Tuesday, August 22, 2017

Kupas Tuntas Mitos Atau Fakta Pendakian Gunung Bersama Backpacker Jakarta dan RS Firdaus



Menaburkan garam di sekeliling tenda saat camping supaya ular tidak mendekat, itu mitos atau fakta sih? Nah, kali ini komunitas Backpacker Jakarta bekerja sama dengan RS Firdaus mengadakan diskusi santai namun berbobot tentang mitos atau fakta pendakian gunung.


Acara ini berlangsung di Casapatsong Kitchen Express, Jalan Raden Saleh No.55, RT.1/RW.2, Menteng, RT.1/RW., Jl. Cikini 2, RT.1/RW.2, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Dimulai dengan absen peserta oleh Backpacker Jakarta lalu pemeriksaan gula darah dan golongan darah gratis oleh RS Firdaus.


Diskusi Santai ini di moderatori oleh Mbak Nisa, dari RS Firdaus dan menghadirkan lima pembicara yaitu
  1.  dr Ridho Adriansyah, dr spesialis penyakit dalam dari RS Firdaus, yang menjelaskan pendakian dari sisi medis.
  2. Harley B. Sasta, penggiat alam, penulis, dan pemerhati konservasi alam dari federasi mountaineering Indonesia.
  3. Tyo Survival, eks host survival, jejak petualang, co host berburu di TRANS 7.
  4. Siti Maryam, survivor 4 hari 3 malam di Rinjani
  5. Edi M Yamin, founder Backpacker Jakarta

Sebelum dimulai, Mbak Nisa menjelaskan sekilas tentang RS Firdaus yang melatarbelakangi acara diskusi ini. RS Firdaus merupakan rumah sakit yang beralamatkan di Komplek Bea Cukai, Jalan Siak J 5 No. 14, Sukapura, Cilincing, RT.1/RW.7, Sukapura, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.


Awal dibangunnya RS Firdaus adalah pembangunan Klinik Firdaus, didirikannya praktek dokter umum  pada tahun 1995 yang bertempat di jalan Siak No. 14  Sukapura, Jakarta Utara . Praktek dokter umum atas nama dr. Bahtiar Husain. Tanggal 7 April tahun 1998 dr. Bahtiar Husain mengajak teman-teman dokter umum lain untuk membuka ”KLINIK FIRDAUS” dengan pelayanan  Praktek Dokter Bersama 24 Jam. Pada tahun 2004 dan bersamaan telah selesainya pendidikan Spesialisasi dr. Bahtiar Husain sebagai ahli paru maka Klinik FIRDAUS berubah menjadi “ Praktek Dokter Spesialis Berkelompok” dimana layanan PARU menjadi layanan utama. Dan Klinik Firdaus berubah menjadi RSP Firdaus pada tanggal 28 Mei 2011. Dan setelahnya menjadi RS Umum Firdaus.

"Kami mendedikasikan dan menggabungkan keterampilan, pengetahuan dan pengalaman tim dari setiap aspek yang dimiliki, mencakup ruang lingkup medis maupun non medis yang didukung oleh teknologi, penggunaan sarana dan prasarana yang terus berkembang, menjadikan pelayanan di RS Firdaus sebagai pelayanan perawatan yang berbasis tim ( team base care ), untuk mencapai  pelayanan maksimal yang bekelanjutan."  -dr. Bahtiar Husain S, Sp.P, M.H.Kes

RS Firdaus merupakan salah satu deretan rumah sakit terbaik dalam BPJS, sesuai dengan motto mereka yaitu "Melayani dengan Hati." Untuk lebih detailnya bisa mengunjungi RS Firdaus di website mereka, yaitu http://rsfirdaus.co.id/index.php


Kembali ke acara diskusi yang berlanjut, masing - masing narasumber menyampaikan isi paparan mereka dalam diskusi tersebut.


Dimulai dengan Mas Harley yang menjelaskan tentang mitos atau fakta dalam pendakian gunung, menjelaskan apa itu mitos terlebih dahulu. Mitos sendiri  adalah suatu cerita atau dongeng berlatar belakang kisah kejadian masa lalu. Cerita biasanya dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat, alam, ada istiadat. Mas Harley memberikan point - point tentang mitos atau fakta, contohnya seperti; Pendaki gunung itu kuat, pendaki gunung hidupnya tidak teratur, pendaki gunung itu pecinta alam, dan saat datang bulan perempuan tidak boleh mendaki gunung. Apakah semuanya mitos atau fakta? Semua dikupas oleh Mas Harley dalam diskusi ini.


Di akhir sesinya, Mas Harley mengingatkan bahwa kita adalah tamu dalam setiap perjalanan maka dari itu hormati dan ikuti aturan serta budaya yang berlaku.


Harley B. Sasta
 Selanjutnya, Mas Tyo Survival yang sudah ahli dalam ular melanjutkan sesi diskusi. Keren ya udah mahir dalam ular, saya saja biasa main sama buaya belum mahir - mahir. Secara saya mainnya sama buaya darat. 


Mas Tyo membagi tips tentang apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum pendakian. Contohnya seperti trash bag, ternyata trash bag memiliki banyak fungsi. Bisa menjadi alas shalat, cover bag, alas tidur, dan lainnya. Mas Tyo juga menjelaskan tentang perlunya kemampuan menciptakan api dari batu dengan cara menggesekan batu. Batunya juga tidak sembarang batu, batu api namanya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di alam maka dari itu kita perlu memiliki kemampuan seperti itu untuk menjaga - jaga. 


Yang seru adalah saat Mas Tyo menjelaskan tentang ular dan garam. Beliau mengeluarkan ular kesayangannya yang diberi nama Afri. Ular saja disayang banget sepertinya, gimana pasangan hidup ya Mas? 


Dan ternyata, ular takut dengan garam itu hanya mitos belaka. Ularnya Mas Tyo tidak takut sama sekali dengan garam. Ular itu menurut sama Mas Tyo, ternyata dia sedari kecil sudah menangani ular, udah khatam soal ular. Hebat Mas! Saya dari remaja menangani buaya darat, belum khatam sampai sekarang.


Tyo Survival dan Afri


Nah, selanjutnya adalah sesi yang sangat saya tunggu yaitu sesi Siti Maryam dan Edi M Yamin. Siti, pendaki gunung yang hilang 4 hari 3 malam di Rinjani saat mendaki gunung Rinjani bersama Edi. Dimulai dengan Edi yang menceritakan kronologis hilangnya Siti, yaitu ternyata saat Siti izin turun duluan untuk buang air setelah summit di Rinjani. Siti melihat ada lapangan hijau luas di depan matanya saat mencari mata air, lalu Siti mengikuti pandangan matanya tersebut. Namun ternyata dia malah terperosok di tepi jurang. 


Lanjut Siti menceritakan pengalaman - pengalaman mistisnya selama hilang. Dia melihat ada pintu yang dijaga banyak orang saat malam, dan ketika pagi hari baru dia menyadari bahwa pintu itu adalah jurang. Beruntung dia tetap di posisinya bertahan dan tidak berjalan menuju pintu tersebut. Ada juga seperti orang lain di sisi dia, hilir mudik dalam bayangan hitam dan putih. Saya merinding mendengar cerita Siti tersebut.


Beruntung Siti bertemu dengan penggembala sapi saat dia berjalan mencari pertolongan. Siti meminta tolong kepada penggembala tersebut, dan penggembala tersebut menolong Siti. Siti dibawa ke Puskesmas terdekat dan diperiksa, Alhamdulillah dia dalam keadaan baik - baik saja. Padahal selama hilang Siti hanya minum madu dan makan permen.


Yang hebat adalah sisi psikologis Siti Maryam dan Edi M Yamin. Bagaimana Siti tetap tenang dalam hilangnya dia, dikarenakan dia ternyata rajin puasa senin - kamis, kunci ketenangan dan pengendalian diri dalam hilangnya dia. Juga Edi yang terus percaya bahwa Siti akan ditemukan sampai bolak - balik summit Rinjani hingga tiga kali. Sungguh sangat bertanggung jawab dalam pendakian, Edi tidak lepas tangan dan hanya menyerahkan kepada TIM SAR, namun juga ikut bekerja keras dalam pencarian. sifat pemimpin yang patut dicontoh. 




Selanjutnya tak kalah seru dr. Ridho Adriansyah juga menjelaskan pendakian dari sisi medis. dr Ridho, ternyata juga saat mudanya adalah pendaki gunung. 

dr Ridho menuturkan kondisi kesehatan Siti Maryam, menurut dr Ridho, Siti Maryam ada baiknya memeriksa ginjalnya, dikarenakan manusia bisa hidup tanpa makanan namun tidak bisa tanpa minuman. Batas tidak minum adalah tiga hari. Selebihnya kondisi ginjalnya dipertanyakan.

Lalu, tentang obat - obat yang harus dipersiapkan dalam mendaki gunung. Baik itu perorangan ataupun dalam kelompok. Selain itu juga beberapa mitos atau fakta tentang penyakit yang tidak diperbolehkan naik gunung. Seperti asma dan jantung bocor. Ternyata penderita asma dan jantung bocor bisa mendaki gunung asalkan pada kaedah dan peraturan yang benar.

Terakhir, beliau menjelaskan  tentang gejala - gejala penyakit yang kemungkinan bisa hadir saat mendaki gunung dan juga cara mengatasinya. Pada akhirnya dr Ridho pun menekankan tentang limit ketahanan setiap orang itu berbeda, bila tubuh sudah mendekati limit maka jantung tidak lagi memberikan kompensasi. Maka tahukan apa yang terjadi selanjutnya?  



dr Ridho Adriansyah

Sesi diskusi ditutup dengan tanya jawab dan doorprize, dan kesimpulan dan pelajaran yang saya dapat banyak sekali dalam diskusi ini. Antara lain adalah; Tentang kesiapan mental mendaki gunung, peralatan yang dipersiapkan dalam mendaki, obat - obatan yang harus dibawa dalam mendaki, bagaimana mengatasi penyakit yang tiba - tiba muncul saat mendaki, juga kunci ketenangan dalam mendaki gunung. 

Terima kasih kepada Backpacker Jakarta yang telah bekerja sama dengan RS Firdaus dalam diskusi santai mitos atau fakta pendakian gunung. Sangat bermanfaat untuk saya yang masih awam dalam pendakian gunung. Pada akhirnya kita tahu bahwa batas tubuh kita berbeda dan hanya kita yang tahu sampai mana batas kita, saat itulah kita tahu kapan kita harus beristirahat dan berhenti.

Salam, Pipi Bolong.

Tuesday, August 8, 2017

Belajar Membatik di Museum Batik #MendadakPekalongan



Terletak persis depan simpang lima kota Pekalongan, lengkapnya di Jalan Jetayu No.1. Berdiri sebuah gedung yang tak lain dan tak bukan adalah Museum Batik Pekalongan.

Museum ini menjelaskan dan memamerkan tentang macam - macam batik, sejarah batik dari masa ke masa, ada juga batik masa lampau dan ada juga yang mereka sebut dengan batik modern. Ada juga yang memamerkan macam - macam alat yang bisa digunakan untuk membuat batik, serta penjelasan macam - macam perwarna alami yang digunakan untuk membuat batik.



Keluar dari ruang pameran, ternyata terdapat sebuah ruang hijau seperti taman ditengah - tengah museum tersebut. Setelah asyik membahas tentang batik, kita bisa bernafas segar dan melihat kehijauan di depan mata. Jadi, setelah berkeliling antar ruangan, saya baru menyadari bahwa bangunan ini berbentuk persegi dengan bolong di tengahnya yang digunakan sebagai ruang terbuka hijau.




Lanjut saya masuk ke dalam ruang workshop, yaitu ruangan yang digunakan untuk para pengunjung untuk mencoba membuat batik. Tidak mau rugi, maka saya pun mencoba untuk belajar membuat batik di sini. Dipandu dengan pak Norman, sang pembatik yang biasa mengajarkan membuat batik di museum tersebut maka saya pun dengan semangat ikut mencobanya. 

Tapi, ternyata membuat batik itu tidak semudah yang saya bayangkan. Saya membuat batik dengan sebuah alat yang dinamakan canting. Cara menggunakan canting tersebut juga sangat tidak mudah. Saya jadi pusing sendiri. Ternyata susah juga membuat batik tradisional, makanya tidak heran harga batik itu mahal.


Ada anak kecil yang ikut belajar membatik bersama saya. Dan dia sepertinya memang mahir dalam kepolesan tangan dan sudah terbiasa membuat batik. Saya malu sendiri, sudah dewasa tapi tidak bisa membatik. Padahal batik kan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia.

Setelah menggambar batik, saya kira sudah selesai tuh. Tapi ternyata prosesnya belum selesai juga. Batik harus dicelupkan lagi untuk menghasilkan warna. Dan itu, tidak hanya sekali dua kali. Tapi berkali - kali sampai warna yang di inginkan berhasil didapatkan. Sungguh saya tidak menyangka bahwa prosesnya sangat tidak mudah.

Begitulah sedikit cerita saya membatik sewaktu bermain ke kota batik, hasilnya sengaja tidak saya tunjukan karena memang gagal total. Tapi ya namanya masih pemula ya tidak apa toh? Semoga lain kali lebih baik. Dan buat kamu yang ingin mengunjungi museum batik tersebut bisa datang ke alamat Jalan Jetayu No.1 Pekalongan, Jawa Tengah. Dengan harga Rp 5000 kamu sudah bisa masuk ke dalam museum batik tersebut.

Ayo membatik!  Pertahankan warisan bangsa!


Salam, Pipi Bolong




Monday, August 7, 2017

Mencoba Seporsi Sate Taichan Senayan




Jika melewati kawasan Asia Afrika Senayan di malam hari, pasti banyak sekali pedagang makanan lengkap dengan gerobaknya berjejer rapi, itulah sate taichan. Sering melewati kawasan tersebut namun saya belum pernah mencoba. Akhirnya pada Sabtu lalu, saya pun mencoba untuk menikmati sate yang sangat populer di daerah senayan tersebut. 


Suasananya sangat ramai, banyak muda - mudi menghabiskan malam mingguan secara sukacita. Karena saya masih merasa muda, maka saya pun mewajibkan diri saya untuk mencoba. Tidak disediakan kursi di sini. Hanya meja dan alas di bawah meja tersebut, yang artinya kita makan secara lesehan. Ada banyak pedagang yang menyajikan sate tersebut, kita bisa memilih manapun yang kita suka.


Saya pun memesan seporsi sate taichan. Saya tidak berfikir sebelumnya apa itu sate taichan. Karena yang saya fikirin cuma kamu. Ternyata sate taichan adalah sate ayam yang dibakar tanpa bumbu. Jadi, saat disajikan sate tersebut berwarna putih. Awalnya saya kira satenya direbus ternyata tetap dibakar.


Sate taichan disajikan dengan bumbu kacang dan jeruk nipis, ditemani dengan seporsi lontong, saya pun mencobanya. Bila tidak kuat dengan rasa pedas, kita bisa memesan disajikan dengan kecap. Saat itu saya pesan satenya disajikan dengan bumbu kacang, sementara lontongnya disajikan dengan kecap.


Entah memang karena terbiasa dengan sate ayam yang biasa dibumbui, lidah saya menolak rasa sate tersebut. Di lidah saya, rasanya hambar walaupun sudah saya oleskan ke bumbu kacang. Lalu saya mencoba mengoleskan dengan kecap, rasanya lebih nikmat.


Di sekeliling saya, sepertinya sangat menyukai sate tersebut. Bahkan, di sebelah saya pun memesan dua porsi. Entah memang karena enak atau bagaimana. Saya pun bingung, atau memang lidah saya yang tidak terbiasa dengan sate tersebut. Tapi yang pasti, saya tidak pernah bingung tentang perasaan saya ke kamu.


Dengan harga Rp 25000 kamu sudah biasa menikmati sate tersebut. Terbilang murah untuk 10 tusuk sate yang disajikan. Jika lidah kamu sama seperti saya, terbiasa dengan bumbu sate ayam, ada alternatif makanan lain yang dijual. Ada beberapa yang menjual nasi goreng dan lainnya.


Sekian cerita saya tentang sate taichan senayan, tidak cocok dengan lidah saya bukan berarti tidak enak loh ya. Karena selera orang berbeda-beda. 


Salam, Pipi Bolong.


Saturday, August 5, 2017

Konspirasi Alam Semesta (REVIEW)

Judul : Konspirasi Alam Semesta
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : Mediakita
ISBN : 978 – 979 – 794 – 535 – 0
Rating : 4/5


Review

Buku ini merupakan albuk (album buku) dari seorang Fiersa Besari. Dipenuhi dengan lirik-lirik dari album tersebut dan tergambarkan menjadi sebuah cerita. 

Adalah seorang jurnalis,  Juang Astarajingga, bertemu dengan Ana  Tidae secara tidak sengaja di Palasari saat berburu buku. Saat pertama kali bertemu, Juang sudah mengingat dengan jelas bagaimana detail gadis itu. Beruntung semesta mempertemukan mereka kembali selang beberapa hari kemudian. Juang ditugaskan untuk meliput seorang sinden asal Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di mancanegara namun dilupakan di negerinya sendiri, Shinta Aksara. Dikarenakan Shinta Aksara sudah meninggal, maka yang akan diwawancara oleh Juang adalah putrinya yang tidak lain tidak bukan adalah Ana Tidae.

Semenjak pertemuannya dengan Ana, Juang kentara sekali sudah jatuh cinta pada gadis itu. Lain dengan Ana yang telah memiliki kekasih. Di puncak gunung Slamet, Juang pun memperjuangkan cintanya pada Ana. Seseorang yang mampu merubah perangainya. Seseorang yang dijadikan rumah untuknya berpulang kemanapun Juang berkelana.

Saat saya membaca buku ini, saya membayangkan menjadi seorang Ana Tidae, yang dicintai oleh Juang Astarajingga sepenuhnya. Membayangkan petualangan – petualangan Juang yang berpindah dari satu kota ke kota lainnya dalam meliput berita. Juga membayangkan sakitnya dan rindunya hati Ana ketika di tinggalkan oleh Juang dalam mengejar mimpinya.

Buku ini tidak hanya menceritakan tentang kehidupan dua orang kekasih, buku ini juga menceritakan tentang perjuangan hidup, mimpi, kasih sayang keluarga, dan juga persahabatan.

Fiersa Besari mampu membuat perasaan saya teraduk-aduk perih dan mata saya berkaca-kaca ketika semakin dalam saya membacanya. Adalah bab Nadir yang mampu membuat perasaan saya bergejolak hebat. Membayangkan seseorang yang selalu ada dikala susah maupun senang. Seseorang yang tidak pernah pergi ketika nyawa kehidupan benar-benat harus diperjuangkan. Saya tahu, mungkin banyak drama kehidupan di luar sana yang memang ada seperti ini, entah mengapa Fiersa Besari mampu menyihir saya jatuh cinta terlalu dalam pada bagian ini.

“Untuk urusan tidak mau melepaskanmu, hatiku memang keras kepala. Jadi, kabari saja kalau amarahmu mereda. Sudah kusiapkan setangkai rindu untukmu.” – Ana Tidae 

Gaya bahasa yang disajikan mudah dipahami namun puitis. Khas Fiersa Besari. Penuh dengan sajak dan pesan dalam buku ini secara tak tersirat. Mampu membuat kita paham akan arti sebuah kehidupan.

“Namun jatuh cinta memang bukan soal tipe, dan kita bisa terjatuh kapan saja tanpa isyarat. Mencintaimu, merupakan kejutan terindah yang pernah kehidupan berikan padaku. Dicintaimu, merupakan bingkisan yang lebih indah.” -Hal 202 - 203 

Sekian review dari saya,

Salam, Pipi Bolong.

Friday, August 4, 2017

Satu Hari Susur Langkah Jejak Weltevreden

Berawal dari ajakan seorang teman, yaitu Ade Nita. Admin Klub Sejarah dan Museum di bawah naungan Backpacker Jakarta. Saya bersama Ade Nita menyusuri jejak peninggalan Weltevreden. Di mulai dari Pasar Baru, sampai dengan Istana Daendels.

Nah, Weltevreden sendiri itu apa?

"Itu nama wilayah dari mulai senen, kwitang sampe lapangan banteng. Dulu Daendels mindahin pusat pemerintahan dari Stadhuist (sekarang museum Fatahilah) ke kawasan Weltevreden. Stadhuist terkontaminasi oleh wabah penyakit. Sedang area Welteveden itu subur dan asri." Ade Nita, 2017.

Langkah kaki kami pertama kali adalah Pasar Baru.




Pusat perbelanjaan ini dibangun pada tahun 1820 sebagai Passer Baroe sewaktu Jakarta masih bernama Batavia. Orang yang berbelanja di Passer Baroe adalah orang Belanda yang tinggal di Rijswijk (sekarang Jalan Veteran).Toko-toko di Passar Baroe dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok dan Eropa.

"Lu pasti enggak percaya kan ada rumah bersejarah yang tidak diruntuhkan di dalam pasar baru tersebut?" Ujar Ade Nita. Saya sering datang ke Pasar Baru. Tapi sepertinya tidak pernah menyadari ada rumah di sana. Maka, saya dan Ade Nita pun bergegas menuju ke dalam area Pasar Baru. Dan, benar saja. ada sebuah rumah yang entah milik siapa, berada tepat di atas toko pakaian.

Berdasarkan informasi dari Ade Nita, Itu namanya "Toko Kompak". Dinamakan seperti itu supaya keluarga pemiliknya kompak terus. Dulunya rumah seorang Mayor Tiongkok, bernama Mayor Tio Tek Ho. Dia menjabat sebagai Mayor di Batavia (Jakarta) pada tahun 1896-1908. Toko Kompak sekarang tidak dimiliki oleh keturunan sang Mayor. Tapi oleh seseorang bermarga Tan. Toko itu sekarang menjual pakaian. Tetapi, arsitektur interiornya masih asli. Perpaduan Tiongkok dan Eropa. Padahal umurnya sudah lebih dari 3 abad.






Setelah puas berkeliling Pasar Baru, kami mampir sebentar ke Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Untuk ulasannya bisa dibaca di sini.

Lanjut kami  menyebrangi langkah kami ke Gedung Filateli Jakarta. Saya memaksa Ade Nita untuk mampir ke gedung ini karena suka dengan arsitektur gedung ini. Dari informasi yang saya dengar juga bahwa gedung ini merupakan warisan arsitektur kolonial Belanda. Dahulu kala digunakan sebagai pelayanan jasa pos sebelum dipindahkan ke kantor pos yang terletak di Jl Lapangan Banteng. Saya tidak masuk kedalam gedung tersebut, dikarenakan sudah habis jam berkunjungnya. Cukup puaslah dengan berfoto-foto di pelataran gedung tersebut.

 



Selanjutnya adalah, Gedung Kesenian Jakarta.

Masih merupakan bangunan tua bersejarah peninggalan Belanda. Masih berdiri dengan megah sampai sekarang. Didirikan oleh Sir Stamford Raffles pada tahun 1814. Berfungsi sebagai tempat hiburan sampai sekarang.


  


Terpana di depan Gedung Kimia Farma,
Gedung tempat bertemunya anggota-anggota perkumpulan rahasia Vrijmetzelarij ‘de Ster van het Oosten, adalah gedung pusat Kimia Farma dan yang pada masa penjajahan Belanda disebut Stadtsschouwburg (teater kota), dikenal juga dengan sebutan Gedung Komidi. Dalam perjalanan sejarah, gedung yang berpenampilan mewah ini pernah digunakan untuk Kongres Pemoeda pertama pada tahun 1926. Di gedung ini pula, pada tanggal 29 Agustus 1945, Presiden RI pertama Ir. Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian beberapa kali bersidang di sana. Pada masa penjajahan Jepang nama gedung ini diganti menjadi Kiritsu Gekitzyoo, dan dipakai sebagai markas tentara. Pada tahun 50-an, gedung ini sempat dipakai sebagai ruang kuliah malam Universitas Indonesia. (Sumber Jakartapedia)

Kami cukup sampai halaman gedung tersebut. menurut security yang sedang berjaga, saat kami berkunjung masih ada pegawai yang sedang beraktivitas menyelesaikan pekerjaannya, oleh karena itu kami tidak berniat masuk. Takut-takut menganggu aktivitas pegawai yang sedang lembur.



Dan terakhir, tujuan utama kami adalah Istana Gedung Putih, Daendels

Bangunan yang berdiri megah, menghadap persis ke lapangan banteng. Bangunan yang kini sepenuhnya adalah milik Kementrian Keuangan. Dahulunya adalah Istana Daendels. Tempat kerja Daendels ketika memindahkan pemerintahan dari Stadhuist ke kawasan Weltevreden. Setelah gagal dijadikan istana, lalu dijadikan kantor keuangan pemerintah kolonial. Lalu gedung tersebut bertransformasi menjadi gedung milik kementrian keuangan dengan menteri pertamanya adalah A.A Maramis. Makanya istana itu tersebut juga dengan nama Gedung A.A Maramis.




Menurut security yang menemani saya dan Ade Nita berkeliling gedung, gedung tersebut masih sama seperti pertama berdiri. Namun, dengan kondisi yang berbeda tentunya. Terdapat sebuah batu yang bertuliskan 'MDCCIX Ondidit Daendels MDCCCXXVII Erexit Du Bus'. Sesuai dengan informasi dari Ade Nita, itu adalah batu terakhir dari pembangunan istana Daendels.



Kawasan Weltevreden mampu menyihir kami dengan pesona - pesona gedung tua peninggalan jaman kolonial Belanda. Saya berharap pemerintah akan terus menjaga keaslian gedung tersebut sampai nanti kelak. Sekian susur jejak langkah kaki saya kali ini bersama Ade Nita, semoga bisa menyusuri jejak lainnya di waktu yang berbeda pula. Terima kasih banyak Ade Nita, sudah mau menemani saya menyusuri kawasan Weltevreden dan berbagi informasi sejarahnya kepada saya.

Salam, Pipi Bolong.
 

Thursday, August 3, 2017

Menelisik Potret Kehidupan Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara

Berlokasi di Jl Antara no 59, tidak jauh dari pasar baru terdapat sebuah gedung bertuliskan infiniti dan sebuah bendera merah putih lengkap dengan tiang berdiri gagah di depannya. Tidak menyangka bahwa ini adalah galeri dan museum jurnalistik antara.

Bersama seorang teman, Ade Nita, saya mencoba untuk masuk ke dalam museum tersebut. Pertama masuk museum tersebut akan disambut oleh resepsionis yang menjaga museum tersebut. Kami mengisi buku tamu yang tersedia sebelum melanjutkan explore museum tersebut.

Ruangan tepat setelah pintu masuk adalah pameran fotografi dari masa ke masa. Menurut salah seorang yang menjaga resepsionis di depan sebelumnya, foto - foto tersebut berganti masanya beberapa waktu sekali. Entah satu bulan, dua bulan, bisa juga dalam hitungan minggu.



Tidak hanya itu, di lantai bawah terdapat sebuah patung seseorang dengan kaos hitam bertuliskan infiniti. yang sedang memotret sesuatu. Tampaknya lebih tepat potret patung seorang jurnalis yang sedang mengabadikan sesuatu.


In Frame : Ade Nita

Lanjut ke halaman sebelah terdapat banyak kursi dan meja. Sepertinya sudah di fungsikan untuk menjadi kafe yang bisa digunakan sebagai tempat workshop ataupun acara lainnya. Dinding pada ruangan tersebut pun sama dengan ruangan sebelahnya. Penuh dengan koleksi potret milik Antara dari masa ke masa. Ada satu hal yang menarik perhatian saya di sudut ruangan. Sebuah gambar tangan seorang anak, lalu disebelahnya ada sebuah tulisan yang bertuliskan "Sejarah itu penting dan tak akan mungkin bisa hilang" Lalu setelahnya kembali terpampang potret milik Antara.



Kembali ke ruangan sebelumnya, kami menaiki tangga menuju lantai 2. Di dinding bagian atas terdapat potret bapak proklamator kita sedang membacakan naskah proklamasi serta kanan kirinya dipenuhi dengan perkembangan berita antara dari tahun ke tahun. Sementara di dinding bagian bawah terdapat batu yang menempel di dinding tentang peresmian museum tersebut.

Lanjut ke lantai 2, sepertinya digunakan untuk menjadi museum oleh pihak Antara. Terdapat beberapa meja, kursi, poster - poster, serta komik yang melukiskan tentang sejarah. Sejarah pergerakan nasional, sampai ada juga tentang peninggalan orde baru oleh Soeharto.


In Frame : Ade Nita

Di langit - langit, terdapat berbagai macam poster. Poster tersebut dilapisi oleh kaca yang berada di dalamnya. Saya pribadi sangat suka dengan poster - poster yang tertempel di sana. 


Untuk kamu yang menyukai fotografi, sangat saya sarankan untuk datang ke museum ini. Tapi, untuk kamu yang menyukai saya, maka akan saya ajak kamu mengunjungi museum ini. Setelah berkeliling museum ini, akan saya ajak makan nasi bebek yang berada persis depan pasar baru. Intermezzo sedikit biar tidak terlalu serius, tapi saya tidak menolak jika di ajak serius. Sekian cerita saya kali ini.

Salam, Pipi Bolong.