Saturday, April 23, 2016

Menjelajahi Museum Taman Prasasti



“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!” Begitulah semboyan yang diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada HUT RI. Maka dari itu saya kembali bermain-main ke museum untuk mengingat dan mempelajari sejarah kembali setelah sekian lama mempelajari sejarah mantan pacar. Dan yang museum yang menjadi tujuan trip kali ini adalah; “Museum Taman Prasasti”.


Bersama kurang lebih 30 anggota Backpacker Jakarta (selanjutnya disingkat BPJ), kami menjelajahi museum taman prasasti. Museum taman prasasti terdapat di Jl Tanah Abang  I, Jakarta Pusat. Akses ke museum ini sangatlah mudah. Bila kita menaiki kendaraan umum, kita cukup menaiki transjakarta dan berhenti di halte monas. Dari halte monas kita jalan ke arah jalan di samping museum gajah. Lalu keluar dari jalan tersebut ada jalan besar, kita jalan ke arah kiri dan nanti akan bertemu pertigaan dan lampu merah. Di pertigaan itu kita ambil kekiri lagi. Museum taman prasasti berada persis di ujung dari pertigaan itu. Harga masuk museum ini untuk dewasa adalah Rp 5000/orang dan untuk grup dikenakan Rp 3750/orang dengan minimal 30 orang.


Pada trip kali ini, kita dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok didampingi oleh seorang guide. Dan yang menjadi guide saya adalah Pak Iswan. Pak Iswan pun memulai trip dengan menceritakan tentang sejarah awal berdirinya museum taman prasasti. Jadi, museum taman prasasti itu dulu digunakan sebagai pemakan khusus orang asing di Jakarta (dulu disebutnya Batavia). Pemakaman tersebut isinya orang-orang terkenal dan pejabat pada masanya. Bisa dibilang pemakaman orang kaya. Lalu pemakaman tersebut diresmikan menjadi museum itu pada tanggal 9 Juli 1997.


Pada prasasti pertama, pak Iswan membawa kita ke sebuah patung yang sedang menunduk seperti sedang menangis. Katanya patung tersebut dibuat untuk merefleksikan kesedihan pengantin baru yang ditinggal suaminya karena wabah malaria. Patung tersebut dipahat oleh SCLV Carminati Mlano. Sayang saya enggak foto patungnya, cuma foto bagian ukiran nama pemahatnya aja. 






Lanjut kita ke makam Dr H.F Roll. Salah satu tokoh yang mencetuskan berdirinya STOVIA. Sekolah Tinggi Dokter Indonesia, yang menjadi Fakultas Kedokteran Indonesia. 



 


Lanjut kita kesebuah bangunan yang nampaknya seperti rumah. Saya fikir emang awalnya itu rumah. Ternyata makam. Makam keluarganya Ambrosius Johannes Willebrodus Van Delden. Saya ngeliatnya heran aja. Kok makam bentuknya rumah. Ternyata memang ada dibeberapa daerah makam berbentuk rumah 





Enggak cuma itu aja, ada juga makam Olivia. Istri pertama dari Thomas Stamfford Raffles. cuma sayangnya saya enggak foto disitu. Terlalu sibuk mencatat dan mendengarkan guidenya. Lanjut ke sana-sini yang enggak mungkin saya jelaskan satu persatu disini. Tibalah kita di nisannya Soe Hok Gie. Nah! Inilah yang kita tunggu-tunggu. 







Nisan Soe Hok Gie
Pada nisan Soe Hok Gie tertulis, “Nobody knows the trouble I see, nobody knows my sorrow.”





Kata Pak Iswan, dulunya Soe Hok Gie dikuburnya disini sebelum dipindahkan. Nah, sama keluarganya jenazahnya dibakar dan ditebar abunya di Mandalawangi, Pangrango. Cukup lama kita berdiri disini. Merhatiin dan terkagum-kagumnya kita sama Gie.



Photo by Nancy S

Selain Nisan Gie, juga ada monumen J.J Perie. Mayor Jendral Johan. Jacob. Perrie.  Cuma sayang seribu sayang saya enggak foto monumen ini. Tapi untungnya sih sempet difotoin sama kak Nancy. Hihihi.






Dari sekian banyak nisan-nisan dan patung-patung yang ada, yang paling menarik perhatian saya adalah kereta pengangkut jenazah. Konon katanya, kereta tersebut digunakan untuk mengangkut jenazah dari kali krukut yang telah dibawa oleh perahu. Katanya, mau sewa kereta itu pada zaman dahulu itu mahal banget. Semakin malem sewanya, semakin banyak kudanya itu katanya semakin mahal. Dan menandakan bahwa orang tersebut itu adalah orang yang kaya banget. Sumpah saya sih enggak berani kalo ngangkut dan nguburin mayat malem-malem. Siang-siang aja saya takut liat mayat.


Itu sedikit cerita saya tentang museum taman prasasti. Enggak semua patung dan nisan saya ceritain disini. Karena kalo saya ceritain disini semua bisa-bisa 14 tahun enggak kelar-kelar kayak ceritanya Rangga dan Cinta. Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada Pak Iswan yang telah membimbing, menjelaskan, dan menemani kami di museum taman prasasti ini.  Dan tidak lupa juga kami berfoto keluarga lengkap dengan dua tour guide kami.







Sekian trip museum kali ini, dan selalu ingat JASMERAH! “Jangan sekali-kali tinggalkan sejarah!”

Wednesday, April 20, 2016

Berkelana di Batujajar




Sujud syukur Alhamdulillah akhirnya saya ada kesempatan lagi buat nulis disini. Ya, setelah fase males – mau nulis tapi galau – dan dilema berkepanjangan, akhirnya saya bisa nulis lagi disini. Kali ini akan saya ceritain gimana perjalanan saya berkelana di Batujajar, Bandung.

Batujajar merupakan kecamatan yang terletak di Bandung Barat. Selengkapnya kalian bisa ngecek di google maps atau wikipedia tentang daerah ini.

Pada hari itu, saya diajak sama abang saya dan istrinya untuk nemenin keluarga istrinya jalan-jalan dan silaturahmi kerumah salah satu keluarganya didaerah Batujajar. Saya sih mau aja karena ada label ‘jalan-jalan’. Jadi, pagi itu saya, abang saya, istrinya, keponakan saya, mertuanya abang saya, kakak iparnya abang saya berserta anaknya, dan satu sepupu saya yang dijadiin supir.

Berangkatlah kami bersama-sama dengan menggunakan satu mobil. Rute perjalanan kami dari tol cikampek, sama saja dengan rute perjalanan ke Bandung. Cuma beda pintu keluarnya. Biasanya kalo ke Bandung itu keluarnya di tol pasteur, ini keluarnya di tol padalarang.

Nah, disini petualangan dimulai.


Jreng... Jreng... Jreng...

Mertuanya kakak saya begitu keluar dari Padalarang langsung ngarahin ambil jalan kekiri, arah Cimareme. Meluncurlah kami semua ke Cimareme. Udah sampai Cimareme bingung. Kata mertuanya abang saya dia daerahnya dekat dengan sekolah. Begitu sampai sekolah yang ada, mertuanya abang saya malah kebingungan. Yaudah kita balik lagi kejalan sebelumnya. begitu sampai jalan sebelumnya disuruh cari sekolah lagi. Begitu terus sampai dua kali.

Akhirnya kita berhenti diwarung pinggir jalan. Disitu maksudnya mau bertanya sama mas penjaga warungnya. Saya udah santai dong, saya fikir dia nanya jalannya aja. Eh gataunya......


Berikut percakapan mertuanya abang saya dengan penjaga warung tersebut.

MA; Mertuanya abang, PW; Penjaga Warung.
MA: Misi bang, mau nanya.
PW: Iya Ceu, kenapa?
MA: Tahu rumah pak Cecep enggak?
PW: Pak Cecep mana ya?
MA: Ituloh yang pensiunan A*RI
PW: Wah enggak kenal saya Ceu.
MA: Oh, berarti abang bukan orang lama ya. Bukan orang asli sini.
PW: Emang kenapa Ceu?
MA: Kalo udah lama pasti kenal dan tahu dia, soalnya dia terkenal disini. Yaudah punten.

Saya cuma bisa bengong aja denger percakapan mertuanya abang saya sama penjaga warung tersebut. Dalam hati saya; “LAH EMANG PAK CECEP ITU SIAPA? DIA TERKENAL DIKAMPUNG SINI?” Dan sedihnya lagi percakapan tersebut dilakukan disetiap warung. Dari ujung jalan Cimareme sampai akhir. LAH BAYANGIN AJA KALO CIMAREME SEGEDA JALAN RAYA BOGOR DAN BERHENTI DI SETIAP WARUNG NANYA KENAL PAK CECEP ATAU ENGGAK?!!!!! Emosi jiwa banget saya itu. Untungnya ya Cimareme enggak segede Jalan Raya Bogor, jadi saya enggak depresi banget.


Setelah nyasar-nyasar dan hampir penghujung kampung Cimareme, kami menemui titik cerah. Kebetulan warung yang kesekian kalinya kami tanya dan kami singgahi adalah salah satu RT di wilayah tersebut. Berikut percakapan mertua abang saya dengan RT tersebut.


MA: Pak kenal Pak Cecep?
RT: Pak Cecep mana ya Bu?
MA: Ituloh yang pensiunan A*RI

RT: Yang mana ya Bu? RT RW berapa?
MA: Wah saya enggak tahu RT berapa, dulu pas Saya kesini belum ada RT RW.

RT: Lah emang terakhir kesini tuh kapan Bu?
MA: 50 tahun lalu, udah lama banget deh.

Jreng jreng jreng, muka pak RT tersebut udah mau nangis. Dan saya yang ngeliatin aja udah pucat pasi. YA DIFIKIR AJA DONG, TERAKHIR KESANA 50 TAHUN LALU DAN KONDISI 50 TAHUN LALU DISAMAIN SAMA SEKARANG? *Nangis dibawah guyuran bensin*.


Pak RT tersebut mencoba untuk tetap tabah dan sadar menghadapi tingkah laku mertuanya abang saya. Dan saya sendiri sudah mengibarkan bendera putih, berharap cepat pulang saja ke Jakarta.

RT: kalo 50 tahun lalu, berarti beliau sudah tinggal lama disini ya Bu?

MA: Benar banget Pak!

RT: Ada sih warga RT saya, udah tinggal lebih dari 50 tahun. Belum pindah-pindah. Namanya Cecep juga.

MA: Wah itu pasti orangnya!

Dengan pedenya mertuanya abang saya minta diantarkan RT kerumah tersebut. Kami semua mengikuti dengan dibelakang pelan-pelan dengan menggunakan mobil. Kami semua sudah pasrah dan yakin kali ini gagal lagi. Udah capek, berhenti ditiap warung masuk-masuk ke gang, hasilnya nihil. Intinya semua udah pasrah aja.


Begitu sampai dirumah tersebut EH TERNYATA BENER! ENGGAK SALAH ORANG. OH ALHAMDULILLAH YA ALLAH KAU MENDENGAR DOA-DOA KAMI SEPANJANG JALAN CIMAREME. *Sujud syukur*.


Dirumah keluarganya mertua abang saya itu, kami melepas penat, lelah, dan letih. saya yang selalu memamah biak dimanapun berada, memakan segala hidangan yang disajikan. Udah terlanjur capek, kesel, dan lapar. Sekalian aja saya makanin apa yang ada disitu. Maklum, masa pertumbuhan dan pemakan segala.


Pas mau jam makan siang, keluarga mertuanya abang saya ngajak ketambak keluarganya. Letaknya katanya dekat dari rumah. Yaudah berangkatlah kami semua kesana.


Daerah yang dituju sekarang adalah desa Pangauban, Batujajar, Bandung Barat. Tambaknya terletak didesa tersebut. Sepanjang jalan menuju tambak tersebut, kanan kiri pemandangannya adalah sawah. Duh Masha Allah, kuasaMU ya Rabb.


Begitu sampai disebuah tempat wisata, yaitu taman perancis, saya kira kita udah sampai. Ternyata belum. Kita masih harus jalan lagi ke tepi danau, lalu menaiki perahu untuk ketambak tersebut. Tambaknya terletak ditengah-tengah danau, mau enggak mau harus menggunakan perahu.


Sesampainya disana Masha Allah, benar-benar kuasaMU ya Rabb. Pemangannya bukan main. Danau tersebut, merupakan salah satu danau yang alirannya menuju waduk Jatiluhur. Maka tidak heran, gunung Bongkok, Lembu, dan Parang, terpapar nyata didepan.








Mungkin dari foto tidak terlihat jelas, tetapi jika berdiri disana akan terlihat jelas. Makan sianglah kami disana. Ditemani dengan pemandangan Bongkok, Parang, Lembu dari kejauhan. Sungguh suasana yang sangat jarang ditemukan dikota besar. Tidak ada rasa menyesal sedikitpun sudah nyasar dan bersusah payah mencari alamat. Timbal baliknya adalah diberi kenikmatan melihat salah satu keindangan Batujajar.


Singkat cerita kami semua pulang dengan bahagia. Tidak lupa untuk berfoto cantik dengan pemandangan disekitar yang amat menawan. Saya yang biasanya berbahasa asal, kalo udah ketemu sama keindahan alam, mendadak menjadi puitis yang bahasanya tidak masuk diakal dan juga tidak bisa dimengerti. Pendek kata hanya saya, alam, dan Tuhan yang tahu maknanya.





 



Alam mengajarkan kita untuk terus bersyukur akan kuasa sang pencipta. Bersyukur masih diberi mata untuk melihat keindahan alam. Bersyukur masih diberi kehidupan dan kesempatan untuk mecintai alam. Jangan sekali-kali kita rusak alam kita, cintai alam kita seperti kita mencintai diri kita sendiri. Sekian kata dariku yang masih merindukan Batujajar yang indah itu.