Thursday, December 8, 2016

Bismillah, Semangat Bela Aksi Damai #212


Hai mujahid muda

maju kehadapan

sibakkan penghalang

satukan tujuan

kibarkan panji Islam dalam satu barisan

Bersama berjuang kita junjung keadilan

Jangan bimbang ragu

Tetaplah melaju

Hapus bayang semu

Di lubuk hatimu

Bergerak kedepan bagai gelombang samudra

Lantakkan tirani runtuhkan angkara murka


Majulah wahai mujahid muda

Dalam satu cita tegak keadilan

Singkirkan batas satukan kata

Kebangkitan Islam telah datang



Seminggu sudah berlalu, tapi euforianya masih terasa jelas banget. Peristiwa #212 mungkin akan menjadi salah satu bagian besar sejarah umat muslim Indonesia, dan saya sangat bangga menjadi salah satu bagian dari sejarah itu.


Masih teringat jelas banget, malam sebelumnya saya masih ragu untuk berangkat atau enggak. Masih bingung antara iya dan tidak. Tapi ternyata Allah maha menggerakan mata hari manusianya, Semua terjadi begitu saja.


Jumat 2 Desember, saya dan beberapa temen saya yang mendukung aksi tersebut berkumpul di daerah Cilandak, Tepatnya TB Simatupang. Bersama-sama kami menaiki motor menuju kawan Monas dan sekitarnya untuk turut serta dalam aksi damai 212. Selama perjalanan Alhamdulillah, tidak terkena macet atau halangan sedikit pun. Paling hanya rintik gerimis satu dua saja, itu pun juga tidak terasa.


Sesampainya daerah Monas, ternyata akses ke Monas sudah padat merayap. Akhirnya kami memutuskan untuk memarkir motor di daerah Sarinah. Kebetulan saat itu masih kosong juga. Dari Sarinah kami berjalan kaki menuju Monas.


Selama berjalan kaki, itu suasananya Masha Allah sangat menggugat hati. Banyak yang membagi-bagikan makanan dan minuman untuk para peserta secara sukarela. Takbir dimana-mana, sholawat dimana-mana. Rasanya yah, saya sendiri aja gemetar mau nangis ikut shalawat bareng-bareng. Kenal enggak kenal yaudah ikut aja sama-sama mengumandangkan takbir dan shalawat.


Semakin ke arah Monas, semakin padat. Akhirnya kami memutuskan untuk sampai Bank Mandiri saja. Karena para pria juga takutnya tidak bisa mendapat shaf untuk sholat Jumat karena memang sudah padat sekali.


Para pria pun duduk dihalaman Bank Mandiri, sementara saya dan salah seorang teman saya yang perempuan duduk ditepi gedung Bank Mandiri. Disinilah rasa keseruannya mulai.


Bayangin aja, massa yang jumlahnya jutaan seperti itu bisa digerakan dengan satu takbir dengan sempurna. Merinding banget serta rasanya mau nangis ketika bertakbir bersama-sama. Ada rasa beda sendiri didalam hati. Jika Allah sudah berkehendak memang tak ada yang tak mungkin. Bayangin aja, kadang mengatur orang yang jumlahnya sedikit saja susah ini mengatur orang yang jumlahnya jutaan, tertib dan aman.


Ada rasa yang berbeda ketika mengucapkan syahadat bersama-sama, menggerakan lisan mengucap “La Ilaha Illallah”, menangis didalam hati. Berucap syukur berkali-kali dilahirkan sebagai islam dan berkali-kali pula merasa lebih sakit dari sebelumnya bahwa Al-Maidah tersebut dicela.


Memang agak lebay sih tapi saya berasa banget di dalam hati ikut aksi tersebut. Udah aksinya tertib damai, bahkan tentram di jiwa pula. Tidak ada sedikit pun masalah atau kericuhan yang terjadi.


Menjelang sholat Jumat, hujan deras turun dikasih air untuk wudhu, mengingat untuk berjalan ke arah air susah sekali karena padatnya orang. Dan lagi, berdoa saat hujan deras adalah salah satu saat yang Mustajab untuk di ijabah. Jadi, buat mereka yang ngetawain karena kehujanan, sorry sorry to say nih yah kalian harus tahu ada 3 waktu yang Mustajab saat berdoa yaitu ketika sepertiga malam, di antara adzan dan iqomat, dan ketika hujan deras berlangsung. Masih mau ngetawain?


Entah kenapa, saat adzan berkumandang rasanya mau nangis. Yang tadinya ramai takbir dan lain-lain mendadak hening dan langsung mendengarkan adzan dari hati yang terdalam. Keren kan, bisa mengatur barisan dengan sempurna juga membuat tertib hening dengan sempurna. Islam itu keren!


Bukan itu aja, yang buat makin terharu adalah ketika hujan deras berlangsung tidak ada seorang pun yang melangkahkan keluar dari barisan. Semua tetap rapi dan ada dalam barisan. Sama-sama ada dibarisan membela agama Allah, semoga kita semua selalu diberi kekuatan untuk membela agama Allah.


Tepat pukul 13.00 semua dengan tertib membubarkan barisan. Saya sendiri pun ikut membubarkan diri. Ditengah perjalanan menuju kembali ke sarinah, saya melihat banyak orang membagi-bagikan makanannya dengan sukrarela. Ada yang membagi-bagikan nasi, ada yang membagi-bagikan minuman, ada juga tukang buah yang membagi-bagikan buahnya begitu saja. Bebas mengambil apa saja digerobaknya. Semoga pahala dan rejeki selalu mengalir ke tukang buah tersebut.


Sesampainya di sarinah pun saya baru sadar kalo motor parkir dekat atribut polisi. Ada tameng dan lain-lainnya. Itu semua tidak terpakai. Utuh rapi ditempat. Terbukti sekali kalo kami tertib dan lancar serta tidak menimbulkan kerusuhan.


Bahkan ya, sebelum pergi pun ada beberapa yang protes dan gak suka sama tindakan saya yang ikut aksi. Toh saya sih biar aja, mereka enggak rasain apa yang saya rasain. Mereka enggak ngerasa sakitnya ketika apa yang dibaca setiap hari di nistakan. Rasa sakitnya ada dalam hati, bukan di mulut.


Sejatinya enggak bisa bilang apa-apa karena rasanya tuh aksi ini udah masuk kedalam hati banget. Semoga kelak kita semua ada dibawah panji islam dalam naungan Rasulullah di akhirat kelak.



“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
 (QS. Al Maidah:54)

3 comments: