Wednesday, December 27, 2017

Menikmati Senja di Pelabuhan Sunda Kelapa

Terkadang, saya merasakan rindu yang begitu hebatnya kepada seseorang, tapi orang itu tidak merasakan rindu yang sama. Miris. Namun, terkadang saya juga merasakan sedih yang begitu hebatnya dalam satu waktu karena seseorang. Namun, orang tersebut malah merasakan bahagia yang tiada taranya saat saya merasa sedih. Lebih miris lagi. 

Ketika merasakan hal-hal seperti itu, saya hanya ingin menyendiri dan pergi ketempat di mana saya dapat melihat senja dan lautan dengan indahnya. Karena saya percaya, air laut dapat membawa ketenangan tersendiri untuk saya, sementara senja memberikan keindahan bahwa masih ada yang lebih indah daripada sosok si dia.

Dan, Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi tujuan saya. Di mana letak Pelabuhan tersebut tidak terlalu jauh, masih dalam satu provinsi hanya berbeda kotamadya. Lumayan dekat dengan rumah saya, karena kalau yang jauh itu hati kita.

Untuk menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, bisa menggunakan dua cara. Yaitu, dengan menggunakan bus Transjakarta dengan rute Blok M - Kota (koridor 1), atau dengan Pluit - Tanjung Priok (koridor 12). Jika menaiki Transjakarta, berhenti di halte Jakarta - Kota. Selanjutnya bisa dengan berjalan kaki ke arah utara kurang lebih 15 menit, ataupun dengan menaiki bajaj atau ojek online. Sesuka hati kalian saja nyamannya dengan yang mana. Asal jangan nyaman lalu ditinggalkan. Sakit.

Atau bisa juga dengan menaiki kereta dengan tujuan Stasiun Jakarta - Kota, turun di stasiun tersebut lalu sama-sama jalan kaki ke arah utara. Atau terserah kalian memilih apa. Sama pilihannya dengan menaiki Transjakarta. 

Untuk memasuki Pelabuhan tersebut untuk motor sewaktu itu dikenakan taris sebesar Rp 3000 sedangkan untuk per orang dikenakan tarif Rp 2500. Tidak terlalu mahal, sisanya bisa ditabung untuk menghalalkan si dia meski dia belum tentu mau, apalagi siap.

Bau air asin datang menyambut ketika sampai di pelabuhan tersebut. Anak-anak kecil berlarian dan bahkan ada yang menyeburkan diri ke dalam laut tersebut, kuli angkut yang sibuk dengan berbagai macam bawaan, serta kapal yang mempersiapkan diri berlabuh ke laut lepas. Jangan terburu-buru untuk mencapai tepi pelabuhan. Nikmati sekeliling dengan mata dan hati. 

Rasakan bagaimana menaiki perahu untuk berkeliling pelabuhan tersebut. Dengan tarif Rp 25000 per orang, saya sudah bisa menikmati duduk manis di atas perahu dan menikmati rindu yang ada. Eh, pemandangan yang ada maksudnya.

Tak terasa hari semakin sore, dan senja yang menjadi tujuan sudah mulai terlihat di depan mata. Maka berjalanlah pelan saya menuju tepi pelabuhan tersebut. Di mana laut terhampar luas dan bayang-bayang matahari senja seolah mengikuti arus ombak menuju tepian tidak berbatas. Dan, di sinilah perasaan tenang dan rindu itu kembali hadir. Namun tak bersama rasa sakit, karena sakit itu telah terbawa angin menuju laut yang penuh buih pasir. 

Sekian kata manis dari saya, semoga menginspirasi kalian menanti senja di Pelabuhan Sunda Kelapa. Karena kalau hanya menanti dia, seribu tahun pun belum tentu terjaga.

Salam, Pipi Bolong. 

7 comments:

  1. Wahhh. Warna sunsetnya cakep banget

    ReplyDelete
  2. Udah kangen banget sama Pelabuhan ini. Dulu sering banget sepedaan ke sini. Nggak senjapun bagus untuk nostalgia pelabuhan jaman dulu.

    ReplyDelete
  3. Saia sering ke Jakarta, tapi belum kesampean juga ke Sunda Kelapa. Senjanya ajib banget yak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, sedang dapat senja yg bagus Mbak.

      Delete
  4. Wah seru juga ya menikmati sunset di sunda kelapa. Harus di Coba nih..

    ReplyDelete