Saturday, April 21, 2018

Bahagiaku Tertinggal di Geopark Ciletuh



Dimulai dari niat yang selalu tertanam dalam fikiran setiap rasa resah datang melanda. Saya memulai kembali perjalanan dengan rasa nekat. Lama sudah tak merasakan sensasi "auto pilot" dalam setiap perjalanan, dan kali ini saya rasakan kembali dalam cerita saya ketika mengunjungi Geopark Ciletuh.

Geopark Ciletuh merupakan kawasan wisata yang sedang hits belakangan ini. Terletak di Ciwaru, Sukabumi, Jawa Barat. Geopark Ciletuh merupakan Geopark Nasional Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO pada tahun 2015 lalu. Dalam hati saya adalah, masa banyak turis yang sudah berkunjung ke sana sementara saya belum, padahal letaknya hanya sejengkal dari Jakarta.

Perjalanan Menuju Geopark Ciletuh

Saya memulai perjalanan ini dengan melangkahkan kaki ke Terminal Kampung Rambutan pukul 23.00. Ketika saya sampai, ternyata bus yang menuju Sukabumi sudah tidak ada. Yang ada hanya tinggal ke Ciawi-Bogor, juga sedikit kenangan tentang dia ikut tertinggal. Dengan niat nekat, saya pun menaiki bus jurusan Ciawi tersebut, sama nekatnya dengan saya yang memutuskan berhenti memikirkan dia. Saat berangkat dari Kampung Rambutan, itu sudah pukul 01.00 dinihari.

Sesampainya di Ciawi, saya sempat bingung, melebihi bingungnya perasaan saya ke dia. Karena waktu itu sudah hampir 02.00 pagi. Akhirnya, setelah seperti biasanya saya modal "SKSD" dengan para warga sekitar, saya bertanya bagaimana cara menuju ke Pelabuhan Ratu, saya dianjurkan menaiki angkot arah Sukabumi yang saat itu memang berhenti di sepanjang sisi jalan. Dengan catatan berhenti di pertigaan Cibadak.
 
Akhirnya saya menaiki angkot arah Sukabumi tersebut. Cukup mendebarkan jantung karena abang angkot dengan lihainya salip sana salip sini, tikung sana tikung sini, sepertinya sewaktu muda terbiasa dengan tikung-menikung saat pacaran.

Sesampainya di pertigaan Cibadak, Alhamdulillah, ada bus yang langsung menuju Pelabuhan Ratu. Sempat terfikir saya akan luntang-lantung terlebih dahulu menunggu bus tersebut hingga pagi, ternyata bus yang menuju Pelabuhan Ratu dari pertigaan Cibadak itu ada 24 jam.

Bus pun berjalan tak lama kemudian, deru suara adzan subuh pun terdengar di mana-mana. Tak terasa saya tertidur dalam bus. Ketika saya membuka mata, sinar matahari pagi sudah menerpa wajah saya. Tenang dan damai menyelimuti saya pagi itu, walaupun setelah semalaman luntang-lantang naik turun kendaraan. Mendebarkan, juga membahagiakan.

Ketika sampai di Pelabuhan Ratu, saya fikir drama perjalanan ini akan berakhir. Ternyata tidak. Geopark Ciletuh itu terletak di desa Ciwaru, cukup jauh dari Pelabuhan Ratu. Sempat menengok kanan-kiri ternyata tidak ada angkot bertuliskan arah Ciwaru. Lagi-lagi dengan modal SKSD ngobrol dengan warga sekitar. Eh tidak tahunya, angkot tersebut ada depan mata saya sendiri, dan memang angkot tersebut tidak bertuliskan apapun. Angkot tersebut hanya ada satu atau dua setiap harinya, dan hanya berangkat pagi-pagi.

Perjalanan menuju ke Ciwaru sendiri tidaklah mudah. Melewati banyak sekali jalanan rusak dan naik turun tanjakan. Selain itu, juga sedikit penumpang yang menuju arah sana. Pantas saja sedikit sekali angkot yang menuju arah sana. Tapi tenang, rasa sayang saya ke dia tidak pernah berhenti sedikit pun.

Tengah hari, saya sampai di Terminal Ciwaru. Jangan senang dulu saat membaca tulisan ini, karena masih ada sedikit perjuangan lagi untuk menuju Geopark Ciletuh. Untuk menuju Geopark Ciletuh, saya masih harus menaiki ojek terlebih dulu. Untungnya, sebelum berangkat tadi, saya sudah menyewa penginapan, yaitu penginapan Bakalembang. Langsung saja saya minta arahkan menuju ke penginapan tersebut.
  
Setelah sampai penginapan, saya pun langsung membersihkan diri serta istirahat agar bisa terlihat cantik dan menawan nantinya. Tak lupa saya memakai pelembab aloe vera dari Nature Republic dan Sunscreen Wardah SPF 30 agar kulit saya senantiasa lembab dan tak terbakar. 

Berbekal motor yang saya sewa dari penginapan, maka dimulailah kembali perjalanan saya. Ada apa saja sih di Geopark Ciletuh? Ada banyak! Tapi tak semua bisa saya paparkan di sini, seperti hubungan kita yang tak pernah bisa terpaparkan jelas.

Pantai Palangpang 

Pantai Palangpang biasa disebut juga dengan "pintu masuk" Geopark Ciletuh. Di pantai inilah terukir tulisan Geopark Ciletuh berwarna kuning cerah yang menjadi spot foto incaran setiap pengunjung. Pantai Palangpang memiliki hamparan pasir hitam yang manis dengan air berwarna kecoklatan di muaranya. Cukup manis untuk dijadikan tempat berpose ketika senja datang.


  

Curug Sodong

Curug Sodong atau biasa disebut dengan Curug Kembar. Terletak di Ciemas. Berada tidak jauh dari Terminal Ciwaru, kurang lebih sekitar 20 menit dari Terminal Ciwaru. Memiliki ketinggian sekitar 20 meter. Asal muasal disebut Curug Kembar adalah karena dua curug yang berdampingan layaknya Curug Kembar. Ada juga yang menyebutkan dengan Curug Penganten, karena layaknya sepasang penganten yang berdampingan. Mitosnya, pasangan kekasih yang belum menikah dilarang keras berenang di curug ini, karena nantinya kan tenggelam. Tapi itu hanya mitos yang. Tidak tahu benar atau tidak karena kebenaran mutlak hanya milik Tuhan dan wanita yang sedang marah.
 





Puncak Darma

Puncak Darma atau biasa disebut dengan "Primadona Ciletuh" merupakan satu-satunya tempat "penenang hati" untuk saya. Bagaimana tidak, di Puncak Darma kita bisa melihat keseluruhan Geopark Ciletuh, bahkan sedikit Pelabuhan Ratu pun terlihat di sana. Untuk menuju Puncak Darma bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali tanjakan terjal juga tikungan tajam untuk sampai di sana. Tetapi semua kalah dengan pemandangan ciamik yang ada di puncak tersebut!


 



Begitulah sedikit rangkaian cerita yang bisa saya bagi saat perjalanan ini. Jika kalian bertanya, apa kesan saya selama perjalanan ini? Jujur saya sangat senang! Dideru rasa bingung, penasaran, berjalan tak jelas arahnya, mengedepankan insting, serta keberanian yang matang untuk menuju ke tempat ini. Sampai jumpa lagi pada perjalanan auto pilot berikutnya!  


Salam, Pipi Bolong!