Sunday, March 18, 2018

Seutas Kata Untuk Ayahanda



“Pah, adek kangen....”

Sebagai anak bungsu dari dua bersaudara dan merupakan satu-satunya perempuan, membuat saya mendapat tempat spesial di hati kedua orangtua saya, terlebih ayahanda.

Papa, begitu saya selalu memanggil beliau. Selalu memperhatikan kebutuhan saya sedari kecil, hingga sekarang ini. Beliau tidak pernah berhenti memberikan seluruh perhatiannya untuk saya. Meskipun kini saya sudah bukan tergolong anak kecil lagi.

Papa selalu menganggap saya sebagai anak kecil. Jelas sekali, walaupun saya sudah bekerja, beliau tetap memperlakukan saya layaknnya anak kecil yang masih beranjak dewasa. Jika hujan turun saat hendak berangkat kerja, beliau akan mengantarkan saya tepat sampai di lobby gedung tempat bekerja. Atau, saat harus pulang terlalu malam ketika harus mengerjakan pekerjaan yang tidak kunjung selesai, beliau dengan sigap akan menjemput saya tepat di depan ruangan kantor saya.

Tidak hanya urusan antar-mengantar, soal laki-laki dia juga sangat protektif. Tanyakan saja kepada setiap lelaki yang saya kenalkan kepada beliau, dia akan berlaku judes layaknya melihat musuh sendiri depan mata. Seolah tak rela jika anak gadisnya jatuh cinta kepada orang lain selain dirinya. Seolah tak rela jika suatu saat anak gadisnya ini menjadi milik orang lain.

Namun, sayangnya semua perhatian dan perlakuan beliau kepada saya harus berhenti saat saya berumur 25. Pada akhirnya, yang maha kuasa memanggil dia lebih dulu ketimbang harus melihat anak gadisnya duluan untuk diambil orang. Pada akhirnya, dia yang pergi duluan meninggalkan anak gadisnya, ketimbang melihat anak gadisnya pergi duluan dengan lelaki pilihannya.

Papa memang memiliki riwayat sakit jantung dari tahun 2009, tidak hanya sekali beliau divonis memiliki umur pendek. Tidak hanya satu dokter yang berkata seperti itu. Namun, beliau tetap optimis untuk kesembuhan dan kesehatannya.

Masih teringat jelas, beliau mengeluhkan dadanya sakit saat pulang dari Surabaya. Ketika kami membawa beliau kerumah sakit, dokter bilang seperti gejala penyakit jantung koroner. Dan, dokter pun menyuruh untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Setiba di rumah pun, saya langsung mencari tahu apa itu jantung koroner. Ternyata jantung koroner merupakan salah satu bagian dari penyakit jantung yang mematikan dan belum ada obatnya. Jantung koroner berasal dari rokok. Sebelumnya, papa memang perokok berat yang tidak bisa menghentikan kebiasaannya. Dan ternyata, memang itulah sumber segalanya.

Saat itu kami sekeluarga seperti tidak memiliki harapan, saya pun pasrah. Sedari 2009, saya sudah pasrah jika suatu saat nanti papa memang harus pergi. Perasaan itu semakin menjadi ketika dokter memang memvonis papa memiliki jantung koroner, dan bagaimana melihat papa harus bolak-balik rumah sakit karena penyakit jantungnya itu.

Tetapi, kami sekeluarga tetap optimis bahwa papa bisa sembuh. Kondisi papa dari tahun ke tahun pun semakin baik. Bahkan saat beberapa tahun terakhir, papa hanya meminum obatnya saat akan bepergian jauh atau saat menyetir. selebihnya tidak.

Namun ternyata, harapan tetaplah harapan. Malam itu, 28 Februari 2018 pukul `00.30 pagi, kakak ipar membangunkan saya. Sayup-sayup terdengar suara syahadat dari ruang tengah. Ternyata mama sedang mengurus papa yang merintih kesakitan.

Saya terdiam saat menghampiri mereka, tanpa terasa saya menangis melihat papa. Sementara papa, dengan sabarnya tetap mengoleskan minyak ke sekujur tubuh papa agar papa terasa lebih hangat. Tak lama kemudian abang saya ikut datang menghampiri dan ikut membisikan syahadat kepada papa.

Selagi terus membisikan syahadat, mama bercerita papa kumat saat hendak shalat malam. Beliau memang biasa shalat malam saat tengah malam hingga fajar tiba. Dua kali juga papa step dan tidak bisa menutup mulut. Saya semakin terisak mendengar cerita mama. Papa pun melihat saya menangis dan melarang saya untuk menangis, bahkan jika nanti papa habis umur, saya tidak boleh menangis ataupun ikut menguburkannya.

Pukul 02.30, papa ingin buang air besar. Dan benar saja, kami meletakan pispot untuk papa buang air, dia mengeluarkan banyak sekali isi dalam tubuhnya.  Tidak berhenti hingga setengah jam berikutnya. Setelahnya, papa pun semakin merasa sakit dan sesak yang menjadi. Dan pukul 03.30, saya dan abang pun membawa papa kerumah sakit.

Tak lama sampai rumah sakit, kakak menemani papa masuk ruang IGD, sementara saya mengurus administrasi. Selagi saya masih mengurus administrasi, suster berlarian menuju ruang IGD. Saya pun merasa tidak enak lagi. Saya ikut lari menuju ruang IGD, dan melihat kakak sudah menangis tersedu-sedu. Sementara dokter, masih terus mencoba untuk melakukan segala yang terbaik untuk papa.

Innalillahiwainnailahirodjiun, pukul 04.07 papa akhirnya berpulang kepada yang maha kuasa. Semenit setelah dokter menyuntikan obat, nadinya langsung berhenti. Beliau pulang dengan mengucap syahadat tanpa henti di bibirnya.

“Terima kasih banyak, papa. Atas 25 tahun yang memang terasa sangat sebentar ini. Adek selalu berharap dan berdoa kita bisa bertemu lagi nanti... Tunggu adek pah, adek sedang berjalan kesana....