Saturday, May 14, 2022

Patah #Cerpen

Sumber; pexels.com


Jakarta, Juni 2020
 

"Aku bertengkar lagi dengan pacarku, diblock lagi." sebuah pesan kukirim padanya yang selalu menjadi tujuan terakhir setiap kesedihan datang menimpaku.


"Ya bagus, block balik saja." Jawaban singkat yang menurutku bukan solusi. Kuhela nafas sesaat, dan kubiarkan ponselku terbaring di atas kasurku.


------


Surabaya, Oktober 2020


"Aku putus lagi." Lagi-lagi kukirimi dia seutas pesan singkat. 

"Ya bagus. Kamu tidak lagi terjebak dalam hubungan tidak sehat itu." Lagi-lagi kuterima jawaban pesannya yang tidak memberiku solusi, kupejamkan mataku untuk sesaat. 

"Dika, ayo ketemu, temani aku nangis. Aku sedang di sini." Kutengok jam dinding, masih pukul 19.00 WIB, belum terlalu malam untuk keluar rumah.

"Aku sedang di luar kota, Minggu depan saja." 

"Lain kali saja kalau gitu." Aku matikan ponsel dan mulai terbenam dalam tangis.


Dika, orang yang aku datangi hanya setiap aku susah dan sedih. Setiap aku dalam kondisi yang baik-baik saja, baru jarang ingat dia. 

Setelah bertahun-tahun hidup bersama orang tua, pekerjaan mengharuskanku untuk menetap di kota ini selama dua tahun terakhir. Dan Dika menjadi orang pertama yang menemaniku ketika aku mendaratkan kakiku di kota ini.

------

Malang, Awal Desember 2020

"Sudahlah, tidak usah diingat-ingat lagi. Masih banyak ikan di laut." komentar Dika setelah aku bercerita panjang lebar tentang bagaimana berakhirnya hubunganku. Akhirnya aku bertemu dengan dia, setelah berbulan-bulan mengurung diri.

Aku hanya tersenyum dan tidak membalas kata-katanya. Kususuri langkah demi langkah alun-alun Malang, tempat kami bertemu malam itu.

"Jam segini Malang udah sepi ya. Beda sama Jakarta yang hidup setiap waktu. Rasanya aku kesepian terus di sini. Tapi kalo untuk hari tua nanti, lebih baik tinggal di Malang memang. Tenang dan sepi." 

Alih-alih membalas perkataannya, aku lebih memilih mengomentari kota tempat dia membawaku pergi malam ini, menghilang sejenak dari hiruk-pikuknya Surabaya.

"Fisikmu di sini tapi hatimu di Jakarta. Jadi ya setiap saat pasti terasa sepi, walaupun banyak orang lalu-lalang menemanimu."

Kuhentikan langkahku dan kutengok dia di sampingku yang juga menghentikan langkahnya. Ada rasa yang tidak karuan saat bertatapan mata dengannya. Walaupun sering bertemu dan beradu pandang, aku tidak pernah merasa seperti ini.

“Dika, aku mulai jatuh hati. Tapi entah dengan perasaanmu.

------

Surabaya, Januari 2021


Semakin hari aku dan Dika semakin dekat. Setiap aku ingin melakukan sesuatu, pasti aku meminta dia menemaninya. Dia selalu bersedia setiap aku meminta ditemani kemanapun atau melakukan apapun.

Tidak pernah aku tidak menghubunginya, dalam sehari saja pasti aku menghubungi dia, entah itu hanya pesan singkat atau panggilan seluler. Dia yang tidak pernah marah, dan terganggu setiap aku menghubunginya. Meski kadang aku tahu dia jenuh setiap saat aku hubungi. Maka, aku mulai mengurangi intensitasku, namun tetap menjaga komunikasi.

Hari-hariku bersama Dika, membuat aku lupa akan rasa sakit yang diciptakan oleh masa laluku. Tidak pernah terlintas sedikitpun rasa rindu setelah ditinggalkan begitu saja oleh masa lalu. Dika sudah membuat pikiranku teralihkan sepenuhnya.

Dika tahu tentang perasaanku, namun aku tidak tahu sama sekali apa yang ada dalam hatinya. Bagiku saat itu tidak masalah, yang penting dia selalu bersamaku.

------

Surabaya, April 2021


Dika mulai menjauh. Setiap pesan yang aku kirimkan hanya dijawab singkat olehnya. Setiap aku minta ditemani entah itu kemana, dia selalu saja sibuk. Meski pada akhirnya aku memiliki kesempatan bertemu lagi dengan dia. Rasa rinduku memuncak saat melihatnya. Namun, aku tau ada sesuatu yang berbeda. Terasa sekali ada jarak di antara kita.


Dia seperti orang asing, kembali menjadi seseorang saat pertama kali aku mengenal dia. Saat kami masih hanya menjadi seseorang yang berkomunikasi secara formal dan terasa tidak pernah terjadi apa-apa antara kami. 

 ------

Mei 2022


Setelah pertemuan terakhirku itu, aku sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Dika. Untuk apa mengejar sesuatu yang memang sudah tidak ingin dikejar lagi. Tapi hatiku masih tetap memikirkannya, meskipun tidak lagi bersamanya.


Entah apa salahku padanya. Berkali-kali aku mencoba mencari tahu, namun tetap tak berhasil kutemukan. Namun, kali ini aku tahu jawabannya.


Dia datang kembali, dengan undangan di tangannya. Ternyata selama berbulan-bulan ini dia sibuk dengan dirinya sendiri dan persiapan akan hari bahagianya. Kata maaf keluar dari mulutnya. Aku memaafkan, tapi tidak melupakan.


“Terima kasih Dika, kamu yang menyembuhkan namun kamu juga yang kembali mematahkan.” 

21 comments:

  1. Hemm, cerpen yang berasa pengalaman pribadi yah... Tapi kenapa dia gak pernah mengungkapkan perasaan atau nanya perasaannya Dika ke dia? Paling ngga kalo satu sama lain tau perasaan masing-masing, rasa kecewa bisa diminimalisasi.

    ReplyDelete
  2. Karakter aku di cerpen ini kayaknya cuma sekedar kesepian aja, belum tentu beneran suka sama Dika nih kayaknya..hehe..
    Dikanya jadi kayak ngga ada "saingan", jadi belom keliatan karakter aku ini beneran kangen atau sekedar kesepian (yang siapa aja bisa isi)..
    Tapi kasus kayak gini, emang sangat dekat dengan kehidupan sehari - hari, jadi menarik buat diangkat :)

    ReplyDelete
  3. Jangan sedih sedih ceritanya la

    ReplyDelete
  4. Terkadang kebiasaan-kebiasaan kecil bikin hati bergetar dan perlahan melupakan masa lalu ya kak. Namun sayang sekali sang tokoh utama harus dipatahkan untuk kedua kalinya.

    Ini curhat pribadi bukan sih, kepo Antin haha

    ReplyDelete
  5. Kok rasanya aku lagi baca curhatan si Pipi Bolong, semoga suatu saat si aku menemukan jodoh terbaik di saat yang tepat, ya! Dan jangan baperan dong si tokoh aku. Baper kalau udah ada kepastian aja, anggaplah semua teman, sebelum ada kepastian, hehe

    ReplyDelete
  6. Wahh Dika ini cukup meresahkan ya, main mainnin perasaan anak orang aja, wkwkwk

    ReplyDelete
  7. Muhamad PrasetyoMay 21, 2022 at 1:17 PM

    aku jadi baper sendiri bacanya
    Keren

    ReplyDelete
  8. Mungkin ini namanya cinta ada karena terbiasa. Karena sering curhat dan jalan bareng jadi ada getar2 di hati. Walaupun akhirnya patah hati lagi. Huhuhu

    ReplyDelete
  9. Ya ampun Dikaaaaaaaa! kudu dijewer nih hahahahahhah

    ReplyDelete
  10. Ini curhatan lu bukan sih La? Hehehe canda! Tapi emg nih Dika meresahkan banget dah jadi laki...

    ReplyDelete
  11. Masalah hati memang rumit.

    ReplyDelete
  12. Plot twist ceritanya keren..😍👏 menghanyutkan!
    Terinspirasi dari mana ini kak Lala ceritanya...

    ReplyDelete
  13. Cerpennya bagus. Tema yang sering dipakai buat bbrapa cerita khidupan orang dewasa :D
    Hanya saja critanya terlalu cepat. Pembangunan karakternya kurang. Jadi yaa tiba-tiba muncul begitu aja...hihihi

    Semangat kalau mau bkin cerpen lagi.

    ReplyDelete
  14. Aku: Dika, kamu jangan biki aku baper dong. Sebenernya sayangnya kamu ke aku itu gimana sih? Akutuh suka sama kamu. Sayang. Cinta. Kamu gimana? Biar hatiku tenang. Kalau kamu nggak cinta, yaudah kita temenan aja. Biar aku bisa buka hati buat yg lain. Jangan bikin aku resah
    Dika: 🤔

    ReplyDelete
  15. emang ya kalau lagi patah hati, terasa butuh orang baru untuk bersandar dan menambatkan perasaan, Dika ada pada saat-saat itu, tapi ternyata Dika udh pilihannya sendiri :(

    ReplyDelete
  16. Pukpuk buat aku. Yang terbaik tidak perlu diminta untuk bisa bertahan. Semoga aku lebih cepat mengikhlaskan.

    ReplyDelete
  17. :Plot twist ceritanya keren..😍👏 menghanyutkan!
    Terinspirasi dari mana ini kak Lala ceritanya...

    ReplyDelete
  18. Pengalaman pribadi ya la?.. Semoga dapat yang lebih baik la, aamiin.. Semoga dika bahagia 😁

    ReplyDelete
  19. Ah bangke, benci aku cerita seperti ini. Persis seperti kisahku

    ReplyDelete
  20. Lapang dada saja. Walau agak nyesek.
    Wah, kok kayak lagi curhat ya, la. Bagus berarti, bisa buat cerita fiksi semeyakinkan itu.

    ReplyDelete
  21. Kurang panjang ceritanya. Nanggung, La. 😄

    ReplyDelete