Thursday, December 28, 2017

5 Resolusi Hidup Sehat 2018


Mens sana in corpore sano.
Kutipan tersebut mengingatkan kembali gaya hidup selama setahun kemarin. Di mana saya berharap hidup sehat, nyatanya selama setahun saya sama sekali jauh dari gaya hidup sehat. Hidup sehat saya selama 2017 lalu mungkin hanya rajin minum air putih. Selebihnya? Makan tidak terkontrol, olahraga seadanya, tidur pun kurang, lengkap sudah pokoknya! Tidak heran selama tahun 2017 kemarin saya sering sekali sakit-sakitan. 

Sakit, sembuh, lalu beraktivitas berat sedikit, lalu sakit lagi. Begitu terus selama setahun. Hilang sudah predikat pecicilan nan kuat yang selalu melekat pada diri saya. Oleh karena itu saya menetapkan resolusi hidup sehat, yang sangat dan wajib dilaksanakan.

1. Rajin Olahraga. 
Sudah bukan gosip lagi bahwa saya sangat malas berolahraga. Untuk sekedar lari pagi selama 10 menit saja saya terkadang sangat malas. Alasannya sangat sepele, yaitu karena tidak memiliki sepatu olahraga. Dan, sungguh rejeki anak sholehah. Teman saya membelikan sepasang sepatu jogging, yang artinya saya wajib untuk jogging setiap harinya. Oleh karena itu, saya mewajibkan diri untuk jogging lebih dari 30 menit setiap harinya.

sumber gambar : pixabay
2. Menjaga Makanan.
Memakan apa saja yang ada, merupakan salah satu khas saya. Tidak peduli bahwa makanan tersebut mengandung gula terlalu banyak, mengakibatkan kolesterol, diabetes, atau lainnya. Mengakibatkan badan yang tidak sehat, juga badan yang semakin melebar. Maka dari itu, saya berniat untuk menjaga makanan saya dengan food combining.

sumber gambar : pixabay
3. Mengurangi Kopi.
Ini yang lumayan berat, karena saya penggemar berat kopi. Tapi, ternyata terlalu banyak kafein tidak baik untuk tubuh. Oleh karena itu, saya menargetkan diri saya untuk minum kopi hanya sekali dalam sehari. Tidak lebih dari itu.

sumber gambar : pixabay

4. Mengendalikan Stres.
Penyebab stres itu beragam, namun sepertinya saya mudah sekali untuk stres. Ada masalah sedikit, berakibat stres berkepanjangan. Stres sendiri tidak baik untuk badan. Gangguan stres dapat mengakibatkan penyakit-penyakit yang tidak diinginkan datang. Setelah googling sana sini, saya mendapat pencerahan untuk mengendalikan stres sesuai dengan ajaran agama. Yaitu, perbanyak zikir!

sumber gambar : pixabay

5. Rutin Minum Vitamin Bersama Theragran-M.
Saya adalah orang yang sering sekali berganti-ganti vitamin. Kadang, saya merasa tidak cocok ataupun malas lagi untuk minum vitamin. Namun, akhirnya saya menemukan vitamin yang cocok dengan saya. Yaitu Theragran-M, vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Theragran-M sendiri merupakan multivitamin dan mineral yang saya rasa sangat cocok untuk kegiatan saya sehari-hari. Fungsinya? Banyak banget! Diantaranya adalah; Vitamin yang bagus untuk masa penyembuhan, vitamin yang bagus untuk masa pemulihan, vitamin untuk memulihkan kondisi tubuh setelah sakit, vitamin untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit, dan vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit. Cukup sehari satu kaplet setelah makan, sudah bisa menjaga daya tahan tubuh. So, tunggu apalagi? Jadikan 2018 hidup sehat bersama Theragran-M setiap harinya!

sumber gambar : theragran.co.id

Sekian resolusi 2018 dari saya, salam hidup sehat bersama Theragran-M! 
Ingat ya, Kalau sakit jangan lama-lama!

Salam, Pipi Bolong.


*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Wednesday, December 27, 2017

Menikmati Senja di Pelabuhan Sunda Kelapa

Terkadang, saya merasakan rindu yang begitu hebatnya kepada seseorang, tapi orang itu tidak merasakan rindu yang sama. Miris. Namun, terkadang saya juga merasakan sedih yang begitu hebatnya dalam satu waktu karena seseorang. Namun, orang tersebut malah merasakan bahagia yang tiada taranya saat saya merasa sedih. Lebih miris lagi. 

Ketika merasakan hal-hal seperti itu, saya hanya ingin menyendiri dan pergi ketempat di mana saya dapat melihat senja dan lautan dengan indahnya. Karena saya percaya, air laut dapat membawa ketenangan tersendiri untuk saya, sementara senja memberikan keindahan bahwa masih ada yang lebih indah daripada sosok si dia.

Dan, Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi tujuan saya. Di mana letak Pelabuhan tersebut tidak terlalu jauh, masih dalam satu provinsi hanya berbeda kotamadya. Lumayan dekat dengan rumah saya, karena kalau yang jauh itu hati kita.

Untuk menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, bisa menggunakan dua cara. Yaitu, dengan menggunakan bus Transjakarta dengan rute Blok M - Kota (koridor 1), atau dengan Pluit - Tanjung Priok (koridor 12). Jika menaiki Transjakarta, berhenti di halte Jakarta - Kota. Selanjutnya bisa dengan berjalan kaki ke arah utara kurang lebih 15 menit, ataupun dengan menaiki bajaj atau ojek online. Sesuka hati kalian saja nyamannya dengan yang mana. Asal jangan nyaman lalu ditinggalkan. Sakit.

Atau bisa juga dengan menaiki kereta dengan tujuan Stasiun Jakarta - Kota, turun di stasiun tersebut lalu sama-sama jalan kaki ke arah utara. Atau terserah kalian memilih apa. Sama pilihannya dengan menaiki Transjakarta. 

Untuk memasuki Pelabuhan tersebut untuk motor sewaktu itu dikenakan taris sebesar Rp 3000 sedangkan untuk per orang dikenakan tarif Rp 2500. Tidak terlalu mahal, sisanya bisa ditabung untuk menghalalkan si dia meski dia belum tentu mau, apalagi siap.

Bau air asin datang menyambut ketika sampai di pelabuhan tersebut. Anak-anak kecil berlarian dan bahkan ada yang menyeburkan diri ke dalam laut tersebut, kuli angkut yang sibuk dengan berbagai macam bawaan, serta kapal yang mempersiapkan diri berlabuh ke laut lepas. Jangan terburu-buru untuk mencapai tepi pelabuhan. Nikmati sekeliling dengan mata dan hati. 

Rasakan bagaimana menaiki perahu untuk berkeliling pelabuhan tersebut. Dengan tarif Rp 25000 per orang, saya sudah bisa menikmati duduk manis di atas perahu dan menikmati rindu yang ada. Eh, pemandangan yang ada maksudnya.

Tak terasa hari semakin sore, dan senja yang menjadi tujuan sudah mulai terlihat di depan mata. Maka berjalanlah pelan saya menuju tepi pelabuhan tersebut. Di mana laut terhampar luas dan bayang-bayang matahari senja seolah mengikuti arus ombak menuju tepian tidak berbatas. Dan, di sinilah perasaan tenang dan rindu itu kembali hadir. Namun tak bersama rasa sakit, karena sakit itu telah terbawa angin menuju laut yang penuh buih pasir. 

Sekian kata manis dari saya, semoga menginspirasi kalian menanti senja di Pelabuhan Sunda Kelapa. Karena kalau hanya menanti dia, seribu tahun pun belum tentu terjaga.

Salam, Pipi Bolong. 

Tuesday, December 26, 2017

Tiga Tempat Wisata Gratis, Berdekatan, dan Instagramable di Bandung

Berdasarkan postingan sebelumnya yaitu  saya masih berhutang dua tulisan. Nah, untuk akhir tahun ini, saya mau membayar salah satu hutang saya. Yaitu beberapa tempat wisata gratis di Bandung dalam satu hari. Enggak cuma gratis, bahkan instagramable! Jadi bisa menambah koleksi-koleksi cantik dalam instagram kalian.
Dekat dengan Jakarta, memiliki banyak tempat wisata yang tiada kalah menariknya dengan Ibukota tercinta. Menjadi salah satu alasan saya untuk memilih Bandung menjadi tempat liburan ketika tidak memiliki waktu libur yang cukup panjang. Alasan lainnya biar Tuhan dan dompet saya yang menjawab. Langsung saja kita lihat beberapa tempat wisata yang sudah saya janjikan lamanya, melebihi lama janji Rangga ke Cinta.

1. Masjid Raya Bandung dan Alun-Alun Bandung

sumber gambar : dokumen pribadi

Masjid Raya Bandung dan Alun-Alun Bandung merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan seperti aku dan kamu. Letaknya sangat strategis, berada di pusat kota. Dan tentunya saja lokasi ini tidak berbayar alias gratis. Jadi, untuk kamu yang mau beribadah sambil liburan juga sambil mendapatkan koleksi foto yang instagramable, wajib mengunjungi masjid raya ini.

2.  Jembatan penyebrangan orang (JPO) Jalan Asia Afrika

sumber gambar : dokumen pribadi

"Dan Bandung bagiku bukan Cuma masalah geografis. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." -Pidi Baiq

Siapa yang tak kenal kalimat itu? Salah satu spot yang sangat menarik, terletak di bawah JPO Jl. Asia Afrika. Untuk berfoto di tempat ini saya membutuhkan waktu 15 menit kiranya untuk mendapatkan hasil yang lumayan bagus. Dikarenakan banyaknya orang yang ingin berfoto dengan latar tulisan tersebut. Juga banyaknya lajur kendaraan yang melewati lokasi tersebut. Dan, tidak menyesal menunggu selama 15 menit, karena memang tempat tersebut wajib untuk memenuhi koleksi instagram saya. Hehehe.

3. Jl. Braga Bandung

sumber gambar : dokumen pribadi

Duh, ini mah jangan ditanya deh! Sepanjang jalan kenangan, eh Braga maksudnya, instagramable banget. Banyak bangunan tua yang berdiri dengan gagahnya di kanan dan kiri jalan. Spot-spot cantik dan indah bertebaran di setiap sisinya. Tidak hanya tempat foto, toko makanan pun ramai di jalan tersebut. Berjalan kaki sore hari menyusuri keindahan Braga. Sempurna sudah wisata sore hari ini di Bandung.

Sekian referensi dari saya. Semoga bisa membantu menambah koleksi instagram kalian. Tunggu cerita selanjutnya dalam Ereveld Pandu, Bandung!


---Bersambung---


Salam, Pipi Bolong. 


Wednesday, December 20, 2017

Kutipan Sederhana #2

Setelah sebelumnya mengabadikan kutipan sederhana #1 yang berasal dari twitter beberapa tahun silam, maka akhir tahun 2017 ini saya kembali ingin berbagi kutipan yang menyentuh ke lubuk hati saya yang terdalam, kutipan-kutipan tersebut berasal dari twitter juga. Bisa dibaca dalam keadaan galau, sedih, senang, haru, ataupun bahagia. Singkatnya dalam segala keadaan.

"Hati yang pernah kugunakan untuk mencintaimu ini, akan kupakai sekali lagi, untuk memberikan maaf, yang tak pernah kau minta." -@muthiastp

"Pasrah dan ikhlas itu hal yang berbeda, kamu tidak akan mengerti sampai kamu benar-benar kehilangan." -@Raesaka

"Kalau hal kecil dan konyol saja sudah tidak bisa dibagi dan ditertawakan bersama, bagaimana harus menggenggam tangan lebih erat ketika badai singgah?" -@elwa

"Kita dipertemukan oleh keadaan. Kalau nantinya dipisahkan, ya mestinya juga karena keadaan." -@monstreza

"Tak ada yang harus lebih diwaspadai selain mereka yang pernah hancur. Karena mereka sudah terbukti bisa bangkit." -@adimasnuel

"Benci adalah cinta yang tertunda, atau justru cinta yang sudah kadaluarsa." -@aMrazing

"Ada yang berhasil meninggalkan, bahkan tanpa perlu sebuah pergi." -@Karizunique

"Yang menurut kita hanya sedikit perih, bisa saja luar biasa sakit bagi orang lain." -@sittakarina

"Kita semua pernah meninggalkan dan ditinggalkan. Semestinya tahu rasanya jadi keduanya." -@NitaSellya

"Suatu hari nanti akan ada seseorang yang memandangimu seakan-akan kamu adalah hal terbaik di dunia." -@jayakabajay

"Aku suka saat rindu saling melepas nyawa dan menciptakan pelukan." -@chachathaib

"Jika saling menggenggam membuatmu terbelenggu, cobalah saling melepas. Jika membuatmu terhempas, yang kamu lepas itu cinta." -@DedoDpassdpe

"Seseorang akan sangat berarti untuk kamu, di saat orang tersebut sudah tidak ada." -@okymavlana

"Dan, bertanya mengapa? Adalah sebuah pertanyaanku padamu." -@Lalaysf

"Untuk kamu yang selalu ada dalam doaku; bertahanlah." -@elwa

"Diawali dengan keikhlasan, diakhiri dengan ketentraman." -@YogaPrakoso01

"Seterpisah apapun, suatu hari kita akan saling mencari. Bukan karena masih ada cinta, tapi kita butuh seseorang yang begitu mengenal." -@falla_adinda

Sekian kutipan sederhana #2 yang saya anggap mampu menelusuk hingga kerelung jiwa. Sayang jika tidak diabadikan.

Salam, Pipi Bolong.


*)Image via Pixabay

Catatan Sederhana, Kilas Balik 2017



Alhamdulillah, masih bisa berjumpa dengan akhir tahun 2017. Semakin menjelang pergantian tahun baru, semakin sering saya mengingat kembali segala amal dan perbuatan, kisah bahagia dan sedih, serta keberhasilan dan kegagalan di 2017 ini.

Mengingat kembali resolusi 2017 yang ternyata tidak bisa tercapai kecuali penggemukan badan. Teringat bahwa di tahun ini saya terlalu banyak main dan kurang fokus untuk mencapai segala mimpi-mimpi saya. 

Melakukan kedua hal dalam waktu bersamaan. 
Belajar memperdalam kemampuan desain dan menulis secara bersamaan. Di lain waktu saya fokus dengan belajar desain ketika deadline menulis datang. Dan di lain waktu pula saya malah asyik menulis ketika deadline desain sudah meratapi waktunya. Dan disitulah saya merasa jatuh ke jurang yang terdalam lagi. Namun, dari situ saya mendapat pelajaran. yaitu;

Membagi Waktu.  
Melakukan kedua hal ataupun lebih secara bersamaan sebenarnya bisa dilakukan. Asal tetap komitmen dan bisa membagi waktu. Selama ini saya hanya mengandalkan mood saya keluar. Tanpa saya sadari bahwa sebenarnya mood saya yang harus terpancing untuk mengeluarkan kreativitas. 

Saya sadar, tidak selamanya saya hanya mementingkan mood saya saja. Saya tidak boleh menganggap bahwa diri saya ini yang paling pusing dan stres atas segalanya. Oleh karena itu pula juga alasan Allah mengirimkan seseorang kepada saya untuk menunjukan kekeliruan saya. Salah satunya adalah;

Egois.
Dalam pekerjaan apapun baik profit non-profit, seharusnya memang tidak boleh mengedepankan ego. Kerja timlah yang paling utama. Dan di situ saya sadar, bahwa tidak seharusnya saya mementingkan ego saya dalam sebuah tim. Tidak hanya dalam tim juga, namun dalam kehidupan. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Maka dari itu tidak pantaslah seorang manusia jika terus mementingkan dirinya sendiri. Maka dari itu saya terus belajar untuk tidak lagi mementingkan ego dan diri saya sendiri meskipun seringkali masih mengedepankan ego. 

Tak hanya ego, namun attitude itu penting. Selama ini saya sadar, bahwa sikap saya masih jauh dari sempurna. Bisa dibilang tidak mencerminkan kelakuan yang baik. Kurangnya sopan santun yang melekat kepada diri saya, membuat orang lain sakit hati atas sikap saya. Oleh karena itu, saya bertekad dalam hati saya untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Menjadi diri sendiri boleh, namun tetaplah bersikap sopan dan santun kepada semua orang. 

Terakhir, pelajaran yang paling saya catat dalam tahun ini adalah bersyukur. Karena kesalahan saya dari tidak bisa membagi waktu juga keegoisan saya, saya kehilangan salah satu mata pencaharian saya. Namun, saya yakin bahwa Allah akan memberi ganti atas kehilangan. Saya memang kehilangan salah satu mata pencaharian tetap saya, namun Allah mengirimkan seseorang yang selalu senantiasa ada untuk saya dalam keadaan susah maupun senang. Selalu mendukung dalam setiap keadaan. Menunjukan kesalahan jika memang salah, dan selalu melindungi saat sedih maupun takut. Semoga selalu bisa bersama dalam setiap keadaan hingga waktunya tiba. 

"Terima kasih untuk selalu menjadi yang terbaik, panda. :)"


Salam, Pipi Bolong.

Monday, December 18, 2017

Kehilangan yang Menjadi Kado Terindah

Pernahkah kamu merasa kehilangan? Pernah merasakan sedih berkepanjangan karena sesuatu yang telah pergi darimu, atau tidak bisa mendapatkan apa yang kamu impikan dan perjuangkan? Jawabannya adalah pernah. Namun, sadarkah dirimu bahwa itu adalah kado terindah yang tuhan berikan untukmu?

Saya akan berbagi sedikit kisah tentang kehilangan. Bukan semata untuk menggurui, hanya untuk menguatkan hati kamu yang sedang merasa kehilangan ataupun kehampaan yang tiada habisnya.

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke tempat salah seorang rekan yang akan pindah ke kota lain. Karena kepindahannya sudah berbeda pulau dan sedikit repot jika membawa semua barangnya, maka dia memutuskan untuk memberikan barang-barang yang sekiranya sulit dibawa dan tidak terlalu dibutuhkan.

Bersama tiga orang teman saya, kami pun menuju ke rumah teman yang akan pindah ke luar kota itu. Pindah ke luar kota, bukan pindah ke lain hati.

Dari siang sampai sore, kami pun memilah-milah barang yang akan kami ambil. Sempat berebut beberapa kali, sempat kalah rebutan, namun tidak jarang juga menang rebutan. 

Pada saat mau pulang, teman yang akan pindah rumah itu membagi helm, ada dua helm. Saya dan seorang teman saya berhasil mendapatkan helm tersebut. Sementara teman saya yang satu lagi, tidak berhasil mendapatkannya. Alhasil dia merengut saja. Dia merasa lebih membutuhkan helm itu daripada saya. Namun, saya menyukai helm tersebut, karena warnanya merah. 

Tak lama kemudian, sang istri yang akan pindah rumah, membagi sebuah dompet yang berasal dari Turki. Saya dan teman saya yang tidak mendapatkan helm, bersaing untuk mendapatkan dompet tersebut. Namun, kali ini teman saya yang menang. 

Saat itu saya merasa lebih membutuhkan dompet itu. Selain karena saya suka corak dan warnanya, keadaan dompet saya juga sudah membutuhkan yang baru. Akhirnya saya merayu teman saya untuk menukar helm dengan dompet. Fikir saya waktu itu, saya lebih membutuhkan dompet daripada helm. Akhirnya tertukarlah sudah, saya mendapatkan dompet dan dia mendapatkan helm.

Selang beberapa hari kemudian, salah seorang teman mengajak saya jalan-jalan. Dia mengajak saya untuk jalan ke daerah Otista. Katanya mau membelikan saya helm. 

"Untuk apa belikan aku helm? Kan sudah ada helm kamu yang sering aku gunakan." Kata saya waktu itu. Tapi dia tetap bersikeras mau membelikan saya helm.

Dan tahukah kamu, helm yang dia belikan adalah helm bogo. Helm yang menurut saya sangat lucu warna dan bentuknya. Baru di tunjukan saja saya sudah jatuh cinta dengan helm tersebut. Dan akhirnya saya pun dibelikan helm oleh dia.

Ternyata, keputusan yang tepat sebelumnya untuk memilih dompet. Sesuatu yang sangat saya butuhkan. Ketika saya meikhlaskan sesuatu, Allah memberikan kado lain dalam keikhlasan tersebut. Sesuatu yang sangat saya suka melebihi sebelumnya.

Begitu juga cerita lainnya, dari teman yang membelikan saya helm ini. Dia berniat untuk membeli motor dan custom motor tersebut. Tetapi, ketika dia sudah akan membeli motor tersebut, malah sudah ada yang membelinya duluan.

Awalnya dia galau bukan main sih, tapi makin kesini dia ikhlas bahwa motor tersebut memang belum berjodoh dengannya. Tetapi, Allah memberi gantinya yang lain. Motor yang CC-nya lebih besar dan lebih cocok dengan hatinya.

Begitulah cara Allah memberi kepada makhluknya. Dia tidak memberi apa yang kita mau, melainkan apa yang kita butuhkan. Dan Dia tidak akan memberikan kehilangan tanpa memberi ganti yang lebih baik.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” 
(QS. Al Baqarah: 216).

Salam, Pipi Bolong.



*) Image via Pixabay

Flashback Tahun Baru 2007, Pertama Kali Menginap di Hotel Berbintang



Semakin hari, semakin dekat saja menuju pergantian tahun. Untuk sebagian orang, ada yang sibuk menyiapkan rencana tahun barunya. Dan untuk sebagian orang juga, ada yang introspeksi diri selama setahun ini. Dan, sebagian lainnya ada yang mengingat-ingat kisah seru saat tahun baru, berharap bisa mengulanginya kembali.

Saya termasuk orang yang senang mengingat hal-hal yang telah berlalu. Namun, tidak termasuk dalam mengingat mantan. Kali ini saya mau berbagi cerita pengalaman pertama saya menginap di hotel. Bukan sembarang hotel juga, melainkan hotel berbintang empat. Lumayanlah untuk seorang yang sehari-harinya main di lapangan pinggir kampung seperti saya.

Saat itu saya masih kelas tiga SMP. Sahabat-sahabat saya termasuk dalam golongan orang yang berada. Sementara saya, hanya orang biasa yang beruntung bisa berteman baik dengan mereka. 

Alkisah, kami merencanakan untuk merayakan libur tahun baru bersama. Saat itu masih dalam perencanaan dan perembukan. Tidak tahunya, tiba-tiba salah satu sahabat saya mengajak untuk tahun baruan di Ancol. Saat itu saya kira hanya merayakan di pinggir pantai, jadi saya setuju saja.

Selang beberapa hari, teman saya mengabari bahwa sudah booking kamar di salah satu hotel yang terletak di Ancol. Perasaan saya waktu itu bukannya senang tapi malah bingung. Gimana patungan bayarnya, fikir saya waktu itu. Uang jajan sebulan saja belum tentu bisa menutupi.

Tidak tahunya, ternyata semua di support oleh teman saya ini. Kebetulan keluarganya habis mendapat rejeki, jadi mau membagi-bagi bahagia dengan orang lain. Hamdalah saat saya tahu beberapa hari kemudian.

31 Desember, kami berenam dengan diantar oleh keluarganya teman saya itu, berangkat menuju salah satu hotel berbintang di kawasan Ancol. Senang tidak terkira hati saya waktu itu. Karena ini benar-benar pengalaman menginap di hotel. Saya tidak pernah diajak menginap di hotel oleh keluarga saya. Jika berjalan jauh saja, paling hanya menginap di salah satu rumah keluarga di kawasan tersebut, atau menginap di mobil. 

Waktu mau masuk kamar, saya kaget. Ternyata untuk memasuki kamar tersebut menggunakan kartu, bukan kunci biasa. Selang beberapa tahun kemudian saya baru tahu namanya itu adalah cardlock. 

Duh, selain norak soal kunci saat itu juga saya norak soal pendingin ruangan. Saya sama sekali tidak mengerti cara menyalakan pendingin ruangan di hotel tersebut. Begitu dinyalakan oleh teman saya, ternyata malah kedinginan bukan main rasanya.

Yang lucu adalah kejadian di kamar mandi. Untuk yang sehari-harinya memakai gayung dan ember seperti saya, pasti bingung dengan bahtub dan kran air panas dingin. Saya main-mainin kran, yang ada malah air keluar dari shower. Padahal waktu itu saya mau menyalakan air untuk bahtub. Kemudian saya baru tahu bahwa untuk kran shower dan bahtub masih satu aliran. Hanya beda putar kanan kiri untuk memilih shower atau mengaliri bahtub.

Sudah kelar masalah mengaliri bahtub, sekarang saya bingung bagaimana cara membuang air tersebut. Saya putar sana-sani, sumbatan air tidak terbuka dan terputar. Yasudah saya biarkan saja air tetap di bahtub.

Selang beberapa menit kemudian teman saya yang kekamar mandi menggerutu karena air bekas mandi di bahtub tidak dibersihkan. Saya hanya cengar-cengir dan memperhatikan teman saya menggerutu. Dan, di situ saya baru tahu bahwa untuk mengalirkan airnya adalah dengan memutar kran yang berada ditembok bahtub. Saya kira itu hanya pajangan, jadi saya biarkan saja dan tidak otak-atik. Ternyata itu biang keladinya. Hahaha.

Sedikit cerita kisah-kisah absurd saya saat pertama kali menginap di hotel berbintang. Kalau di ingat lagi, itu malah menjadi kenangan lucu dan tak terlupakan sepanjang hidup. Untuk kamu, apa kisah absurd yang tak terlupakan sepanjang hidupmu?

Salam, Pipi Bolong.

Wednesday, December 6, 2017

Pulau Semak Daun, Solusi Liburan Tahun Baru Murah & Dekat.

Tak terasa sudah memasuki awal Desember, yang berarti akhir tahun 2017 sudah semakin dekat. Menjelang pergantian tahun biasanya sudah membuat rencana kemana akan berlibur tahun baru nanti. Ada yang berencana ke luar kota nun jauh dari hiruk pikuk ibukota, ada yang berencana mau di rumah saja. Semua tergantung selera masing-masing. Dan Kamu yang sedang melihat tulisan ini, sudah punya rencana kemana  liburan tahun baru nanti? 

Ngomong-ngomong soal rencana tahun baru, saya jadi teringat liburan tahun lalu. Saat itu kurang lebih tiga minggu saya dan beberapa teman dari Klub Buku & Blogger Backpaker Jakarta galau mau merencanakan tahun baru di mana. Dengan hari libur yang tidak banyak, serta budget terbatas. Maka terciptalah keputusan untuk berlibur ke Pulau Seribu.

Setelah drama liburan ke Pulau Seribu, muncul drama lainnya. Pulau mana yang mau dituju. Saya meminta Semak Daun, yang lain ada yang meminta Sepa, ada juga yang maunya di Bira, dan yang lainnya ada yang minta di Harapan. Pulau Harapan di gugusan kepulauan Seribu ya. Bukan harapan palsu. Dan akhirnya drama jatuh di pulau Semak Daun.

Setelah drama pemilihan pulau, muncul drama budget. Setelah hitung-hitung dengan penuh pengiritan, maka kami memutuskan untuk sharecost sekitar Rp 250.000. Dengan catatan tidur di tenda dan membawa beberapa logistik sendiri. Rincian keuangan akan saya perjelas sepanjang kisah ini. Jangan kemana-mana!

Setelah semua rampung, maka di list siapa saja yang mau ikut. Buat pengumuman kesana kemari mencari alamat, mencari pasukan sebanyak-banyaknya. Dengan total kuota 10 orang. Menjelang hari-H personil berubah-ubah. Ada yang mau ketempat dingin, ada yang mau tempat yang jauh, ada juga yang maunya di rumah saja sama si dia (padahal si dia belum tentu mau). 

Heran, belum jalan aja udah banyak drama. Kalah drama kisah kita yang putus nyambung bagaikan sinetron yang tidak selesai. 

Dermaga Kaliadem

Tanggal 31 Desember 2016, pukul 03.00 pagi, kami bersepuluh janjian di dermaga Kaliadem. Dengan harga Rp 45.000 per orang, kami menyebrang dari Kaliadem menuju Pulau Pramuka. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3-4 jam. 

Sepanjang perjalanan awalnya dihiasi dengan berbagai macam tingkah oleh kesepuluh orang ini (termasuk saya). Sejam pertama tidur, setelah bosan tidur dihiasi dengan main uno. Teriak-teriak sampai jadi perhatian sekapal. Bosan main uno, ada yg ngegosip, ada yang tidur, ada juga yang godain cewek. Terserah mau main apa aja, asal jangan mainin hati si dia.

Pulau Pramuka

Tengah hari, kami sampai di pulau Pramuka. Pulau ini hanya tempat transit saja sebelum menuju Semak Daun. Dari sini, nanti kami akan menaiki kapal yang lebih kecil lagi untuk snorkling juga untuk menuju Semak Daun.

   
Pulau Pramuka merupakan pusat administratif dan Kepulauan Seribu. Kami menyempatkan diri untuk shalat dan membeli beberapa logistik bersama yang termasuk dalam sharecost. Saat itu kami membeli beberapa bungkus nasi dan aqua dengan harga Rp 80.000. Juga ditambah dengan setiap orang membeli nasi bungkus masing-masing untuk makan siang. Karena makan siang ini tidak termasuk sharecost. Harga berbeda-beda. Saat itu sepertinya saya kurang lebih menghabiskan Rp 15.000.

Dan, perjalanan diteruskan kembali. Kami menaiki perahu kecil. Dengan harga Rp 300.000 untuk satu perahu, harga tersebut untuk membawa kami snorkling terlebih dahulu juga membawa kami ke Semak Daun.

Tak jauh dari Pulau Pramuka, perahu berhenti. Dan langsung saja teman-teman saya terjun ke dalam air. Untuk alat snorkling sendiri, kami sewa dengan pemilik perahu kecil ini. Harganya Rp 30.000 per orang. Sudah masuk kedalam rincian sharecost, jadi tinggal santai saja.

Ngomong-ngomong, ini adalah pengalaman pertama saya snorkling. Jadi, saya lumayan takut pada awalnya. Namun, lama-lama jadi biasa dan tidak takut lagi.


Pulau Air

Setelah kurang lebih satu jam di daerah tak jauh dari Pulau Pramuka. Perahu kecil tersebut membawa kami ke gugusan pulau lainnya. yaitu perairan Pulau Air. Saya senang berenang di sini. Selain karena tidak terlalu dalam, airnya sangat jernih. Jadi dengan mata biasa bisa melihat ke dasar laut. Meski ada beberapa tempat yang dalam juga. Saya menghindari ke tempat tersebut.

Pulau Air ini jug menurut saya sangat bagus. Dua pulau dalam satu nama yang terpisahkan air. Pokoknya instagramable bangetlah pulau ini.



Pulau Semak Daun 

Setelah lebih dari sejam bermain-main Di Pulau Air, saatnya menuju Semak Daun. Namun, kami tidak langsung menuju pulau tersebut. Tapi bermain-main dulu di perairan sekitar pulau tersebut. Untuk di pulau ini, saya agak ngeri karena lumayan dalam. Saya yang tidak bisa berenang memilih untuk di perahu saja.

Hari pun sudah sore, karena sudah lelah dan sudah puas juga, maka kami tidak berlama-lama bermain airnya. Langsunglah kami menuju Semak Daun. Di Semak Daun sendiri untuk simaksi dikenakan Rp 35.000 per orang dan sudah masuk juga ke dalam biaya sharecost.

Sesampainya di sana, sudah sangat sore. Kami pun segera mencari spot untuk mendirikan tenda. Tapi ternyata sudah ramai sekali. Untungnya masih mendapatkan tempat. Setelah beres-beres lokasi camp, juga beres-beres badan setelah snorkling tadi, kami segera menuju ke pinggir pulau. Ceritanya mau lihat sunset. Senja terakhir di 2016 kerennya!

Puas dengan sunset, kegiatan selanjutnya adalah masak-masak untuk makan malam. Masing-masing sudah membawa bahan logistik bersama. Ada yang bawa indomie, sarden, dan lainnya. tinggal dimasak lalu dihidangkan. Murah meriah, kenyang.

Sambil menunggu pukul 12.00, kami bermain truth or dare. Saya main aman selalu mengambil dare. Dan kena dikerjain habis-habisan. Disuruh kenalan sama anak tenda sebelah lah, inilah itulah, bagaikan bidadari pulau kesana kemari.

Lalu tanpa disengaja lanjut dengan quality time. Sayang banget, pas quality time ini saya malah ketiduran di atas matras. Padahal sayup-sayup saya dengar mereka membahas tentang hijrah.

Menjelang tengah malam, saya terbangun. Banyak suara petasan sana-sini. Saya fikir percuma banget cuma di tenda. Mana panas pula. Maka dari itu saya mengajak teman-teman saya ke pinggir pulau. Melihat kembang api, dan petasan sana-sini.

Puas dengan hiburan lokal, enggan rasanya balik ke tenda. Maka kami pun sepakat untuk tidur di pinggir pantai, namun tidak semua. Ada satu orang yang lebih memilih tidur sekitar tenda, untuk berjaga-jaga.

Dengan beralaskan matras, juga ada yang menggunakan sleeping bag. Saya sih tidak karena tidak membawa sleeping bag. Pengalaman tidur di pantai itu hawanya terasa panas.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami segera berkemas dan bersiap-siap untuk kembali ke Pulau Pramuka. Dengan seadanya, tanpa sarapan dan tidak mandi, kami bergegas kembali ke Pulau Pramuka. Biaya yang digunakan adalah Rp 300.000 untuk satu perahu. Jadi pulang pergi Pulau Pramuka - Pulau Semak Daun merogoh kocek  sebesar Rp 600.000.

Sesampainya di Pulau Pramuka, segera saja kami menuju masjid pulau tersebut untuk mandi seadanya. Segar sekali rasanya bisa bertemu dengan air lagi. Setelah itu kami sarapan sekaligus makan siang di Pulau Pramuka. Tidak termasuk dalam biaya sharecost karena memang sudah diperhitungkan. Lagi-lagi makan saya kurang lebih sekitar Rp 15.000. maklum, saya kan pelit jadi irit.

Setelah puas mengisi perut, kami pun segera kembali ke kapal. Dengan harga Rp 45.000 per orang. Kapal tersebut akan berhenti di Kaliadem. Tempat berlabuh hati ini. Eh, maksudnya berlabuh kembali ke Jakarta.

Untuk lebih jelasnya, total rincian perhitungan pemasukan dan pengeluaran untuk trip Pulau Semak Daun dengan total  10 orang seperti ini;

Pemasukan
Sharecost : Rp 250.000 x 10 = Rp 2.500.000

Pengeluaran
Tiket Berangkat : Rp  450.000 (Kaliadem – Pramuka)
Tiket Pulang : Rp  450.000 (Pramuka – Kaliadem)
Aqua dan Nasi : Rp  80.000
Perahu : Rp 600.000 (Pramuka – Semak Daun PP)
Alat snorkle : Rp 240.000 (ada beberapa yang patungan satu set karena sudah memiliki alatnya)
Simaksi : Rp 350.000

TOTAL : Rp. 2.170.000
Sisa : Rp 330.000

Nah, bagaimana? Untuk kalian yang mau liburan murah dan dekat bisa menggunakan cara ini sebagai alternatif. Lumayan, bobonya ditemani oleh hamparan bintang di langit sana. Lebih enak lagi kalo bareng si dia sih. 

Baiklah, sampai jumpa lagi di trip galau berikutnya. Semoga tidak ditemani drama yang tiada berujung. Karena yang tidak berujung itu cuma kisah kita.

Salam, Pipi Bolong.