas juga, maka kami tidak berlama-lama bermain airnya. Langsunglah kami menuju Semak Daun. Di Semak Daun sendiri untuk simaksi dikenakan Rp 35.000 per orang dan sudah masuk juga ke dalam biaya sharecost.

Sesampainya di sana, sudah sangat sore. Kami pun segera mencari spot untuk mendirikan tenda. Tapi ternyata sudah ramai sekali. Untungnya masih mendapatkan tempat. Setelah beres-beres lokasi camp, juga beres-beres badan setelah snorkling tadi, kami segera menuju ke pinggir pulau. Ceritanya mau lihat sunset. Senja terakhir di 2016 kerennya!

Puas dengan sunset, kegiatan selanjutnya adalah masak-masak untuk makan malam. Masing-masing sudah membawa bahan logistik bersama. Ada yang bawa indomie, sarden, dan lainnya. tinggal dimasak lalu dihidangkan. Murah meriah, kenyang.

Sambil menunggu pukul 12.00, kami bermain truth or dare. Saya main aman selalu mengambil dare. Dan kena dikerjain habis-habisan. Disuruh kenalan sama anak tenda sebelah lah, inilah itulah, bagaikan bidadari pulau kesana kemari.

Lalu tanpa disengaja lanjut dengan quality time. Sayang banget, pas quality time ini saya malah ketiduran di atas matras. Padahal sayup-sayup saya dengar mereka membahas tentang hijrah.

Menjelang tengah malam, saya terbangun. Banyak suara petasan sana-sini. Saya fikir percuma banget cuma di tenda. Mana panas pula. Maka dari itu saya mengajak teman-teman saya ke pinggir pulau. Melihat kembang api, dan petasan sana-sini.

Puas dengan hiburan lokal, enggan rasanya balik ke tenda. Maka kami pun sepakat untuk tidur di pinggir pantai, namun tidak semua. Ada satu orang yang lebih memilih tidur sekitar tenda, untuk berjaga-jaga.

Dengan beralaskan matras, juga ada yang menggunakan sleeping bag. Saya sih tidak karena tidak membawa sleeping bag. Pengalaman tidur di pantai itu hawanya terasa panas.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami segera berkemas dan bersiap-siap untuk kembali ke Pulau Pramuka. Dengan seadanya, tanpa sarapan dan tidak mandi, kami bergegas kembali ke Pulau Pramuka. Biaya yang digunakan adalah Rp 300.000 untuk satu perahu. Jadi pulang pergi Pulau Pramuka - Pulau Semak Daun merogoh kocek  sebesar Rp 600.000.

Sesampainya di Pulau Pramuka, segera saja kami menuju masjid pulau tersebut untuk mandi seadanya. Segar sekali rasanya bisa bertemu dengan air lagi. Setelah itu kami sarapan sekaligus makan siang di Pulau Pramuka. Tidak termasuk dalam biaya sharecost karena memang sudah diperhitungkan. Lagi-lagi makan saya kurang lebih sekitar Rp 15.000. maklum, saya kan pelit jadi irit.

Setelah puas mengisi perut, kami pun segera kembali ke kapal. Dengan harga Rp 45.000 per orang. Kapal tersebut akan berhenti di Kaliadem. Tempat berlabuh hati ini. Eh, maksudnya berlabuh kembali ke Jakarta.

Untuk lebih jelasnya, total rincian perhitungan pemasukan dan pengeluaran untuk trip Pulau Semak Daun dengan total  10 orang seperti ini;

Pemasukan
Sharecost : Rp 250.000 x 10 = Rp 2.500.000

Pengeluaran
Tiket Berangkat : Rp  450.000 (Kaliadem – Pramuka)
Tiket Pulang : Rp  450.000 (Pramuka – Kaliadem)
Aqua dan Nasi : Rp  80.000
Perahu : Rp 600.000 (Pramuka – Semak Daun PP)
Alat snorkle : Rp 240.000 (ada beberapa yang patungan satu set karena sudah memiliki alatnya)
Simaksi : Rp 350.000

TOTAL : Rp. 2.170.000
Sisa : Rp 330.000

Nah, bagaimana? Untuk kalian yang mau liburan murah dan dekat bisa menggunakan cara ini sebagai alternatif. Lumayan, bobonya ditemani oleh hamparan bintang di langit sana. Lebih enak lagi kalo bareng si dia sih. 

Baiklah, sampai jumpa lagi di trip galau berikutnya. Semoga tidak ditemani drama yang tiada berujung. Karena yang tidak berujung itu cuma kisah kita.

Salam, Pipi Bolong.

Friday, October 13, 2017

Menikmati Objek Wisata Murah Meriah Marunda

Apa yang yang difikiran kalian ketika terlintas kata 'Marunda?' Pasti penuh dengan kata tronton dan panas. Siapa yang sangka daerah yang terletak di Jakarta Utara ini ternyata memiliki tempat wisata yang tidak kalah serunya. Berikut saya akan berbagi tentang tempat - tempat wisata di Marunda yang bisa kalian kunjungi.

Untuk mencapai Marunda sendiri menuntut perjuangan yang sangat ekstra menurut saya. Saya sudah tiga kali berkunjung ke tempat ini namun lelahnya masih terasa setiap menuju tempat ini, mungkin karena tempat saya yang juga sangat jauh dari Jakarta Selatan. Meski lebih lelah menunggu kamu sadar sih.

Kalian bisa menggunakan transjakarta untuk ke tempat ini. Turun di halte Tanjung Priok Enggano, lanjut naik transjakarta pengumpan arah Marunda dengan harga yang sama dengan naik transjakarta biasa arah Marunda. Kemudian, turun di halte Marunda. Setelahnya turun di hati kamu.

Berikut objek wisata yang akan saya bagi jika kalian berwisata ke Marunda, murah meriah dan buat kantong kalian bahagia pastinya.


1. Rumah Si Pitung.

Rumah panggung dengan pernak - pernik khas Betawi di teras rumah. Rumah Pitung beneran? Jangan salah! Walaupun dinamakan rumah si Pitung. Tapi rumah ini bukanlah rumahnya Pitung. Sang jagoan Betawi itu. Rumah ini merupakan rumah tempat mainnya si Pitung. Karena si Pitung sering singgah ke sini. Maka jadilah rumah ini dinamakan Rumah si Pitung.Untuk masuk ke dalam rumah ini, kalian cukup merogoh kocek sebesar Rp 5000. Murah bukan? Sisanya bisa kalian tabung untuk biaya menghalalkan si dia.


 sumber : dokumen pribadi


2.  Masjid Al Alam Marunda.

Berjalan lebih jauh lagi, kalian akan menemukan sebuah masjid yang bisa dibilang sudah sangat cukup berumur. Ya, itulah Masjid Al Alam Marunda. Konon katanya, masjid ini memiliki sumber mata air keramat yang berkhasiat. Silahkan jika ada waktu mari bermain - main ke masjid ini, jangan cuma main ke hati si dia! Ingat, makmurkan masjid!


    sumber : dokumen pribadi

3. Pantai Marunda.
Bosan dengan keramaian yang itu saja? mau menyepi ke pantai yang sepi? Tak jauh dari Masjid Al Alam terdapat pantai yang tidak terbilang ramai. Silahkan bermain ke pantai ini. Terakhir untuk yang berjalan kaki, gratis masuk ke pantai ini. Namun, jika menaiki motor, di pungut biaya Rp 3000. Di pantai ini kalian bisa menepi memikirkan si dia dengan pemandangan kapal - kapal di lautan sana. Atau, juga bisa menaiki perahu dengan harga Rp 5000 per orang. Bisalah, ajak dia ke tengah laut lalu ungkapkan perasaan di sana. 

 sumber : dokumen pribadi

Sekian beberapa tempat wisata di Marunda yang bisa dijadikan acuan jika kalian berkunjung ke Marunda. Lumayan kan kalo mau ngajak jalan si dia tapi bosan ke situ - situ saja, bisalah ajak ke Marunda. Sampai jumpa di trip selanjutnya!

Salam, Pipi Bolong.

Tuesday, August 22, 2017

Kupas Tuntas Mitos Atau Fakta Pendakian Gunung Bersama Backpacker Jakarta dan RS Firdaus



Menaburkan garam di sekeliling tenda saat camping supaya ular tidak mendekat, itu mitos atau fakta sih? Nah, kali ini komunitas Backpacker Jakarta bekerja sama dengan RS Firdaus mengadakan diskusi santai namun berbobot tentang mitos atau fakta pendakian gunung.


Acara ini berlangsung di Casapatsong Kitchen Express, Jalan Raden Saleh No.55, RT.1/RW.2, Menteng, RT.1/RW., Jl. Cikini 2, RT.1/RW.2, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Dimulai dengan absen peserta oleh Backpacker Jakarta lalu pemeriksaan gula darah dan golongan darah gratis oleh RS Firdaus.


Diskusi Santai ini di moderatori oleh Mbak Nisa, dari RS Firdaus dan menghadirkan lima pembicara yaitu
  1.  dr Ridho Adriansyah, dr spesialis penyakit dalam dari RS Firdaus, yang menjelaskan pendakian dari sisi medis.
  2. Harley B. Sasta, penggiat alam, penulis, dan pemerhati konservasi alam dari federasi mountaineering Indonesia.
  3. Tyo Survival, eks host survival, jejak petualang, co host berburu di TRANS 7.
  4. Siti Maryam, survivor 4 hari 3 malam di Rinjani
  5. Edi M Yamin, founder Backpacker Jakarta

Sebelum dimulai, Mbak Nisa menjelaskan sekilas tentang RS Firdaus yang melatarbelakangi acara diskusi ini. RS Firdaus merupakan rumah sakit yang beralamatkan di Komplek Bea Cukai, Jalan Siak J 5 No. 14, Sukapura, Cilincing, RT.1/RW.7, Sukapura, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.


Awal dibangunnya RS Firdaus adalah pembangunan Klinik Firdaus, didirikannya praktek dokter umum  pada tahun 1995 yang bertempat di jalan Siak No. 14  Sukapura, Jakarta Utara . Praktek dokter umum atas nama dr. Bahtiar Husain. Tanggal 7 April tahun 1998 dr. Bahtiar Husain mengajak teman-teman dokter umum lain untuk membuka ”KLINIK FIRDAUS” dengan pelayanan  Praktek Dokter Bersama 24 Jam. Pada tahun 2004 dan bersamaan telah selesainya pendidikan Spesialisasi dr. Bahtiar Husain sebagai ahli paru maka Klinik FIRDAUS berubah menjadi “ Praktek Dokter Spesialis Berkelompok” dimana layanan PARU menjadi layanan utama. Dan Klinik Firdaus berubah menjadi RSP Firdaus pada tanggal 28 Mei 2011. Dan setelahnya menjadi RS Umum Firdaus.

"Kami mendedikasikan dan menggabungkan keterampilan, pengetahuan dan pengalaman tim dari setiap aspek yang dimiliki, mencakup ruang lingkup medis maupun non medis yang didukung oleh teknologi, penggunaan sarana dan prasarana yang terus berkembang, menjadikan pelayanan di RS Firdaus sebagai pelayanan perawatan yang berbasis tim ( team base care ), untuk mencapai  pelayanan maksimal yang bekelanjutan."  -dr. Bahtiar Husain S, Sp.P, M.H.Kes

RS Firdaus merupakan salah satu deretan rumah sakit terbaik dalam BPJS, sesuai dengan motto mereka yaitu "Melayani dengan Hati." Untuk lebih detailnya bisa mengunjungi RS Firdaus di website mereka, yaitu http://rsfirdaus.co.id/index.php


Kembali ke acara diskusi yang berlanjut, masing - masing narasumber menyampaikan isi paparan mereka dalam diskusi tersebut.


Dimulai dengan Mas Harley yang menjelaskan tentang mitos atau fakta dalam pendakian gunung, menjelaskan apa itu mitos terlebih dahulu. Mitos sendiri  adalah suatu cerita atau dongeng berlatar belakang kisah kejadian masa lalu. Cerita biasanya dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat, alam, ada istiadat. Mas Harley memberikan point - point tentang mitos atau fakta, contohnya seperti; Pendaki gunung itu kuat, pendaki gunung hidupnya tidak teratur, pendaki gunung itu pecinta alam, dan saat datang bulan perempuan tidak boleh mendaki gunung. Apakah semuanya mitos atau fakta? Semua dikupas oleh Mas Harley dalam diskusi ini.


Di akhir sesinya, Mas Harley mengingatkan bahwa kita adalah tamu dalam setiap perjalanan maka dari itu hormati dan ikuti aturan serta budaya yang berlaku.


Harley B. Sasta
 Selanjutnya, Mas Tyo Survival yang sudah ahli dalam ular melanjutkan sesi diskusi. Keren ya udah mahir dalam ular, saya saja biasa main sama buaya belum mahir - mahir. Secara saya mainnya sama buaya darat. 


Mas Tyo membagi tips tentang apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum pendakian. Contohnya seperti trash bag, ternyata trash bag memiliki banyak fungsi. Bisa menjadi alas shalat, cover bag, alas tidur, dan lainnya. Mas Tyo juga menjelaskan tentang perlunya kemampuan menciptakan api dari batu dengan cara menggesekan batu. Batunya juga tidak sembarang batu, batu api namanya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di alam maka dari itu kita perlu memiliki kemampuan seperti itu untuk menjaga - jaga. 


Yang seru adalah saat Mas Tyo menjelaskan tentang ular dan garam. Beliau mengeluarkan ular kesayangannya yang diberi nama Afri. Ular saja disayang banget sepertinya, gimana pasangan hidup ya Mas? 


Dan ternyata, ular takut dengan garam itu hanya mitos belaka. Ularnya Mas Tyo tidak takut sama sekali dengan garam. Ular itu menurut sama Mas Tyo, ternyata dia sedari kecil sudah menangani ular, udah khatam soal ular. Hebat Mas! Saya dari remaja menangani buaya darat, belum khatam sampai sekarang.


Tyo Survival dan Afri


Nah, selanjutnya adalah sesi yang sangat saya tunggu yaitu sesi Siti Maryam dan Edi M Yamin. Siti, pendaki gunung yang hilang 4 hari 3 malam di Rinjani saat mendaki gunung Rinjani bersama Edi. Dimulai dengan Edi yang menceritakan kronologis hilangnya Siti, yaitu ternyata saat Siti izin turun duluan untuk buang air setelah summit di Rinjani. Siti melihat ada lapangan hijau luas di depan matanya saat mencari mata air, lalu Siti mengikuti pandangan matanya tersebut. Namun ternyata dia malah terperosok di tepi jurang. 


Lanjut Siti menceritakan pengalaman - pengalaman mistisnya selama hilang. Dia melihat ada pintu yang dijaga banyak orang saat malam, dan ketika pagi hari baru dia menyadari bahwa pintu itu adalah jurang. Beruntung dia tetap di posisinya bertahan dan tidak berjalan menuju pintu tersebut. Ada juga seperti orang lain di sisi dia, hilir mudik dalam bayangan hitam dan putih. Saya merinding mendengar cerita Siti tersebut.


Beruntung Siti bertemu dengan penggembala sapi saat dia berjalan mencari pertolongan. Siti meminta tolong kepada penggembala tersebut, dan penggembala tersebut menolong Siti. Siti dibawa ke Puskesmas terdekat dan diperiksa, Alhamdulillah dia dalam keadaan baik - baik saja. Padahal selama hilang Siti hanya minum madu dan makan permen.


Yang hebat adalah sisi psikologis Siti Maryam dan Edi M Yamin. Bagaimana Siti tetap tenang dalam hilangnya dia, dikarenakan dia ternyata rajin puasa senin - kamis, kunci ketenangan dan pengendalian diri dalam hilangnya dia. Juga Edi yang terus percaya bahwa Siti akan ditemukan sampai bolak - balik summit Rinjani hingga tiga kali. Sungguh sangat bertanggung jawab dalam pendakian, Edi tidak lepas tangan dan hanya menyerahkan kepada TIM SAR, namun juga ikut bekerja keras dalam pencarian. sifat pemimpin yang patut dicontoh. 




Selanjutnya tak kalah seru dr. Ridho Adriansyah juga menjelaskan pendakian dari sisi medis. dr Ridho, ternyata juga saat mudanya adalah pendaki gunung. 

dr Ridho menuturkan kondisi kesehatan Siti Maryam, menurut dr Ridho, Siti Maryam ada baiknya memeriksa ginjalnya, dikarenakan manusia bisa hidup tanpa makanan namun tidak bisa tanpa minuman. Batas tidak minum adalah tiga hari. Selebihnya kondisi ginjalnya dipertanyakan.

Lalu, tentang obat - obat yang harus dipersiapkan dalam mendaki gunung. Baik itu perorangan ataupun dalam kelompok. Selain itu juga beberapa mitos atau fakta tentang penyakit yang tidak diperbolehkan naik gunung. Seperti asma dan jantung bocor. Ternyata penderita asma dan jantung bocor bisa mendaki gunung asalkan pada kaedah dan peraturan yang benar.

Terakhir, beliau menjelaskan  tentang gejala - gejala penyakit yang kemungkinan bisa hadir saat mendaki gunung dan juga cara mengatasinya. Pada akhirnya dr Ridho pun menekankan tentang limit ketahanan setiap orang itu berbeda, bila tubuh sudah mendekati limit maka jantung tidak lagi memberikan kompensasi. Maka tahukan apa yang terjadi selanjutnya?  



dr Ridho Adriansyah

Sesi diskusi ditutup dengan tanya jawab dan doorprize, dan kesimpulan dan pelajaran yang saya dapat banyak sekali dalam diskusi ini. Antara lain adalah; Tentang kesiapan mental mendaki gunung, peralatan yang dipersiapkan dalam mendaki, obat - obatan yang harus dibawa dalam mendaki, bagaimana mengatasi penyakit yang tiba - tiba muncul saat mendaki, juga kunci ketenangan dalam mendaki gunung. 

Terima kasih kepada Backpacker Jakarta yang telah bekerja sama dengan RS Firdaus dalam diskusi santai mitos atau fakta pendakian gunung. Sangat bermanfaat untuk saya yang masih awam dalam pendakian gunung. Pada akhirnya kita tahu bahwa batas tubuh kita berbeda dan hanya kita yang tahu sampai mana batas kita, saat itulah kita tahu kapan kita harus beristirahat dan berhenti.

Salam, Pipi Bolong.

Tuesday, August 8, 2017

Belajar Membatik di Museum Batik #MendadakPekalongan



Terletak persis depan simpang lima kota Pekalongan, lengkapnya di Jalan Jetayu No.1. Berdiri sebuah gedung yang tak lain dan tak bukan adalah Museum Batik Pekalongan.

Museum ini menjelaskan dan memamerkan tentang macam - macam batik, sejarah batik dari masa ke masa, ada juga batik masa lampau dan ada juga yang mereka sebut dengan batik modern. Ada juga yang memamerkan macam - macam alat yang bisa digunakan untuk membuat batik, serta penjelasan macam - macam perwarna alami yang digunakan untuk membuat batik.



Keluar dari ruang pameran, ternyata terdapat sebuah ruang hijau seperti taman ditengah - tengah museum tersebut. Setelah asyik membahas tentang batik, kita bisa bernafas segar dan melihat kehijauan di depan mata. Jadi, setelah berkeliling antar ruangan, saya baru menyadari bahwa bangunan ini berbentuk persegi dengan bolong di tengahnya yang digunakan sebagai ruang terbuka hijau.




Lanjut saya masuk ke dalam ruang workshop, yaitu ruangan yang digunakan untuk para pengunjung untuk mencoba membuat batik. Tidak mau rugi, maka saya pun mencoba untuk belajar membuat batik di sini. Dipandu dengan pak Norman, sang pembatik yang biasa mengajarkan membuat batik di museum tersebut maka saya pun dengan semangat ikut mencobanya. 

Tapi, ternyata membuat batik itu tidak semudah yang saya bayangkan. Saya membuat batik dengan sebuah alat yang dinamakan canting. Cara menggunakan canting tersebut juga sangat tidak mudah. Saya jadi pusing sendiri. Ternyata susah juga membuat batik tradisional, makanya tidak heran harga batik itu mahal.


Ada anak kecil yang ikut belajar membatik bersama saya. Dan dia sepertinya memang mahir dalam kepolesan tangan dan sudah terbiasa membuat batik. Saya malu sendiri, sudah dewasa tapi tidak bisa membatik. Padahal batik kan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia.

Setelah menggambar batik, saya kira sudah selesai tuh. Tapi ternyata prosesnya belum selesai juga. Batik harus dicelupkan lagi untuk menghasilkan warna. Dan itu, tidak hanya sekali dua kali. Tapi berkali - kali sampai warna yang di inginkan berhasil didapatkan. Sungguh saya tidak menyangka bahwa prosesnya sangat tidak mudah.

Begitulah sedikit cerita saya membatik sewaktu bermain ke kota batik, hasilnya sengaja tidak saya tunjukan karena memang gagal total. Tapi ya namanya masih pemula ya tidak apa toh? Semoga lain kali lebih baik. Dan buat kamu yang ingin mengunjungi museum batik tersebut bisa datang ke alamat Jalan Jetayu No.1 Pekalongan, Jawa Tengah. Dengan harga Rp 5000 kamu sudah bisa masuk ke dalam museum batik tersebut.

Ayo membatik!  Pertahankan warisan bangsa!


Salam, Pipi Bolong




Monday, August 7, 2017

Mencoba Seporsi Sate Taichan Senayan




Jika melewati kawasan Asia Afrika Senayan di malam hari, pasti banyak sekali pedagang makanan lengkap dengan gerobaknya berjejer rapi, itulah sate taichan. Sering melewati kawasan tersebut namun saya belum pernah mencoba. Akhirnya pada Sabtu lalu, saya pun mencoba untuk menikmati sate yang sangat populer di daerah senayan tersebut. 


Suasananya sangat ramai, banyak muda - mudi menghabiskan malam mingguan secara sukacita. Karena saya masih merasa muda, maka saya pun mewajibkan diri saya untuk mencoba. Tidak disediakan kursi di sini. Hanya meja dan alas di bawah meja tersebut, yang artinya kita makan secara lesehan. Ada banyak pedagang yang menyajikan sate tersebut, kita bisa memilih manapun yang kita suka.


Saya pun memesan seporsi sate taichan. Saya tidak berfikir sebelumnya apa itu sate taichan. Karena yang saya fikirin cuma kamu. Ternyata sate taichan adalah sate ayam yang dibakar tanpa bumbu. Jadi, saat disajikan sate tersebut berwarna putih. Awalnya saya kira satenya direbus ternyata tetap dibakar.


Sate taichan disajikan dengan bumbu kacang dan jeruk nipis, ditemani dengan seporsi lontong, saya pun mencobanya. Bila tidak kuat dengan rasa pedas, kita bisa memesan disajikan dengan kecap. Saat itu saya pesan satenya disajikan dengan bumbu kacang, sementara lontongnya disajikan dengan kecap.


Entah memang karena terbiasa dengan sate ayam yang biasa dibumbui, lidah saya menolak rasa sate tersebut. Di lidah saya, rasanya hambar walaupun sudah saya oleskan ke bumbu kacang. Lalu saya mencoba mengoleskan dengan kecap, rasanya lebih nikmat.


Di sekeliling saya, sepertinya sangat menyukai sate tersebut. Bahkan, di sebelah saya pun memesan dua porsi. Entah memang karena enak atau bagaimana. Saya pun bingung, atau memang lidah saya yang tidak terbiasa dengan sate tersebut. Tapi yang pasti, saya tidak pernah bingung tentang perasaan saya ke kamu.


Dengan harga Rp 25000 kamu sudah biasa menikmati sate tersebut. Terbilang murah untuk 10 tusuk sate yang disajikan. Jika lidah kamu sama seperti saya, terbiasa dengan bumbu sate ayam, ada alternatif makanan lain yang dijual. Ada beberapa yang menjual nasi goreng dan lainnya.


Sekian cerita saya tentang sate taichan senayan, tidak cocok dengan lidah saya bukan berarti tidak enak loh ya. Karena selera orang berbeda-beda. 


Salam, Pipi Bolong.


Saturday, August 5, 2017

Konspirasi Alam Semesta (REVIEW)

Judul : Konspirasi Alam Semesta
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : Mediakita
ISBN : 978 – 979 – 794 – 535 – 0
Rating : 4/5


Review

Buku ini merupakan albuk (album buku) dari seorang Fiersa Besari. Dipenuhi dengan lirik-lirik dari album tersebut dan tergambarkan menjadi sebuah cerita. 

Adalah seorang jurnalis,  Juang Astarajingga, bertemu dengan Ana  Tidae secara tidak sengaja di Palasari saat berburu buku. Saat pertama kali bertemu, Juang sudah mengingat dengan jelas bagaimana detail gadis itu. Beruntung semesta mempertemukan mereka kembali selang beberapa hari kemudian. Juang ditugaskan untuk meliput seorang sinden asal Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di mancanegara namun dilupakan di negerinya sendiri, Shinta Aksara. Dikarenakan Shinta Aksara sudah meninggal, maka yang akan diwawancara oleh Juang adalah putrinya yang tidak lain tidak bukan adalah Ana Tidae.

Semenjak pertemuannya dengan Ana, Juang kentara sekali sudah jatuh cinta pada gadis itu. Lain dengan Ana yang telah memiliki kekasih. Di puncak gunung Slamet, Juang pun memperjuangkan cintanya pada Ana. Seseorang yang mampu merubah perangainya. Seseorang yang dijadikan rumah untuknya berpulang kemanapun Juang berkelana.

Saat saya membaca buku ini, saya membayangkan menjadi seorang Ana Tidae, yang dicintai oleh Juang Astarajingga sepenuhnya. Membayangkan petualangan – petualangan Juang yang berpindah dari satu kota ke kota lainnya dalam meliput berita. Juga membayangkan sakitnya dan rindunya hati Ana ketika di tinggalkan oleh Juang dalam mengejar mimpinya.

Buku ini tidak hanya menceritakan tentang kehidupan dua orang kekasih, buku ini juga menceritakan tentang perjuangan hidup, mimpi, kasih sayang keluarga, dan juga persahabatan.

Fiersa Besari mampu membuat perasaan saya teraduk-aduk perih dan mata saya berkaca-kaca ketika semakin dalam saya membacanya. Adalah bab Nadir yang mampu membuat perasaan saya bergejolak hebat. Membayangkan seseorang yang selalu ada dikala susah maupun senang. Seseorang yang tidak pernah pergi ketika nyawa kehidupan benar-benat harus diperjuangkan. Saya tahu, mungkin banyak drama kehidupan di luar sana yang memang ada seperti ini, entah mengapa Fiersa Besari mampu menyihir saya jatuh cinta terlalu dalam pada bagian ini.

“Untuk urusan tidak mau melepaskanmu, hatiku memang keras kepala. Jadi, kabari saja kalau amarahmu mereda. Sudah kusiapkan setangkai rindu untukmu.” – Ana Tidae 

Gaya bahasa yang disajikan mudah dipahami namun puitis. Khas Fiersa Besari. Penuh dengan sajak dan pesan dalam buku ini secara tak tersirat. Mampu membuat kita paham akan arti sebuah kehidupan.

“Namun jatuh cinta memang bukan soal tipe, dan kita bisa terjatuh kapan saja tanpa isyarat. Mencintaimu, merupakan kejutan terindah yang pernah kehidupan berikan padaku. Dicintaimu, merupakan bingkisan yang lebih indah.” -Hal 202 - 203 

Sekian review dari saya,

Salam, Pipi Bolong.

Friday, August 4, 2017

Satu Hari Susur Langkah Jejak Weltevreden

Berawal dari ajakan seorang teman, yaitu Ade Nita. Admin Klub Sejarah dan Museum di bawah naungan Backpacker Jakarta. Saya bersama Ade Nita menyusuri jejak peninggalan Weltevreden. Di mulai dari Pasar Baru, sampai dengan Istana Daendels.

Nah, Weltevreden sendiri itu apa?

"Itu nama wilayah dari mulai senen, kwitang sampe lapangan banteng. Dulu Daendels mindahin pusat pemerintahan dari Stadhuist (sekarang museum Fatahilah) ke kawasan Weltevreden. Stadhuist terkontaminasi oleh wabah penyakit. Sedang area Welteveden itu subur dan asri." Ade Nita, 2017.

Langkah kaki kami pertama kali adalah Pasar Baru.




Pusat perbelanjaan ini dibangun pada tahun 1820 sebagai Passer Baroe sewaktu Jakarta masih bernama Batavia. Orang yang berbelanja di Passer Baroe adalah orang Belanda yang tinggal di Rijswijk (sekarang Jalan Veteran).Toko-toko di Passar Baroe dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok dan Eropa.

"Lu pasti enggak percaya kan ada rumah bersejarah yang tidak diruntuhkan di dalam pasar baru tersebut?" Ujar Ade Nita. Saya sering datang ke Pasar Baru. Tapi sepertinya tidak pernah menyadari ada rumah di sana. Maka, saya dan Ade Nita pun bergegas menuju ke dalam area Pasar Baru. Dan, benar saja. ada sebuah rumah yang entah milik siapa, berada tepat di atas toko pakaian.

Berdasarkan informasi dari Ade Nita, Itu namanya "Toko Kompak". Dinamakan seperti itu supaya keluarga pemiliknya kompak terus. Dulunya rumah seorang Mayor Tiongkok, bernama Mayor Tio Tek Ho. Dia menjabat sebagai Mayor di Batavia (Jakarta) pada tahun 1896-1908. Toko Kompak sekarang tidak dimiliki oleh keturunan sang Mayor. Tapi oleh seseorang bermarga Tan. Toko itu sekarang menjual pakaian. Tetapi, arsitektur interiornya masih asli. Perpaduan Tiongkok dan Eropa. Padahal umurnya sudah lebih dari 3 abad.






Setelah puas berkeliling Pasar Baru, kami mampir sebentar ke Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Untuk ulasannya bisa dibaca di sini.

Lanjut kami  menyebrangi langkah kami ke Gedung Filateli Jakarta. Saya memaksa Ade Nita untuk mampir ke gedung ini karena suka dengan arsitektur gedung ini. Dari informasi yang saya dengar juga bahwa gedung ini merupakan warisan arsitektur kolonial Belanda. Dahulu kala digunakan sebagai pelayanan jasa pos sebelum dipindahkan ke kantor pos yang terletak di Jl Lapangan Banteng. Saya tidak masuk kedalam gedung tersebut, dikarenakan sudah habis jam berkunjungnya. Cukup puaslah dengan berfoto-foto di pelataran gedung tersebut.

 



Selanjutnya adalah, Gedung Kesenian Jakarta.

Masih merupakan bangunan tua bersejarah peninggalan Belanda. Masih berdiri dengan megah sampai sekarang. Didirikan oleh Sir Stamford Raffles pada tahun 1814. Berfungsi sebagai tempat hiburan sampai sekarang.


  


Terpana di depan Gedung Kimia Farma,
Gedung tempat bertemunya anggota-anggota perkumpulan rahasia Vrijmetzelarij ‘de Ster van het Oosten, adalah gedung pusat Kimia Farma dan yang pada masa penjajahan Belanda disebut Stadtsschouwburg (teater kota), dikenal juga dengan sebutan Gedung Komidi. Dalam perjalanan sejarah, gedung yang berpenampilan mewah ini pernah digunakan untuk Kongres Pemoeda pertama pada tahun 1926. Di gedung ini pula, pada tanggal 29 Agustus 1945, Presiden RI pertama Ir. Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian beberapa kali bersidang di sana. Pada masa penjajahan Jepang nama gedung ini diganti menjadi Kiritsu Gekitzyoo, dan dipakai sebagai markas tentara. Pada tahun 50-an, gedung ini sempat dipakai sebagai ruang kuliah malam Universitas Indonesia. (Sumber Jakartapedia)

Kami cukup sampai halaman gedung tersebut. menurut security yang sedang berjaga, saat kami berkunjung masih ada pegawai yang sedang beraktivitas menyelesaikan pekerjaannya, oleh karena itu kami tidak berniat masuk. Takut-takut menganggu aktivitas pegawai yang sedang lembur.



Dan terakhir, tujuan utama kami adalah Istana Gedung Putih, Daendels

Bangunan yang berdiri megah, menghadap persis ke lapangan banteng. Bangunan yang kini sepenuhnya adalah milik Kementrian Keuangan. Dahulunya adalah Istana Daendels. Tempat kerja Daendels ketika memindahkan pemerintahan dari Stadhuist ke kawasan Weltevreden. Setelah gagal dijadikan istana, lalu dijadikan kantor keuangan pemerintah kolonial. Lalu gedung tersebut bertransformasi menjadi gedung milik kementrian keuangan dengan menteri pertamanya adalah A.A Maramis. Makanya istana itu tersebut juga dengan nama Gedung A.A Maramis.




Menurut security yang menemani saya dan Ade Nita berkeliling gedung, gedung tersebut masih sama seperti pertama berdiri. Namun, dengan kondisi yang berbeda tentunya. Terdapat sebuah batu yang bertuliskan 'MDCCIX Ondidit Daendels MDCCCXXVII Erexit Du Bus'. Sesuai dengan informasi dari Ade Nita, itu adalah batu terakhir dari pembangunan istana Daendels.



Kawasan Weltevreden mampu menyihir kami dengan pesona - pesona gedung tua peninggalan jaman kolonial Belanda. Saya berharap pemerintah akan terus menjaga keaslian gedung tersebut sampai nanti kelak. Sekian susur jejak langkah kaki saya kali ini bersama Ade Nita, semoga bisa menyusuri jejak lainnya di waktu yang berbeda pula. Terima kasih banyak Ade Nita, sudah mau menemani saya menyusuri kawasan Weltevreden dan berbagi informasi sejarahnya kepada saya.

Salam, Pipi Bolong.