Sunday, January 8, 2017

Pelarian Sederhana ke Purwakarta



Libur tiga hari itu rasanya selalu sayang kalo dibiarkan berlalu begitu saja. Enggak mau kejadiannya sama kayak si dia yang datang dan pergi, berlalu begitu saja. Maka dari itu, saya dengan partner trip saya kali ini, mbak Donna merencanakan sebuah 'pelarian sederhana'.


Kota yang kami tuju kali ini tidak jauh-jauh dari Jakarta. Alasannya karena kami juga mau banyak istirahat tapi menyayangkan kalo cuma liburan dirumah juga. Maka kami pilih liburan yang dekat dengan Jakarta tapi masih diluar Jakarta, selain itu juga enggak mau kalo jauh-jauh dari kamu. Aku susah kalo jauh dari kamu. 


Kalo difikir-fikir, kota diluar Jakarta tapi masih dekat dengan Jakarta juga banyak. Ada Bekasi, Bogor, Tangerang, juga hati kamu. Tapi, bukan kota-kota tersebut yang jadi pelarian kami kali ini. Yang menjadi pelarian kami kali ini adalah "Purwakarta".


Kenapa Purwakarta? Jangan tanya karena kami sendiri juga enggak tahu jawabannya.


Yang saya tahu adalah H-1 sebelum libur panjang Mbak Donna mencari-cari tiket kereta yang masih tersisa, dan Purwakarta adalah salah satunya. Maka malam itu juga beliau pesan tiketnya. Kami pesan kereta malam yang berangkat dari Stasiun Senen. Harganya lumayan juga. Sama kayak ke Bandung dengan menggunakan bus.


Padahal, kalo kami sabar sedikit ada kereta menuju Purwakarta yang murah di pagi hari langsung dari Stasiun Kota. Tapi gimana, kami bukan wanita-wanita penyabar. Jadi, kalo kamu nanti jadi sama aku harus sabar banget ya menghadapi sikapku yang sabarnya minus.


Pas hari H, dari kantor kami langsung menuju Stasiun Senen, di Stasiun Senen karena kami terlalu cepat sampai jadinya menunggu dulu deh. Menunggu itu emang enggak enak, apalagi kalo nungguin kamu sadar. Capek ujungnya.


Sembari menunggu, Mbak Donna browsing-browsing hotel murah di Purwakarta. Saya menekankan beliau harus mendapat yang murah karena ini masih awal bulan. Bisa meringis kantong saya kalo mahal-mahal. Dan dapatlah kami hotel yang terbilang lumayan murah. 


Pukul 21.00 tepat kami menaiki kereta menuju Purwakarta. Di kereta kami sibuk sendiri-sendiri. Mbak Donna sibuk dengan bukunya, saya sibuk galau meratapi jendela.


Pukul 22.30 kami sampai di Purwakarta. 


Jreng Jreng Jreng.... Mulai petualangan.


Walaupun telah memesan kamar hotel, ada satu yang kami lupakan. "AKSES MENUJU HOTEL." Bodohnya kami itu tidak memesan hotel yang dekat dengan stasiun malah asal pesan hotel. "YANG PENTING MURAH." Kami lupa kalo kami menaiki kereta malam dan sampainya malam juga. Mau nginap di stasiun rugi banget dong udah bayar kamar hotelnya.


Sambil memikirkan cara menuju hotel, saya iseng makan bakso malang depan stasiun. Sambil makan bakso, saya ngobrol sama akang baksonya. Saya iseng aja tanya soal hotel yang saya tuju dan bisa enggak kalo di akses dengan jalan kaki. Jawabanya adalah baik dan buruk


Pertama, Doi tau hotel tersebut.


Kedua, hotel tersebut tidak bisa di akses dengan jalan kaki. Jaraknya lumayan.


Yasudah miris sudah deh saya. Setelah saya habiskan baksonya saya lantang luntung di stasiun sambil setengah merem. Mbak Donna masih sibuk mencari cara menuju hotel tersebut. Dan, caranya ditemukan; ojek. Yang memberi saran adalah akang bakso malang yang tadi saya beli. Lah, saya baru kefikiran bukannya nanya via apa malah cuma nanya bisa jalan kaki atau tidak.


Ini pasti efek galau yang menjadikan saya tulalit.


Dengan menggunakan ojek yang harganya lumayan, sampailah kami dihotel tersebut. Udah cerita hari ini di akhiri karena emang sampai hotel langsung terlelap. Enggak ada cerita galau lagi.


Esok harinya, setelah cantik dan segar kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling Purwakarta.


Di Purwakarta ada apa? Enggak usah takut, banyak kok tempat wisata disini. Tapi memang hanya beberapa yang akan diceritakan karena emang ya itu aja yang kami kunjungi.


Pertama, Bendungan Jatiluhur.


Bendungan Jatiluhur merupakan terletak kurang lebih 9 KM dari pusat kota Purwakarta. Bendungan Jatiluhur merupakan bendungan terbesar di Indonesia. Akses menuju bendungan Jatiluhur sangat mudah. Dari Pusat kota menaiki angkot menuju Bunder, nanti dari Bunder bilang saja menuju Jatiluhur. Akan di arahkan oleh penduduk setempat.


Di Jatiluhur ngapain? Ada perahu, ada restoran, ada ini itu. Tapi, bukan itu yang kami cari. 


Yang kami cari adalah "kamu."


Eh kamu lagi, kamu mah jauh disana. kami kesini cari ketenangan.


Ya, kami para wanita-wanita galau ini memang sedang mencari tenang dan kedamaian. Rasanya tenang sekali. Kebetulan sampai sana masih pagi jadi masih lumayan sepi. Kami mencari spot yang nyaman dan tentram. Dari tempat kami berdiri, berjejer gunung-gunung disebrang sana, aktivitas para nelayan, dan hamparan air yang tiada batas.


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?





Bergerak dari bendungan Jatiluhur, masih bingung mau kemana. Akhirnya kami memutuskan menuju Wanayasa. Cukup jauh juga. Dari Ujung ke Ujung. Tapi kalo disuruh nyamperin kamu enggak akan terasa jauh kok. 


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, sampailah kami di Situ Wanayasa. Situ Wanayasa sendiri merupakan danau alam dengan luas kurang kebih 7ha, Berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Berlatar belakang Gunung Burangrang yang cantik dan rupawan. Sama kayak yang nulis, Manis. Cantik. Rupawan.


Ada sebuah pulau di tengah situ tersebut, dan di pulau tersebut ada sebuah makam. Yaitu makam RA. Suriawinata, salah satu pendiri Purwakarta dan pernah menjadi salah satu Bupati Karawang. Tadinya ada jembatan yang menuju pulau tersebut, namun baru sebulan lalu di hancurkan. Kurang jelas apa sebabnya. Begitu cerita ibu-ibu penjual sate Maranggi yang menjadi informan kami.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kami mengelilingi Situ Wanayasa tersebut. Lumayan menurut saya sih. Bersih dan tentram. Selain karena latar belakang gunung Burangrang juga ternyata ada hamparan sawah lagi. Rasanya kayak di belakang rumah nenek lah kalo kata anak muda jaman sekarang.




Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,
{QS. Qaaf : 50/ 7}











Udah puas main di kebon nenek? Kami balik ke pusat kota. Sesampainya di pusat kota, kami bingung mau kemana Akhirnya Mbak Donna memutuskan untuk ke alun-alun saja. Toh disana kan ada masjid, juga ada taman. Sekalian aja main kesana.


Cuma, kendalanya adalah kami tidak tahu cara menuju alun-alun. Sempat bertanya penduduk sekitar, dikasih clue harus naik angkot nomor sekian. Yaudah dengan pedenya saya stop angkot tersebut.


Bukannya nanya dulu, saya malah langsung masuk, pas udah mau duduk baru saya tanya.


"Kang, ini ke alun-alun kan ya?"


"Bukan Neng, bukan alun - alun."


Saat itu posisi saya masih setengah duduk, Mbak Donna dibelakang saya.


"Mbak, ini kita salah angkot bukan alun-alun. Gimana dong?"


Dengan cueknya Mbak Donna bilang


"Udah, naik aja dulu. Mau kemana liat nanti aja."


Yaudah saya duduk aja karena perintah beliau. Di angkot ada beberapa ibu-ibu, nanya mau kemana. Kami jawab mau ke alun-alun, lalu mereka bilang salah angkot. 


YA KAMI JUGA TAHU SALAH ANGKOT KAN AKANGNYA UDAH BILANG!


Dengan wolesnya Mbak Donna jawab, 


"Enggak apa-apa kami emang mau nyasar di Purwakarta."


Lalu, salah satu ibu-ibu bilang; 


"Ah nyasar di Purwakarta juga enggak akan hilang orang itu aja-itu aja."


Kami ngakak ngikik dan malah ngobrol SKSD sama ibu-ibu tersebut. Alhasil dengan kepedean kami, ibu-ibu tersebut nampaknya kasian dan membujuk sang akang untuk mengantarkan kami dulu ke alun-alun.


Rejeki anak sholehah!


Diturunkanlah kami di Masjid Agung Purwakarta yang terletak tepat bersebelahan dengan alun-alun. Setalah Ishoma dimasjid tersebut, saatnya kami tebat-tebar pesona di alun-alun. Kali aja pulang bisa bawa Akang buat dijadiin suami.


Alun-alun tersebut menjadi satu dengan kantor walikota Purwakarta. Terdapat macam-macam taman dengan kecantikan yang luar biasa sama seperti kecantikan saya. Di Pintu masuk taman juga ada lampion-lampion cantik yang menghiasi. Sama cantiknya kayak aku yang selalu dihiasi rindu kekamu.















Kemana lagi kami habis ini? Pulang. Iya pulang. Sekian dan terima kasih, HAHAHAHAHA.