Wednesday, February 21, 2018

Tentang Rindu, Pasangan Hidup, dan Move On

Berawal dari sebuah obrolan di grup whatsapp Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta, ada beberapa orang yang iseng membahas rindu sebagai bahan obrolan ringan juga sebagai penahan rasa kantuk di sela-sela jam kerja mereka.

Sebutlah dia Mbak Nunik sebagai penggagas rindu pertama yang kemudian ditimpali oleh Inggit, sang pecandu rindu.  Ada sahut-sahutan manis dari Mbak Yunita, juga ada Nasa, si perusuh obrolan. Orang yang tidak pernah bisa diajak serius seumur hidup. Bahkan saya yakin, kalaupun nanti dia ijab kabul, dia akan cengengesan di depan penghulu sembari menggoda sang penghulu.

Apa Itu Rindu?

Berbagai macam pendapat dikemukakan. Mulai dari rindu yang menyakiti hingga rindu yang dinikmati. Saya sendiri tidak pernah bisa mendefinisikan rindu. Sejak saya pernah menjalani long distance relationship, hingga sendiri sekarang ini. Untuk saya, rindu itu terasa jika dia tidak tahu dan tidak merasakan rindu itu. Sungguh, menikmati sekali rasa rindu yang menyakitkan itu. 

Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini dan lagi mungkin kini kau telah bahagia. -Yunita Tresnawati

Ku kira rindu itu baik ternyata aku salah
Jika kata Dilan “Rindu itu berat kamu tidak akan kuat, Biar aku saja”
Lain denganku “Rindu itu menyesakkan, Hingga aku pun muak dengan rindu ini”
Aku tau dia merindukanku tapi dia selalu menutupinya
Dan bodohnya aku pun juga begitu. - Inggit Komala

Lalu ada sebuah pertanyaan yang menurut saya sangat konyol. Saking konyolnya saya tahu bahwa dia sendiri sedang rindu-serindunya atau memang otaknya sedang bergeser 5cm.

Pernah enggak ngerasain rindu serindu- rindunya rindu tapi enggak tau sama siapa? 

Sebut saja dia Inggit yang melempar pertanyaan itu. Saking dia mau rindu orang tapi dia tidak tahu mau rindu siapa. Antara dia jomblo ngenes atau emang single. Lambat laun banyak yang nimbrung obrolan tentang rindu ini. Bahkan pertanyaan Inggit yang konyol itu mendapat respon dari Bang Eka, Admin Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta. 

Ini sebenarnya hampa akut, karena rindu itu ada objeknya. -Eka Siregar 

Dhuarrr! Menyebut-nyebut hampa saya langsung tersentil. Karena memang saat itu saya dalam proses hampa yang akut, setengah depresi, dan total hilang arah.

Baca juga : 7 Kelakuan Perempuan Saat Putus Cinta


Tetapi saya tidak seperti Inggit yang tidak tahu mau ditunjukan kepada siapa rindunya. Saya memiliki objek yang saya rindukan, yang saya fikirkan, dan saya tangiskan. Nyata, namun tak tersentuh lagi. Sebut saja dia masa lalu yang masih terngiang-ngiang di telinga, fikiran, dan hati.

Bagaimana menyikapi rindu yg datang tiba-tiba ketika kita sudah melepaskan? -Lalaysf

Mendapat jawaban manis dari admin satunya lagi, manis banget. Saking manisnya mau saya kasih gula sekilo ke wajahnya lalu dicampur teh biar kalau kesel tinggal saya minum.

Karena rindu setitik rusak move on setahun. -Achi Hartoyo

Obrolan pun berpindah menjadi bagaimana perempuan rindu yang penuh kode-kode. Bagaimana lelaki harus bisa menyikapi dan menangkap kode rindu dari perempuan. Perempuan memakai perasaan dalam menunjukan apapun, sementara lelaki menggunakan logikanya.

Jadi, menurut saya itu adalah perpaduan yang cocok. Ketika kita menunjukan perasaan kita, seharusnya lelaki menangkap perasaan kita dengan logikanya, bukan dengan ketidakpekaan dia. Pintar-pintarlah kalian merangkai kata dan sikap dalam menjaga hati sang perempuan. 

Lalu, mulailah para lelaki bertanya tentang bagaimana menaklukan perempuan yang penuh dengan kode-kode yang lebih sulit daripada kode morse. Di situ saya tersenyum dan tertawa-tawa sendiri membacanya. Saya bukan tipe orang yang kode-kode, namun saya akan langsung menunjukan dan mengatakan apa yang saya rasakan. Meski kadang itu berdampak buruk pada diri saya, setidaknya itu lebih baik daripada membuat para lelaki itu bingung.

Bagaimana Menaklukan Perempuan?

Bang Eka bercerita bahwa seumur hidupnya bilang tidak pernah susah menaklukan perempuan. Tetapi, alam yang pisahkan. Menurutnya perempuan itu butuh rayuan dan perhatian. Lagi marah dirayu juga nanti diam. Diberi rayuan bertubi-tubi juga nanti meleleh.

Langsung saja mendapat applause dan dinobatkan jadi Dilan Masa Kini! 

Berbeda dengan Mas Achi yang berfikir untuk menaklukan perempuan cukup diberi kunci mobil, kartu debit dan kredit untuk belanja, serta rayuan maut. 

Ini juga benar menurut saya, meskipun saya tahu ini hanya celetukan dan dia tidak mungkin melakukannya. Hahaha!

Mbak Ariwidi pun merespon semua perkataan Bang Eka, menurutnya itu benar. Dia sendiri menyukai lelaki yang lucu dan cerdas. Bisa menghibur hidupnya. Pernyataan Mbak Ariwidi ini membuat obrolan pun berpindah tentang pasangan hidup.

Bagaimana Mencari Pasangan Hidup?

Lagi-lagi Bang Eka, sebagai seseorang yang sudah merasakan pahit manisnya hidup, sudah merasakan asam garam tentang cinta, jatuh dan bangun berkali-kali pun membagi pengalamannya. Kata dia, jangan pernah mencari pasangan hidup yang kita suka, karena kalau kita suka biasanya tidak akan dapat dan itu bahaya!

Cari yang bisa melengkapi hidup kita, biasanya itu yang gak kita miliki, bisa jadi yang kita benci. Dan yang terakhir, cari yang membawa kita ke surga. -Eka Siregar

Lalu, saya teringat banyak orang yang menentukan pasangan hidup berdasarkan kriteria yang dimiliki, berniat bersikeras mencari sesuai kriterianya. Karena menurut mereka, kriteria tersebut yang dapat membahagiakan mereka nantinya.

Apa Itu Kriteria Pasangan?


Menurut Bang Eka, kalau kita sudah dekat dan menjadi pasangan jangan pernah suka apa yang kita suka dari dia. Orang-orang biasanya bicara kriteria dalam hidup berumah tangga, lebih kepada apa yang diharapkan kepada pasangannya dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari nanti. Bukan pada sifat haqiqi dari pasangannya.

Pasangan dalam artian di sini adalah, pasangan hidup yang sudah melakukan akad ataupun janji sehidup semati. Sudah menikah, bukan pacaran. Sementara, pacaran kondisi dimana kira sedang memilih orang yang cocok buat hidup kita, makanya tidak bagus.

Jika ada seseorang yang menilai calon pasangan hidup melalui sifatnya, itu wajar. Asal jangan terjebak penilaian. Karena apa yang kita nilai belum tentu baik untuk kita. 

Pasangan Itu Bukan Untuk Dipilih!

Sama halnya dengan mantan-mantan yang dipilih menurut tipe. Hal tersebut membosankan. Karena memang sudah sesuai kemauan kita dan sama sekali tidak ada tantangannya. Jangan banyak milih! Karena justru yang paling tidak inginkan biasanya takdir kita.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Kita cenderung bosan dengan apa yang kita suka, karena yang kita suka biasanya cerminan diri kita. 
Maka kita akan terus mencari kekurangan dia!

Pertanyaan paling penting saat mencari pasangan:

"SAAT MENIKAH NANTI, KITA MAU JADI APANYA DIA?"

Jawabannya harus:
Jalan dan pintu kita ke Surga.


Bila perlu cari yang sulit kita mengerti seumur hidup. Maka seumur itu pula hidupmu gak akan membosankan. By the way, ada yang salah dengan kata memilih pasangan hidup. Pasangan hidup itu bukan untuk dipilih. Banyak sekali contoh dan statistik yang menunjukkan keberhasilan rumah tangga karena tidak memilih pasangan. Pasangan hidup itu saling menemukan. Bisa karena orang lain, dijodohkan. Bisa karena niat, jumpa langsung nikah. Pasangan itu jodoh yang saling menemukan, bisa karena orang lain, bisa karena niat. -Eka Siregar 

Langsung saya teringat obrolan saya dengan beberapa teman. Mereka bercerita, bahwa cerminan diri mereka adalah dalam iman dengan pasangan. Bukan dari paras, harta, ataupun kepribadian. Menurut mereka, jika menyukai seseorang dari parasnya, maka ketika berpasangan akan diuji oleh paras tersebut. Entah salah satunya dibuat paras seburuk mungkin atau lainnya. Jika menyukai seseorang dari harta, maka ketika berpasangan nanti akan diuji oleh kekayaan dan kemiskinan. Jika menyukai dari kepribadian, maka ketika berpasangan nanti akan diuji dengan dirubah kepribadiannya. 

Lain halnya dengan mencintai karena iman, sesungguhnya cinta mereka akan dikokohkan oleh Allah dan menjadi jalan pintu kita kesurga.

Ketika berpacaran, kita cenderung memilih sesuai isi hati kita. Padahal itu bisa saja semu. Apa yang kita lihat, belum tentu sebenarnya yang ada dari calon pasangan kita ini.

Nah makanya, jangan pacaran! Kesalahan fatal dalam pacaran itu menilai. Seringkali menilai apa yang sudah diterima dan diberi. Bukan merasakan apa yang dijalani. Obrolan pun berlanjut menjadi move on, putus cinta setelah pacaran. Ini bagian terpenting buat saya dari serangkaian percakapan ini.

Move On?

Berdasarkan obrolan kriteria, saya jadi berfikir bagaimana tentang seseorang yang sudah menjalani hubungan begitu lama dan berpisah begitu saja hanya karena sifat mereka tidak sesuai kriteria masing-masing. Apakah harus tetap dipertahankan? Atau berubah menjadi orang yang sesuai kriteria tersebut? Atau dilepaskan begitu saja?

Carilah orang yg mau menerima duniamu, dan kamu juga menerima dunianya. -Rafli Rinaldi Latif

Saya sendiri masih bingung dengan pernyataan di atas. Apakah berkesinambungan dengan mencari yang "bukan kita banget" seperti apa yang Bang Eka bilang, ataukah tentang menerima apa adanya? Menurut saya, ketika kita sudah jatuh cinta kepada seseorang, maka kita akan menerima baik buruknya dia, kita akan menerima segala kebaikan dan kesalahan dia, kita akan menerima segala permintaan maaf dia walaupun sudah berkali-kali menyakiti. 

Dengan statement saya itu, Mas Achi bilang; bahwa perempuan itu rata-rata menikmati patah hati. Jika perlu diperpanjang. Dan benar, perempuan menerima segala rasa yang muncul di hidupnya kini. Ketika perempuan tertidur lalu terbangun kemudian menangis karena rindu mencekam tiada henti. Ketika orang-orang bertanya tentang dia dan tidak bisa menjawab apapun. Dan ketika harus menerima kenyataan bahwa dia sudah memiliki hati yang baru. Sungguh, perempuan menikmati rasa sakit ini sebelum pada akhirnya perempuan bisa benar-benar pulih.

Sempat terfikir, apakah saya menikmati rasa sakit ini? Jujur, sampai saat ini pun saya masih berkomunikasi dengan mantan terakhir saya. Bukan hanya sekedar berkomunikasi, bahkan juga masih bertemu layaknya dua orang yang masih merajut kasih. Walaupun saya tahu bahwa dia juga sedang dekat dengan perempuan lain. Saya tahu, dia berusaha membagi waktunya menyempatkan dirinya untuk saya, dan di lain waktu juga dia berusaha ada untuk perempuan itu. Sungguh miris bukan? Hahaha.

Seorang teman juga bercerita, bagaimana dia merajut hubungan 7 tahun lamanya dan pada akhirnya harus berakhir kemudian ditinggal menikah dua bulan kemudian. Permanen rasa sakit itu. Selama 5 tahun dia merasakan kosong, tidak tahu tujuan hidup, tidak tau harus bagaimana. Marah, bingung, setiap ketempat kenangan mereka dan ketika bertemu dengan orang-orang yang mengenal dia sebagai pasangan mantannya yang kini telah menikah. Bagaimana orang-orang itu bertanya tentang mantan pasangannya? Yang hanya dibalas dengan senyum namun perih di dada.

Juga ada yang bercerita bagaimana dia sudah bertunangan dan harus menerima kenyataan bahwa dia pergi dengan yang lain. Bahkan sampai ada yang mengaku menghindari pacaran karena takut merasakan sakit hati. Dan ini semua perempuan yang bercerita.

Saya merasakan jelas apa yang mereka rasakan. Bagaimana rasa takut menyerbu saya. Takut dan malah benci pergi ketempat-tempat yang saya sukai dahulu. Hanya karena takut bertemu atau mengingat kenangan tentang dia.

Sebegitu buruknyakah efek dari patah hati bagi perempuan?

Laki-Laki Move On dengan Cepat?

Lagi-lagi Bang Eka yang menjawab kegelisahan dan pertanyaan yang berkecamuk dalam hati para perempuan ini. Menurut dia, Perempuan susah move on, tapi setelah itu dia biasa saja. Laki-laki cepat move on. tapi move on semu. karena dia pasti ingat dan tetap "dendam" seumur hidup. Contohnya, nama mantan dijadikan anak. 

Tetapi, tidak semua lelaki move on semu menurut saya. Sebut saja Mas Achi yang susah move on berkepanjangan. Saya pernah menjadi orang yang paling malas dekat dengannya ketika dia patah hati. Dia bilang tidak tidur selama 2 hari, bahkan sempat cuti kerja. Yang paling parah, waktu kami ke Pulau Semak Daun, dia kehilangan bantal dari mantan pacarnya itu. Dan, dia galau bukan main, resah bukan main. Padahal itu sudah lumayan berbulan-bulan dari masa putusnya. Dan, sekarang dia baik-baik saja seakan dia lupa pernah 'segila' itu. Hahaha.

Tak kalah dari Mas Achi, ternyata banyak lelaki pernah patah hati mendalam. Ada yang bercerita bahwa dia dulu pacaran bukan untuk menikah. Seumur hidupnya, hanya 2 wanita yang dia dekati untuk dinikahi.

Dulu waktu pertama kali HARUS DIPISAHKAN oleh keadaan, yang saya lakukan adalah: Membaca semua surat/puisi dari dia berulang-ulang, melihat semua foto-foto kami terus, sampai pada akhirnya saya merasa biasa saja. Awalnya memang gak kuat mabok dan stress terus (ulu sempat jadi bandel), apalagi waktu itu kejadiannya kira2 1 tahun setelah saya sakit dan sampai divonis 2 tahun lagi usianya. Lagi masa penyembuhan. Hopeless banget. Dan yang sakitnya... Setelah mulai terbiasa... tiba-tiba masalah baru muncul. Dia kabur dari rumah suaminya. Lari ke rumah orang tua. Ketemu mama. Memeluknya persis seperti Milea memeluk Mama Dilan. Dengan postur dan rambut yang sama. Dan saya pun harus mengalah dan meninggalkan Medan demi kebaikan keluarga mantan. Sebelum dia meninggal, saya tahu selamanya dia sayang saya. 3 tahun kemudian. Dia hidup kembali. Jadi Neng kecil saya. Untuk seumur hidup saya.. Atas apa yang telah kami lakukan dan akan lakukan seumur hidup.. 2 bulan itu sebentar...

Ada juga yang berbagi cerita mantannya yang tidak bisa move on. Ketika dia masih SMA, dan mantannya mengajak menikah. Ya, dia minta putus, ketika putus lukanya sama-sama dalam. Ketika dia sudah biasa dengan kehidupannya, mantannya itu muncul kembali. Ini yang repot. Dan dia menceritakan ini dengan gaya humorisnya, membuat saya malah tertawa-tawa membacanya.

Hanya waktu yg dapat menyembuhkan luka. - Nunik Utami

Akan ada masanya, badai yg dahulu meluluhlantakanmu, akan jadi bahan lelucon bagimu.- Nasa Lagi Bijak

Take your time. Selama yg dibutuhkan. Jadi pas jatuh cinta lagi itu pasti bukan pelampiasan. -Zaoza Faradilla

Bukan waktu yg menyembuhkan luka, tapi kita yang milih untuk sembuh. -Yunita Tresnawati

Pernyataan-pernyataan di atas membuat saya sadar. Bahwa kita susah move on karena tidak ingin jatuh cinta lagi hanya karena terburu-buru melupakan cerita yang lama dengan mudahnya. Tidak pernah ada yang mengizinkan hati ini sakit, bukan orang lain yang patut disalahkan atas rasa sakit ini. Bukan masa lalu. Tetapi diri sendiri yang mengizinkan mereka menyakiti kita. Biarkan saja cerita ini berjalan dan waktu yang menyembuhkan. 

Mas Achi bilang, penyebab rapuh ini karena sisi spiritual kita yang kurang mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa. Berkali-kali manusia jatuh dan rapuh, berkali-kali jugalah untuk memaafkan dan jangan mendendam. Mintalah kepada pemilik hati, bukan orang yang diamanahkan untuk menjaga hati tersebut. Ingatlah darimana kita berasal, untuk apa kita hidup? Dan apa yang terjadi setelah kita hidup? Itu semua agar jiwa kita tidak rapuh.

Maafkanlah, fikiran negatif hanya menguras energi. Tetapi Ingat, jika perempuan sudah merasa tersakiti, selamanya dia akan tersakiti. Kamu akan dimaafkan, tetapi tidak untuk dilupakan. Bisa jadi perempuan yang tersakiti memiliki trauma yang berkepanjangan namun tak ditunjukan. Hidupnya terlihat bahagia, namun tidak dengan kenyataan sebenarnya.

Fase jatuh cinta dan berpindah hati setiap orang itu memang berbeda-beda. Tidak usahlah takut karena dia sudah menemukan yang baru atau kamu masih terdiam di tempat yang lama. Menemukan belum berarti memiliki. Biarkan, biarkan dia tetap ada di dalam jiwa. Sejatinya, jika dia memang jodohmu maka dia akan kembali. Jika bukan, maka akan ada ganti yang lebih baik untukmu.

Nulis ini semua sambil mewek!

Terima kasih banyak untuk semua yang telah membuka mata saya dan memberi jawaban atas apa yang selama ini saya cari-cari. Terima kasih; Bang Eka, Mas Achi, Mbak Nunik, Mbak Yunita, Mbak Ariwidi, Inggit, Kak Zaoza, Kak Uwie, Kartini, Kak Ndari, Derus, dan semua teman kubbu yang tidak disebutkan. Semoga kebahagiaan selalu datang kepada kalian.

Salam, Pipi Bolong.



24 comments:

  1. Uhuk, tuhkan, kalau galau pasti makin produktif

    ReplyDelete
  2. Pengalihan yang positif, keren kak Lala...

    ReplyDelete
  3. Ditulis di sini banget? Ahahahaha... rajinnyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus dong! Hahaha. Ketika patah hati jadi karya.

      Delete
  4. Baca tulisan ini jadi inget bukunya Wira Nagara. DISTILASI ALKENA - DENGANMU JATUH CINTA ADALAH PATAH HATI PALING SENGAJA wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Dayu, terima kasih sudah mampir. Lain kali aku baca buku yang kamu promosikan itu.

      Delete
  5. Hmmmmm.... Bacanya sambil netes di kereta *baper bgt yak akuh...wkkwkw

    ReplyDelete
  6. Aku bacanya terharu juga, semangat ka lala.

    ReplyDelete
  7. Tulisannya keren banget..
    Kreatif dalam menggabungkan chat kubbu kemarin, saluut

    Aku termasuk yangtidak bisa disebutkan satu persatu..tapi aku senang jadi part of kubbu, walau masih newbie..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak, salam kenal! Lain kali namamu akan tertulis. :)

      Delete
  8. Jangan macam-macam dengan hati penulis, maka kau akan abadi 😁

    ReplyDelete
  9. Well done, Lala!
    Semakin tabah ya, Dik :)

    semoga dimudahkan jalan kedepannya :)

    ReplyDelete
  10. Lo udeg ngebayangin gw akad aj la wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampai gue block lo sehari lagi, Nasa! Hahahaha.

      Delete
  11. Ya ampun ada kalimat2ku. I feel U Lala and i'm so proud of U.

    ReplyDelete